Dalam perjalanan pulang, Aku memilih diam. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Khawatir dengan keadaan Muti di rumah. Meski ia pernah menghadapi berbagai macam bahaya selama konflik, tapi ia kini adalah istriku. Aku tak mau ia terluka karena keputusan politik yang aku buat.
Sedangkan Rambo terlihat lebih tenang. Ia menyetir dengan baik dan tidak banyak bertanya. Demikian juga dengan Rusli. Ia bahkan terlihat tidur dengan sangat lelap di deretan kursi belakang mobil.
Berkali-kali pandanganku melihat Rusli yang mendengkur keras dari arah belakang.
“Apa Rusli tak tidur dengan nyaman selama di Kutaradja?” tanyaku pada Rambo. Namun sosok itu cuma tersenyum tipis. Ia hanya menjawab dengan penuh filosofis.
“Perubahan tiba-tiba itu, terkadang tak baik bagi tubuh. Terutama Rusli. Tubuhnya masih syok berat,” ujarnya penuh arti.
“Maksudnya?” selidikku lagi. Rambo kembali tersenyum.
“Kau tahu jika kehidupan Rusli dan almarhum Rahmad itu, dari keluarga yang sangat miskin. Rumahnya hanya semi permanen dengan dua kamar di Nisam. Semenjak Rahmad menikah, secara otomatis kamar kedua jadi milik istri almarhum. Satu lagi kamar milik orangtuanya,” kata Rambo.
“Jadi Rusli hanya bisa tidur di Meunasah jika malam tiba. Saat bergabung dengan kita, ia terbiasa bermalam di hutan rimba. Kini selama setahun damai, ia kembali bermalam di Meunasah. Almarhum istri Rahmad masih tinggal dengan orangtua Rusli.”
Penjelasan Rambo ini membuatku menghelai nafas panjang.
“Rusli masih belum terbiasa dengan kasur yang empuk dan guling yang nyaman seperti di hotel dan markas kita di Lamnyong. Kulihat dia sering terkejut di malam hari dan seperti mencari sesuatu,” kata Rambo lagi.
“Dia hidup serba kekurangan dari kecil. Saat bergerilya yang lapar berhari-hari, tentu tak masalah. Namun di hotel justru tersaji makanan enak dan roti. Mungkin perutnya belum terbiasa mencerna,” ujar Rambo sambil tetap focus mata kedepan.
Senyumku mengembang mendengar penjelasan Rambo. Sosok itu memang pandai menghibur. Walaupun sebentar, masalah yang sedang kupikirkan seolah menghilang.
“Kalau begitu, biarkan dia bersamaku untuk beberapa hari selama di Lhokseumawe. Biar Muti memperbaiki gizinya,” tandasku.
Aku kemudian terdiam beberapa saat. “Alat berat milik Rusli juga sebaiknya aku yang simpan,” ujarku singkat. Namun penjelasanku justru membuat Rambo terdiam.
[Bersambung]
Baca juga
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 21
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)






![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)


