Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Cerbung

Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 34

redaksi by redaksi
03/11/2026
in Cerbung
0
Sang Kombatan [Jilid 2]

Pengkhianat

Lhokseumawe,  Pertengahan 2006

MUSA menarik nafas panjang. Ia berulang kali menarik rokok Dji Sam Soe miliknya dalam-dalam. Asap mengepul di udara. Kopi Ginseng ‘Bang Lah terasa pahit. Padahal biasanya, kopi itulah minuman favoritnya selama ini.

Suasana terasa hening. Hanya suara klakson mobil yang terdengar. Maklum, Warung Bang Lah berdiri tak jauh dari jalan raya.

Di depan, dua puluhan pasukan eks pengawal Kantor Wilayah Pase menatapnya dengan seksama. Tak ada yang absen, kecuali mereka yang ditugaskan mendampingi Bang Yan.

Mereka biasa selalu ribut saat bertemu. Namun kali ini tak ada yang buka suara.

Siang tadi, Musa meminta Rambo untuk mengirim pesan ke seluruh pasukan agar berkumpul di belakang Warung Bang Lah usai Magrib. Hanya eks pasukan pengawal Kantor Wilayah. Tak ada yang boleh absen. Kecuali yang sedang bertugas di Kutaradja. Mereka yang di Kutaradja pun akan diberitahu apapun hasil kesimpulan malam ini.

Pesan tersebut kemudian diteruskan Rambo dan di sinilah kami malam ini.

Kemarin malam, didampingi Rambo dan Rusli, kami menghadap Panglima Nanggroe di Lhokseumawe. Namun hanya aku yang diperbolehkan masuk. Sedangkan Rambo dan Rusli harus bergabung dengan Ableh dan pasukannya berjaga di pintu masuk rumah panglima.

Di dalam, ada seorang yang mengaku utusan elit Swedia, aku dan sang panglima sendiri. Aku diam-diam menyertakan ‘alat berat’ milik Rusli dibalik baju. Untungnya, Ableh tak mengeledah baju-ku saat masuk.

Alat berat ini hanya kusiapkan skenario bila sosok yang pernah memberi ‘paket besar’ datang. Sekedar balas gertakan. Namun yang aku khawatir tak terjadi.

Sosok utusan elit dari Swedia pun dipastikan berbeda dengan mereka yang berkunjung ke rumah Muti.

Di ruang tamu, kami bertiga bicara soal perkembangan politik yang terjadi hingga keluhanku soal teror yang dihadapi keluarga. Kami juga bicara soal kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi.

Dari pertemuan itu, aku tahu bahwa ‘jalan politik’ kedepan akan sangat terjal. Air kolam akan semakin keruh.

Dalam perjalanan pulang, aku menceritakan setiap bagian terdetail dari pertemuan itu kepada Rambo dan Rusli. Mereka mengeluarkan keringat dingin. Kami menyimpulkan agar kondisi ini perlu diketahui oleh semua anggota pasukan. Minimal eks pengawal wilayah.

Hal ini pula yang membuat Rambo dan Rusli terdiam sejak datang ke Warung Bang Lah malam ini.

“Ada dua hal yang ingin aku sampaikan pada kalian semua,” ujarku buka suara.

“Pertama, elit di Swedia akan segera mengumumkan calon pimpinan Aceh. Sosok yang diusung kemungkinan besar akan berbeda dengan calon independent,” kataku sambil menarik nafas panjang.

“Dengan kata lain, aku mengundang kalian semua di sini untuk memilih. Mendukung independent berarti kita harus siap-siap berhadapan dengan kelompok yang mendukung keputusan Tetua di Swedia. Artinya, kita akan saling berhadapan dengan rekan kita sendiri.”

Suasana hening. Tak ada yang berani bicara.

“Panglima Nanggroe katanya netral. Ia tak mendukung siapapun,” ujarku lagi.

“Gedebukk…” Seseorang memukul meja dari depan. Ia terlihat kesal. “Kenapa Panglima tak memperjelas sikap? Kalau netral sama artinya kita berhadapan dengan sesama. Ini saling menghancurkan. Akhirnya menang kalah jadi abu,” ujar Ridwan.

Aku tak menanggapi. Demikian juga seluruh anggota yang hadir. Aku hanya ingin memberitahu kondisi rill ke semua.

“Bagaimana kalau kita juga netral seperti sikap panglima?” ujar Rambo memberi argumen. Ini mungkin sikap terbaik versi panglima.

Aku menghelai nafas. Kutarik Dji Sam Soe yang tinggal setengah.

“Artinya, seluruh pasukan Pengawal Wilayah yang di Kutaradja harus segera ditarik. Bang Yan kita tinggalkan seorang diri. Ia dan mereka yang berada dalam struktur pemenangan independent akan menjadi tumbal.”

[Bersambung]

Tags: Musa AMsang kombatanSang kombatan jilid 2
Previous Post

UIN Ar-Raniry dan Pijar Foundation Jalin Kerja Sama Perkuat Akses Pendidikan Mahasiswa Disabilitas

Next Post

Wakil Ketua IPELMASRA Minta Dugaan Skandal Rumah Dinas Diusut

Next Post
Ohku, Ketua DPRK Nagan Raya Digerebek Istri Saat ‘Berduaan dengan Wanita’ di Rumah Dinas

Wakil Ketua IPELMASRA Minta Dugaan Skandal Rumah Dinas Diusut

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Susi Air Kembali Beroperasi di Nagan Raya, Bupati TRK: Perkuat Konektivitas dan Buka Peluang Investasi

Susi Air Kembali Beroperasi di Nagan Raya, Bupati TRK: Perkuat Konektivitas dan Buka Peluang Investasi

03/11/2026
Ustazah Hazra Ingatkan Santri Al Zahrah Optimalkan Waktu Jelang Ujian

Ustazah Hazra Ingatkan Santri Al Zahrah Optimalkan Waktu Jelang Ujian

03/11/2026
Tanoh Gayo Kehilangan Tokoh Inspiratif, Syahrial Enang-Enang Berpulang

Tanoh Gayo Kehilangan Tokoh Inspiratif, Syahrial Enang-Enang Berpulang

03/11/2026
Hari Pers Nasional Milik Siapa? Firdaus Dipecat Gara-gara Minta Keadilan

Hari Pers Nasional Milik Siapa? Firdaus Dipecat Gara-gara Minta Keadilan

03/11/2026
Ohku, Ketua DPRK Nagan Raya Digerebek Istri Saat ‘Berduaan dengan Wanita’ di Rumah Dinas

Wakil Ketua IPELMASRA Minta Dugaan Skandal Rumah Dinas Diusut

03/11/2026

Terpopuler

Saat Kenduri Maulid Jadi Panggung Perlawanan

Saat Kenduri Maulid Jadi Panggung Perlawanan

02/11/2026

Sukandi Salah Minum Obat : Abas Jadi Corong Ala, Farid Wajidi Bongkar Kejanggalan Pengurus Nya

Ohku, 81 Situs Cagar Budaya Pidie Jaya Terancam, Masjid Berusia 400 Tahun Diterjang Lumpur

Enam Desa di Aceh Barat Terendam Banjir Akibat Luapan Sungai

Setahun Pascabanjir Besar, 18 Gampong Pidie Jaya Kembali Dikepung Air

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com