LHOKSEUMAWE – Persoalan narkoba di Aceh dinilai kian memasuki tahapan yang mengkhawatirkan. Para pecandu juga datang dari berbagai jenjang sosial masyarakat.
Hal ini disampaikan Teungku Muhammad Nur M.Si, Pimpinan Pesantren Tabina Aceh, di sela-sela sosialisasi bahaya narkoba dan penolakan pornografi bagi santri di Pesantren Tabina Aceh, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhoksemawe, Senin, 29 Maret 2021.
“Ini persoalan serius yang memerlukan penanganan segera. Harus ada kepedulian dari semua pihak,” kata Teungku M. Nur.
Di sisi lain, kata Teungku M.Nur, lembaga yang fokus untuk rehab pecandu narkoba masih sangat sendiri di Aceh.
“Atas dasar kesadaran tadi, kita coba berbuat sebisa mungkin. Pesantren Tabina ini kita gerakan untuk berjuang mengatasi persoalan tadi,” katanya.
Teungku M. Nur juga menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan Dayah Aceh terhadap upaya-upaya pemberantasan peredaran narkoba di Aceh.
“Selama ini di dayah kami membina para korban dari penyalahgunaan narkoba, mereka setiap hari dididik untuk dapat kembali ke jalan yang benar.”
“Selain itu, mereka juga diajarkan ilmu agama dan kitab kuning sehingga suatu saat nanti dengan usaha kita semua, mereka dapat kembali diterima dengan baik oleh keluarga dan masyarakat,” kata Muhammad Nur.
“Berbagai usaha akan kita laksanakan dalam memerangi narkoba di Aceh, karena sudah sangat meresahkan kita, apalagi mengancam setiap sendi kehidupan baik yang tua maupun yang muda, untuk itu mohon dukungan semua pihak,” pintanya.
Sementara itu, acara sosialisasi bahaya narkoba sendiri, menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Dayah Aceh, Zahrol Fajri, SAg, MH, Pimpinan Dayah Darul Mudaris Jungka Gajah Abati Dahlan, serta perwakilan Polres Lhokseumawe.










