SEORANG pria muda memasang wajah serius. Ia bersandar di dekat pokok pohon yang terbilang rindang.
Matanya dipejam. Mulutnya terlihat komar-kamit. Sedangkan tangannya memegang Alquran.
Alquran itu dalam posisi tertutup. Jari kanannya disusup di halaman tertentu.
Sesekali ia mengaruk kepalanya. Ia mengeser peci hitam ke samping kiri dan kanan. Kemudian matanya kembali mengarah ke Alquran.
Ia kemudian kembali komar-kamit.
Aktivitasnya terhenti saat melihat tim atjehwatch.com bertandang ke sana pada akhir Maret 2021 lalu.
“Masuk saja ke dalam teungku. Di sana ada ustad-ustadzah yang sedang mengajar. Nanti di sana bisa ditanyakan langsung,” ujar dia.
Tangannya menuju ke arah depan. Di sana ada sebuat plamplet bertuliskan Madrasah Ulumul Qur’an (MUQ) Pidie.
Memasuki komplek dayah ini. Suasana reliji terasa amal kental.
Beberapa ruang yang dilalui, terlihat para santri dan santriwati memegang Alquran. Tiap ruangan juga ada para guru yang terlihat sibuk membenarkan bacaan para santri.
Kegiatan para santri yang menyetor hafalan Alquran ini merupakan pemandangan umum yang tersaji di sana setiap harinya.
Ada juga gedung-gedung dengan cat baru di sana.
Ya, sesuai dengan namanya, MUQ Pidie merupakan Lembaga yang didirikan untuk mendidikan anak-anak dari ‘negeri Pedir’ menjadi penghafal Alquran.
Dari berbagai sumber diketahui, MUQ Pidie dibentuk dan didirikan berdasarkan surat keputusan Bupati Pidie nomor 636 tahun 2006 tertanggal 16 Agustus 2006 dan diresmikan oleh Bupati Pidie Ir. H. Abdullah Yahya, MS pada 15 Nopember 2006 di lokasi Balai Pengajian Al-Amin Tijue Kecamatan Pidie.
MUQ pada saat pertama berdiri dan diresmikan memiliki 15 orang santri terdiri dari 7 orang santri laki-laki dan 8 orang perempuan dan 4 orang ustadz dan ustadzah, dengan program khusus Tahfizhul Qur’an (menghafal Qur’an).
Sementara biaya penyelenggaraan seluruhnya dibebankan pada APBK Kabupaten Pidie dan berlangsung sampai dengan saat ini.
Para santri di samping menghafal Al-Qur’an juga mengikuti pendidikan formalnya di madrasah dan sekolah umum yang terdekat dengan asrama MUQ diantaranya di komplek pelajar Tijue dan sekitarnya.
Pada 2009, semua aktifitas belajar mengajar dipindahkan ke kampus baru yang berlokasi tidak jauh dengan komplek balai pengajian Al-Amin ± 300 meter, yaitu di Jalan Tijue – Cot Teungeh No. 30 Tijue Kecamatan Pidie.
Pembangunan kampus tersebut dibantu oleh pemerintah Kabupaten Pidie, Badan Dayah Propinsi Aceh, dan Ibrahim Saleh, SH, serta para dermawan dari anggota DPRD Aceh periode 2004-2009.
Kini, setelah 16 tahun, aktivitas di MUQ Pidie berkembang dengan pesat. Baik dari segi fasilitas maupun prestasi yang diraih oleh para santrinya.

Pimpinan MUQ Pidie, Drs. H. Malek Kasem, mengatakan dayah yang dipimpinnya tersebut kini memiliki 467 santri dari semua tingkatan dengan sekitar 40 guru atau ustad yang mengajar.
Menurutnya, pendidikan khusus yang diselenggarakan di MUQ adalah menghafal Al-Qur’an 30 juz (tahfizh penuh).
“Kendati demikian para santri disamping menghafal Al-Qur’an juga mengikuti pendidikan formal yang diselenggarakan di Kampus MUQ yaitu di MTsS-UQ, SMP-UQ, dan SMAN-UQ. Namun tidak mengurangi kualitas dan kemauan para santri dalam menghafal AlQur’an,” katanya.
“Alhamdulillah sejak berdirinya Nopember tahun 2006 sampai saat ini MUQ telah menghasilkan 45 hafizh dan hafizhah yang telah menyelesaikan hafalannya sampai dengan 30 juz.”
Misi MUQ Pidie, adalah mempersiapkan lulusan yang mampu menghafal Al Qur’an 30 juz beserta tafsirnya, mendidik generasi muda yang berwawasan dan berakhlak Qur’ani, mencetak kader Imam yang Fashih dan memahami isi kandungannaya, menciptakan Muballigh dan muballighah, serta menghasilkan lulusan yang memiliki keunggulan kompetitif dalam pelaksanaan Syari’at Islam.
“Kita yakin ini bisa,” kata pimpinan itu.
Adapun prestasi yang diraih, seperti peringkat ke 5 pada MTQ Aceh ke XXXIII di Idi Aceh Timur, serta sejumlah prestasi lainnya.
“Semua ini tak terlepas dari kerjakerja para guru dan dukungan semua pihak di Pidie,” katanya.
Fasilitas MUQ Pidie
Tanah seluas 10300 M2
1 unit gedung Asrama putra
1 unit gedung asrama putri
1 unit dapur umum (Sementara)
1 unit Mushalla
4 unit rumah ustadz dan ustadzah
1 Unit Gedung MTS Ulumul Quran
1 Unit Gedung SMAN Ulumul Quran
3 unit balai pengajian.
4 unit kenderaan roda dua
1 unit mobil santri
1 unit minibus
3 unit sumur bor
2 unit isi ulang
[Advertorial]
Tulisan ini merupakan hasil kerjasama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dengan atjehwatch.com dalam rangka promosi wisata islami (dayah) di Aceh.










