Jakarta – Pengadilan India pada Jumat, 18 Februari 2022, menjatuhkan hukuman mati kepada 38 terdakwa atas keterlibatan mereka dalam serangkaian ledakan bom di Kota Ahmedabad pada 2008 silam. Pengadilan juga memvonis dan 11 terdakwa lainnya dengan hukuman penjara seumur hidup dalam kasus ini.
Ledakan bom Kota Ahmedabad pada 2008, menewaskan lebih dari 50 orang. Ledakan itu menjadi guncangan besar bagi warga di negara bagian barat Gujarat, India.
Serangan bom pada 2008 tersebut, diduga buntut dari kerusuhan antara umat Hindu dan Muslim di Gujarat pada 2002. Kerusuhan tersebut menewaskan ribuan orang, yang sebagian besar umat Muslim. Sebuah kelompok yang disebut “Mujahidin India” mengaku bertanggung jawab atas ledakan, yang persisnya terjadi pada 26 Juli 2008.
Seperti dikutip dari Hindu Post pada Sabtu, 10 Februari 2022, secara kronologis peristiwa horor pada Sabtu malam itu terjadi persis pada jam sibuk 18.41 atau saat warga Ahmadabad kembali ke rumahnya. Beberapa kantor berita menerima email setebal 14 halaman dari kelompok Mujahidin India dengan judul diantaranya, “Tunggu 5 menit untuk balas dendam Gujarat”.
Ledakan pertama dimulai pada pukul 18:45 dan terdengar dari berbagai sudut kota secara berkala. Total ada sekitar 21 ledakan yang terjadi di 14 lokasi berbeda di Kota Ahmadabad dalam tempo 70 hingga 80 menit berikutnya. Ditemukan pula IED (alat peledak improvisasi) yang tidak meledak.
Ambulans berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan para korban luka. Ketika berita menyebar, orang-orang berkumpul di Pusat Trauma yang terhubung dengan Rumah Sakit Sipil Ahmedabad. Mereka ada di sana untuk membantu korban luka-luka, untuk merawat kerabat mereka yang terluka dalam serangan itu, atau untuk mendonorkan darah.
Teroris yang menunggu momen ini, lalu meledakkan bom di Trauma Center dengan mobil bermuatan IED. Ini adalah pertama kalinya rumah sakit menjadi sasaran teroris di Bharat.
Pengeboman di rumah sakit itu merenggut 37 nyawa dan sebagian besar dari mereka yang tewas telah bergegas untuk mendonorkan darahnya kepada para korban yang terluka. Dampak ledakan itu begitu parah sehingga semua orang di rumah sakit mengalami gangguan pendengaran (tuli) untuk sementara waktu.
Serangan Ahmedabad tersebut terjadi dalam tempo sehari setelah tujuh ledakan menewaskan dua orang dan melukai 20 orang di pusat teknologi selatan Bengaluru pada 25 Juli 2008. Di antara korban tewas yang dikonfirmasi di Bengaluru adalah seorang perempuan yang menunggu di halte bus, sementara suaminya dan satu orang lainnya mengalami luka serius.
Nama kelompok Mujahidin India menjadi populer setelah mereka mengklaim serangan atas serangkaian pemboman di yang terjadi di Jaipur pada 13 Mei 2008. Sembilan ledakan bom serempak dalam rentang waktu 15-20 menit di berbagai lokasi yang merenggut nyawa 63 orang tak berdosa dan melukai 216 orang terjadi kala itu.









