Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Sejarah

Charles Bidien; Kisah Putra Aceh yang ‘Sengaja’ Dilupakan Indonesia

Admin1 by Admin1
22/04/2022
in Sejarah, Sosok
0
Charles Bidien; Kisah Putra Aceh yang ‘Sengaja’ Dilupakan Indonesia

MEDIA-MEDIA Amerika menulisnya dengan nama Charles Bidien. Tak ada yang tahu nama aslinya. Tapi ia putra kelahiran Aceh. Perjuangannya ditutup rapat usai Indonesia merdeka.

Charles Bidien memimpin aksi sejumlah demotrasi di Amerika untuk menentang penjajahan Belanda. Namun hidupnya justru terlunta-lunta usai Indonesia merdeka serta berakhir dengan gantung diri di rumah kontrakan di Kalibata.

Makamnya berada di Kalibata Tengah, Jakarta Selatan. Kondisi makam tak terurus dan rusak. Padahal jasanya sangat berarti bagi republic ini.

“Itu makam Charles Bidien. Orang Aceh yang menjual obat,” ujar Mohammad Ali, 94 tahun, pria kelahiran Pasar Minggu, seperti dikutip dari historia.id.

Artikel tentang Charles Bidien dimuat oleh Historia pada 22 November 2018 lalu. Tak ada kejelasan apakah Mohammad Ali masih hidup hingga sekarang.

Konon, Charles Bidien merupakan seorang putra Aceh yang memimpin aksi-aksi demonstrasi dan boikot di pelabuhan-pelabuhan di Amerika. Tercatat diantaranya aksi ini berhasil menahan sebelas kapal Belanda di pelabuhan New York yang akan mengangkut perlengkapan perang yang diperoleh dari pemerintah AS.

Tak hanya itu, iapun giat dalam organisasi dan media perlawanan. Bidien tercatat sebagai wakil Prof Dirk Jan Struik, seorang marxist dan sejarawan matematika dari Massachusetts Institute of Technology dan memimpin Komite Amerika untuk Indonesia Merdeka, editor Indonesian Review dan konsultan di Commite for a Democratic Far Eastern Policy.

Namun hidup Charles Bidien, berakhir tragis hingga menjelang kematian ia menjadi pedagang kakilima (penjual obat) yang tidak begitu laris di bilangan kramat raya.

Dikutip dari perpustakaanonline berjudul ‘Melacak Jejak Charles Bidien’, Martin Aleida seorang penulis dalam memoarnya, juga mengisahkan perjumpaan dengan Charles Bidien sebagai sesama pedagang kaki lima.

Martin mengisahkan Bidien menggelar klipingan koran-koran yang meliput aksi-aksi heroik para buruh pelayaran yang berdemontasi di pelabuhan-pelabuhan AS, diantaranya foto ketika Bidien sedang berorasi di lapak obatnya.

“Seorang di antara pedagang kakilima itu menyampaikan kabar, yang disiarkan sebuah koran kuning, bahwa Charles Bidien ditemukan meninggal gantung diri di rumah kontrakannya di daerah Kali Bata. Mendengar kabar duka itu hati saya luluh, walau saya tak sampai menitikkan air mata, karena kepergian tetanggaku itu. Tragis. Dia yang layak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di dekat situ, malah disiksa keputusasaan dan memaksa dirinya untuk bertemu dengan ajalnya dengan ketetapan hati yang mematikan.”

Selain itu Martin Aleida juga mengangkat kisah Charles Bidien dalam karya fiksi cerpen Elegi untuk Anwar Saeedy yang dimuat di koran Kompas dan majalah Matra. Cerpen itu diterbitkan kembali dalam antologi cerpen “Kata-kata membasuh Luka.“

“Pasca Perang Dunia II, banyak rakyat Amerika Serikat (AS) menentang imperialisme Eropa di Asia, termasuk upaya Belanda kembali bercokol di Indonesia. Mereka mengirimkan surat kepada Departemen Luar Negeri AS untuk menyatakan keprihatinan dan dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia. Mereka juga menunjukkannya dalam bentuk demonstrasi yang digalang organisasi-organisasi prokemerdekaan Indonesia. Salah satunya organisasi Komite Amerika untuk Indonesia Merdeka (American Committee for Indonesian Independence).”

Salah satu aksi mereka terjadi pada 19 Oktober 1945. Kala itu kaum buruh pelayaran Indonesia melakukan pemogokan dan demonstrasi yang berhasil menahan sebelas kapal Belanda di pelabuhan New York yang akan mengangkut perlengkapan perang yang diperoleh dari pemerintah AS.

“Karena perjuangan kaum buruh pelayaran Indonesia yang gigih dan juga karena setiakawan Serikat Buruh Pelayaran Amerika Serikat (National Maritime Union of USA), alat-alat perlengkapan perang Belanda terpaksa dibongkar lagi,” tulis Sidik Kertapati dalam Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945. Aksi buruh pelayaran itu dipimpin orang-orang Indonesia sendiri, termasuk Charles Bidien.

“Komite Amerika untuk Indonesia Merdeka dipimpin oleh sejarawan matematika dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) AS, Prof Dirk Jan Struik. Wakilnya adalah Charles Bidien, orang Indonesia yang juga jadi editor Indonesian Review,” publikasi komunis AS yang diterbitkan Komite.

Kini, setelah sekian tahun Indonesia merdeka, tak ada tahu soal perjuangan Charles Bidien. Namun ia tidak sendiri. Ada juga catatan Teuku Makam yang memiliki peran penting untuk republic ini tapi dimiskinkan selama Orde baru.

Previous Post

Putra Khofifah dan Ketua DPD La Nyalla hingga 10 Kepala Daerah Gabung Demokrat Jatim

Next Post

DPD II Partai Golkar Gayo Lues Buka Puasa Bersama dengan Ulama dan Anak Yatim

Next Post
DPD II Partai Golkar Gayo Lues Buka Puasa Bersama dengan Ulama dan Anak Yatim

DPD II Partai Golkar Gayo Lues Buka Puasa Bersama dengan Ulama dan Anak Yatim

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Ketua DPRK Dukung Forkom KDMP Banda Aceh Jadi Motor Penggerak Kemandirian Gampong

Ketua DPRK Dukung Forkom KDMP Banda Aceh Jadi Motor Penggerak Kemandirian Gampong

21/04/2026
Mendagri Ingatkan Pentingnya Tata Kota Terarah di Aceh

Mendagri Ingatkan Pentingnya Tata Kota Terarah di Aceh

21/04/2026
Aceh Rebut Delapan Medali di Kejurnas Angkat Besi Senior

Aceh Rebut Delapan Medali di Kejurnas Angkat Besi Senior

21/04/2026
Nyan, Petani Sawit Aceh Masih Berjuang Pulihkan Kebun

Nyan, Petani Sawit Aceh Masih Berjuang Pulihkan Kebun

21/04/2026
Al- Farlaky Kukuhkan Pengurus DPC APDESI Aceh Timur 2026-2031

Al- Farlaky Kukuhkan Pengurus DPC APDESI Aceh Timur 2026-2031

21/04/2026

Terpopuler

Obat Kosong hingga Mogok Dokter di RSUD Aceh Besar, Zulfikar DPRK: Ini Seperti Tentara Disuruh Berperang tanpa Senjata

Obat Kosong hingga Mogok Dokter di RSUD Aceh Besar, Zulfikar DPRK: Ini Seperti Tentara Disuruh Berperang tanpa Senjata

20/04/2026

BGN Perkuat SPPG Pidie: Profesionalitas Dijaga, Hoaks Dilawan, UMKM Didorong

Charles Bidien; Kisah Putra Aceh yang ‘Sengaja’ Dilupakan Indonesia

Apel Senin di Disdikbud, Plt Sekda Abdya Minta Tempat Meusuraya Lemang Dibersihkan

Ratoh Jaroe Disebut “Industri”, Budayawan Aceh: Tradisi Asli Justru Tergeser

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com