Jakarta – Banjir yang melanda wilayah Aceh menyisakan dampak bagi petani sawit. Di beberapa titik, lumpur menutup jalur panen yang biasa mereka lewati setiap hari. Parit yang dulu mengalirkan air kini dipenuhi endapan. Di sela barisan pohon, pelepah dan sisa material yang terbawa arus pun masih tertinggal.
Salah satu perubahan yang paling dirasakan adalah akses menuju kebun. Beberapa jalur sempat tertutup akibat longsor, sementara jembatan di sekitar lahan juga roboh. Kondisi itu membuat hasil panen tidak bisa langsung diangkut seperti biasa.
“Kalau langsung kerja, bisa-bisa malah celaka. Tanahnya masih labil, banyak jalan yang masih tertutup lumpur,” kata petani sawit di Pidie Jaya, Aceh, Masri (40) kepada detikcom.
Di sejumlah wilayah lain di Aceh dan Sumatera, kondisi serupa juga dirasakan petani. Kebun masih menunjukkan sisa-sisa banjir, jalur panen belum sepenuhnya pulih, dan aktivitas sehari-hari berjalan dengan penyesuaian.
Di tengah keterbatasan, para petani sawit tetap berusaha menjaga kebun mereka. Mereka datang, memeriksa, membersihkan, dan memanen sebisanya. Tidak ada jadwal pasti, tidak ada target besar. Yang ada hanyalah bertahan untuk tetap melanjutkan aktivitas sehari-hari.










