“Masyarakat Aceh itu unik. Kios-kios tutup saat azan atau (salat-red) Jumat.”
Pengakuan ini disampaikan salah seorang turis asal Kanada bernama Steven, dalam bincang-bincang dengan wartawan, awal Oktober 2022 lalu di Sabang.
“Saya sudah mengunjungi beberapa negara yang mayoritas muslim. Tapi di Aceh memiliki keunikan tersendiri. Budaya di sini memang terasa kental dengan Islam. Jadi keunikan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi kami untuk berkunjung,” kata Steven.
“Selain memang alamnya yang indah dan masyarakat yang ramah.”
Steven mengaku memiliki cerita unik tersendiri di awal awal datang ke Aceh sekitar sepekan sebelumnya. Katanya, begitu tiba di Aceh, ia bertanya ke pemandu local, apa yang harus dilakukannya selama di Aceh. Salah satunya, kata Steven, soal pakaian.
“Dijelasnya (pemandu local-red) bahwa tidak ada hal yang khusus. Yang penting sopan. Ini sangat berbeda dengan informasi yang kami dapatkan dari media. Syariat Islam yang berlaku untuk penduduk local yang beragama Islam. Sedangkan kami (turis-red) tetap seperti biasa. Yang penting sopan santun,” kata dia.
“Di luar, Aceh digambarkan dengan cambuk hingga mati. Ekstrim. Padahal ini tidak benar adanya,” ujar turis ini lagi.
Sementara itu, di tempat terpisah, seorang mahasiswa asal Malaysia, Muhammad Gibran, mengatakan keunikan Aceh itu tidak terlepas dari pelaksanaan syariat Islam.
“Seolah-olah Aceh sudah menjadi bagian dari syariat Islam itu sendiri. Semua sendi kehidupan sudah menyusup nilai-nilai syariat Islam. Untuk menciptakan budaya masyarakat seperti di Aceh itu butuh waktu yang lama,” kata Muhammad Gibran.
“Saat salat Jumat, semua aktivitas pertokoan tutup semua. Ini dorongan yang luar biasa. Warung-warung kopi di Aceh juga menyediakan tempat salat dan wudhu. Meninggalkan barang di warung di Aceh juga tidak takut, karena mereka akan menjaga barang tersebut.”
“Di Malaysia, ada cerita menarik dari seorang warga yang berkunjung ke Aceh dan sempat ketinggalan dompet. Sesampai di hotel mereka baru ingat bahwa dompetnya tertinggal di warung kopi, dan ternyata dijaga dengan baik. Semua isi di dalamnya masih lengkap,” ujar dia.
Menurut Muhammad, cerita itu dibacanya di salah satu media di sana.
“Awalnya, saya anggap ini tidak benar. Dan Ketika berkunjung ke Aceh ternyata memang begini adanya. Nilai nilai syariat seperti inilah yang perlu dipertahankan. Belum lagi kalau Ramadan, semua warung di Aceh juga tutup dari pagi hingga sore hari,” ujar Muhammad yang fasih berbahasa Aceh ini lagi.
“Saat Ramadan, saya lebih banyak menghabiskan waktu di Aceh. Padahal kegiatan libur. Ini karena suasana Ramadan di Aceh terasa jauh lebih dalam. Buka puasa bersama dan dilanjutkan dengan salat magrib hingga Tarawih bersama-sama.”
“Setiap masjid juga menyediakan buka puasa bersama. Ini pengalaman yang sangat luar biasa,” kata dia lagi.
Sementara itu, Ustadz Ahmad Syukran, alumni Al-Azhar Kairo Mesir asal Aceh Besar, berharap hal-hal positif yang disampaikan masyarakat luar tentang Aceh, perlu dipertahankan. Sedangkan segala kekurangan perlu dilengkapi sedikit demi sedikit.

Menurutnya, penerapan Syariat Islam di Aceh telah menyasar ke seluruh sendi kehidupan masyarakat Aceh, tidak terkecuali warung kopi.
Salah satunya, kata dia, hal ini terlihat dari perilaku konsumen dan pemilik warung. Dimana, pemilik warung menyediakan fasilitas ibadah yang representative. Menurutnya, hal ini merupakan sebuah ajakan tersirat dari pemilik warung bahwa konsumen punya kewajiban ibadah yang harus ditunaikan.
Selanjutnya pemilik warung juga menghormati atas tibanya waktu shalat, seperti tidak menghidupkan suara-suara yang mengganngu suara azan, serta menutup layanan selama pelaksanaan ibadah shalat berlansung.
Bahkan di beberapa warung kopi khususnya di seputaran Kota Banda Aceh mengadakan pengajian yang terbuka umum untuk para konsumen.
“Ini adalah diantara wujud nyata kalau nilai- nilai syariat diterapkan di warung kopi,” kata dia.
Di sisi lain perilaku konsumen juga telah menunjukkan bahwa nilai Syariat di Aceh sedang diterapkan. Seperti halnya konsumen lawan jenis yang bukan mahram menjaga jarak duduk. Konsumen juga sadar bahwa tibanya waktu shalat yang ditandaai dengan berkumandang azan menjadi momentum sacral, sehingga mereka menghentikan sejenak aktivitasnya untuk mendengar azan, walaupun mereka tidak tergerak langkah kakinya untuk segera shalat.
Namun, kata dia, sikap menghormati satu sama lain menjadi poin penting dalam rangka menegakkan Syariat Islam di Serambi Mekkah.
“Oleh karena itu, berbicara syariat bukan hanya sebatas ibadah mahdhah, tetapi mencakup semua perilaku antar individu satu sama lain yang saling menghormati. Kondisi warung kopi saat ini harus dijadikan sebagai target dan lahan yang subur dalam penerapan Syariat Islam, karena di dalamnya terhimpun berbagai elemen masyarakat. Maka hendaknya ada semangat memeunasahkan warkop dengan “jamaahnya” untuk beramar makruf nahi mungkar (mengajak kepada kebaikan dan meninggalkan kemungkaran),” ujarnya lagi.
Salah seorang alumni Al Azhar asal Aceh yang dekat dengan Ustadz Abdul Somad ini juga berharap Dinas Syariat Islam lebih gencar mensosialisasi sisi positif tentang syariat Islam di media massa.
“Tentunya kita juga memiliki tanggungjawab yang sama,” katanya lagi.
Tulisan ini merupakan hasil kerjasama antara Dinas Syariat Islam dengan media atjehwatch.com.









