Penulis: Atiqoh & Dr. Hamidullah Mahmud., Lc., M.A
Ulil amri identik dengan pemimpin dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Allah swt berpesan kepada orang-orang beriman sebagai berikut.
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik dampaknya (di dunia dan akhirat). (QS 4:59)
Ayat tersebut mengandung pesan kepada orang-orang beriman agar mereka menaati orang-orang yang berwenang menangani urusan-urusan kemasyarakatan mereka, selama aturan-aturannya sejalan dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Wajar, kepemimpinan di dunia menjadi bahan rebutan, karena mengandung berbagai efek samping. Ketika Allah swt mengangkat Thalut sebagai raja, kaum pun mengajukan protes dengan argumen yang stereotype sebagai berikut.
Tidakkah kamu memperhatikan pemuka-pemuka dari Bani Israil sesudah nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.” Nabi mereka menjawab, “Mungkin sekali jika nanti kamu diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab, “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sungguh kami telah diusir dari kampong halaman kami dan dijauhkan dari anak-anak kami?” Maka tatkala perang diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali sedikit di antara mereka. Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim. (QS 2:246).
Nabi mereka mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengutus untuk kamu Thalut menjadi raja.” Mereka menjawab, “Bagaimana mungkin dia memiliki wewenang memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedangkan dia pun tidak diberi kelapangan dalam harta?” Nabi mereka berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya atas kamu dan melebihkan untuknya keluasan dalam ilmu dan keperkasaan tubuh.” Allah memberikan kekuasaan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha Luas kekuasaan, keagungan dan rezeki-Nya lagi Maha Mengetahui. (QS 2:247).
Nabi mereka mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya tanda kekuasaan (kerajaannya), ialah datangnya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun. Tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kebesaran dan kekuasaan Allah bagimu, jika kamu orang-orang mukmin yang mantap imannya. (QS 2:248).
Kekuasaancenderung korupsi dan penguasa lalim cenderung merampas kekayaan rakyatnya. Hal ini tergambar dalam perjalanan Nabi Musa bersama gurunya dan perjuangan Nabi Musa menghadapi Fir’aun.
Adapun perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut untuk mencari rezeki, maka aku ingin membuat ciri perahu itu, sehingga dinilai tidak layak digunakan, karena di balik sana ada raja yang kejam dan selalu memerintahkan petugas-petugasnya agar mengambil setiap perahu secara paksa. (QS 18:79)
Pergilah kepada Fir’aun (untuk menyampaikan risalah Allah); sesungguhnya ia telah melampaui batas. Musa berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku (hatiku), mudahkanlah untukku urusanku, lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu (dalam mengemban tugas kenabian) dari keluargaku, yaitu Harun, saudaraku. Teguhkanlah dengannya kekuatanku dan jadikankanlah ia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat dan Maha Mengetahui kebutuhan (keadaan) kami.” Allah berfirman, “Sungguh, telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa. Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan nikmat kepadamu pada kali yang lain. (QS 20:24-37).
Pada rangkaian ayat berikutnya Allah swt berfirman,
Aku telah memilihmu untuk diri-Ku (sebagai rasul). Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai darimengingat-Ku. Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat (kebesaran-Ku) atau takut. Mereka berdua berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau dia akan bertambah melampaui batas.” Allah berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua. Aku mendengar dan melihat.” Maka datanglah kamu berdua kepadanya dan katakanlah, “Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil pergi bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (kerasulan kami) dari Tuhanmu. Keselamatan dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. (20:41-47).
Kepemimpinan dan kekuasaan bukanlah kehormatan, melainkan amanat yang harus dipertanggungjawabkan di dunia maupun di hari akhir nanti.
Apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari itu manusia teringat akan apa yang telah dia kerjakan. Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. (QS 79:34-41).









