PRIA muda itu mencoba tersenyum. Beberapa kali, ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Ini dilakukan untuk melepas lelah setelah seharian disibukan dengan seabrek aktivitas dari pagi tadi.
Ia mencoba tersenyum ke arah wartawan yang menunggu di sana.
Saat itu ia baru tiba di rumah dinasnya. Suasana langit di Sigli mulai terlihat menghitam.
Ia melihat jam. Jarum di sana menunjukan pukul 18.00 WIB.
Ia kemudian berjalan ke arah wartawan sambil mengecek satu satu persatu pesan masuk. Fokus perhatiannya ke handphone di tangan. Maklum, sebagai politisi dan ketua DPRK Pidie, ada banyak pesan masuk di handphone-nya setiap hari. Terutama via WhatsApp.
Ya, sosok tadi adalah Mahfuddin Ismail.
Langkah Mahfud kemudian terhenti tiba-tiba. Fokus perhatiannya tiba-tiba tertuju pada salah satu video di grup DPRK Pidie.
“Ratusan bangsa Rohingya di Ujong Pie Laweung Muara Tiga dengan kondisi yang sangat miris,” katanya kepada atjehwatch.com.
Kami terdiam beberapa saat.

Mahfuddin kemudian terlihat menghubungi seseorang di handphonenya. Belakangan, sosok yang ditelepon tersebut diketahui bernama Pang Rauf. Sosok Pang Rauf diketahui merupakan petinggi Sagoe Ujung Pie Laweung.
Pang Rauf juga sahabat Mahfuddin di DPRK Pidie Fraksi Partai Aceh Dapil Muara Tiga.
“Assamualiakum Pang Sagoe. Peu beutoi na bangsa Rohingya terdampar di Laweung?” tanya dia.
“Beutoi ketua,” suara di seberang telepon terdengar.
“Man kiban cara tapeulaku ketua? Man kiban na neujak saweue keunoe?” suara di seberang terdengar lagi.
Mahfud sempat terdiam. Ini karena tugas seharian penuh benar benar menguras tenaganya.
“Siap pang. Insya Allah ulon jak laju jinoe. Tapi ulon komunikasi dilei dengan tim ya. Nyoe ka ulon berangkat, euntreuk ulon telpon gata,” ujarnya kemudian.
“Peu yang paih tamei keu urueng nyan teuma?” katanya lagi.
“Neumei laju makanan dilei bacut sapeue ketua beh?” terdengar jawaban di seberang.
“Got. Insya Allah ulon jak mita dilei jinoe karena watei karab Mugreb takot ka ditop toko,” jawab Mahfuddin lagi.
“Jeut ketua,” balas dari seberang telepon.
“Jroh bang Rauf. Ulon siap – siap dilei oke,” kata Mahfuddin menutup telepon.
Ia kemudian memberi isyarat agar atjehwatch.com mengikutinya dari belakang.
Di dalam rumah, Mahfud kemudian memanggil sang istri, Hetti Zuliani. Ia kemudian menceritakan soal Rohingya yang mendarat di Ujung Pie.
“Mi kiban neujak droeneuh?” ujarnya kemudian.
Sang istri kemudian terlihat berwajah sumringah.
“Kiban han tajak teuma brokon nyan syit buet teuh,” jawab Hetti. Sosok ini memang dikenal aktif dalam kegiatan social di Pidie. Ia sering bergabung dengan para relawan untuk aksi-aksi social di Pidie dan sekitar.
Mahfuddin tersenyum mendengar jawaban sang istri.
“Memang bereh gata,” ujar dia kemudian.
Tak lama, suara azan terdengar dari Mesjid Al Falah Sigli. Ini menjadi pertanda magrib sudah sampai.
Ketua DPRK Pidie minta izin untuk salat. Demikian juga dengan penulis.
Usai salat, ia kemudian bergegas memantau sembako sudah disusun rapi di mobil. Kami bersama tim YPAM kemudian langsung bergerak menuju Laweung. Jaraknya lebih kurang 40 menit perjalanan hingga akhirnya tiba di Meunasah Ujong pidie Laweung. Pas di samping Mie Sure Laweung.
Pemandangan tragis terlihat di sana saat kami tiba. Beberapa Rohingya terlihat lemas layu. Tubuh mereka kurus kering. Mungkin karena lama tak mendapatkan makanan selama perjalanan.
Beberapa terlihat terkapar tak berdaya. Mereka tertidur di lantai. Beberapa bocah kecil menangis dalam gendongan ibunya.
Bang Mahfud, sapaan Ketua DPRK Pidie, terdiam lama. Pikirannya terlihat seperti menerawang jauh. Matanya berkaca-kaca.
Ada seribuan warga di sana yang sedang bergelut membantu para Rohingya, tapi komunikasi antara pengungsi dan stake holders yang hadir disitu agak terkendala karena pengungsi tidak bisa bahasa melayu. Hanya ada 2 orang yang bisa bahasa Inggris.
Hetti Zuliani kemudian berkomunikasi dengan 2 pemuda tersebut dengan bahasa International.
Sedangkan Mahfud sendiri kemudian memanggil beberapa tokoh tokoh yang sudah hadir di sini untuk membahas penanganan lebih lanjut.
Di sana ada geuchik, panglima laot Pidie Toke Hasan, KabagOps, Kasat Reskrim, Kapolsek, Danramil.
Diskusi darurat dengan stake holders tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa untuk sementara biar pengungsi aman, nyaman dan terkonsentrasi di satu titik.
Mereka menginisiasi untuk seluruh pengungsi dipindahkan ke SMP 2 Muara Tiga Laweung yang berjarak sekitar 700 meter dari meunasah Ujong Pie dengan menggumamkan mobil angkut aparat negara.
Para relawan YPAM menurunkan semua bantuan sembako untuk dibagikan kepada pengungsi Rohingya.
“Semoga masyarakat dunia, terutama negara negara Islam, tidak tutup mata terhadap masalah yang sudah dihadapi oleh etnis Rohingya,” katanya singkat kepada atjehwatch.com.
Ia kemudian ikut membantu para relawan mengangkat bantuan yang di bawa guna didistribusikan ke pengungsi Rohingya.
Malam mulai larut saat rombongan ini meninggalkan lokasi.









