Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Nanggroe

Bordir Aceh Mulai Diminati Anak Muda

Atjeh Watch by Atjeh Watch
15/11/2019
in Nanggroe
0
BANDA ACEH – Peminat produk kerajinan bordir Aceh, baik yang berbentuk baju, tas, kain, mukena dan berbagai barang lainnya terus meningkat. Bahkan, jika selama ini penggunanya identik dengan orangtua, kini barang dari kerajinan bordir Aceh juga sudah dipakai oleh kalangan anak muda.
“Melalui sentuhan desain dan inovasi baru kini bordir Aceh mulai dilirik kaum muda, kita akan terus membina para pengrajin bordir di daerah agar terus mengembangkan produk kerajinannya sesuai tuntutan zaman,” kata Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Aceh, Dyah Erti Idawati, saat diwawancarai wartawan di rumah dinasnya di Banda Aceh, Jumat, (15/11).
Dyah mengatakan, kerajinan bordir merupakan salah satu warisan seni budaya Aceh. Karena itu, pembinaan terhadap para pengrajin bordir juga menjadi fokus utama Dekranasda Aceh. Biasanya, kata Dyah, desa yang memiliki jumlah pengrajin yang banyak akan dibina oleh Dekranasda dalam kurun waktu 3 sampai 5 tahun.
“Salah satu desa yang dibina oleh Dekranasda Aceh adalah Desa Dayah Daboh, dari kabupaten Aceh Besar. Kami telah membinanya selama lima tahun dan kini desa tersebut sudah mandiri dalam produksi barang bordirnya,” kata Dyah.
Istri Plt Gubernur Aceh itu mengatakan, desa binaan yang berada di Kecamatan Montasik itu kini juga sudah dikenal dengan Gampong bordir Aceh. Hampir setiap rumah di desa tersebut dihuni oleh para pengrajin bordir. Bahkan sejumlah wisatawan lokal maupun dari luar Aceh kerap mengunjungi desa tersebut untuk melihat langsung proses pengerjaan bordir.
“Bordir Aceh juga banyak dibelanjakan oleh wisatawan sebagai oleh-oleh,” kata Dyah.
Selain di Aceh Besar, Dekranasda Aceh juga memberikan pembinaan kepada pengrajin bordir di sejumlah kabupaten kota lainnya, seperti Lhokseumawe, Aceh Utara dan Aceh Jaya. Dyah juga mengatakan, bordir Aceh memiliki motifnya sendiri dan yang paling sering dipakai adalah motif pintoe Aceh dan pucok reubong.
“Alhamdulillah produk bordir Aceh ini sudah sangat diminati oleh berbagai kalangan, baik ibu-ibu sampai anak muda, jadi produk bordir ini tidak terkesan kuno lagi, saya sendiri juga kerap menggunakan produk bordir Aceh,” ujar Dyah.
Dyah menuturkan, Dekranasda Aceh tidak hanya membina para pengrajin, tapi pihaknya juga ikut mempromosikan dan menciptakan pasar untuk produk kerajinan Aceh itu. Selama ini, lanjut dia, pihaknya juga kerap mengikuti event pameran kerajinan baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Di setiap pameran yang kami ikuti, kami selalu membawa produk para pengrajin untuk ditampilkan pada expo nasional maupun internasional, hasilnya kami bisa mendapat omset ratusan juta untuk setiap event,” kata Dyah.
Selain memasarkan bordir Aceh melalui pameran-pameran, Dekranasda juga melakukannya dengan mendorong Pemerintah Aceh mengeluarkan imbauan agar seluruh dinas maupun instansi lainnya di Aceh untuk membelanjakan produk lokal dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan.
“Tujuan dari Dekranasda adalah memakmurkan pengrajin, tidak hanya membina tapi kami juga menciptakan pasar agar produk pengrajin Aceh diminati dan dapat meningkatkan ekonomi pengrajin,” ujar Dyah.
Selain pengrajin bordir, lanjut Dyah, Dekranasda Aceh juga ikut membina para pengrajin batik Aceh dan songket Aceh. Dyah berharap, para pengrajin di Aceh dapat terus berinovasi untuk mendesain dan memodifikasi produknya. Sehingga produk kerajinan Aceh dapat awet dan memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. []
Previous Post

UIN Ar-Raniry Gelar Konferensi Internasional, Bahas Moderatisme Islam

Next Post

DPR Aceh Dipimpin Anak Muda, Nova Optimis Pembangunan Aceh Akan Lebih Baik

Next Post

DPR Aceh Dipimpin Anak Muda, Nova Optimis Pembangunan Aceh Akan Lebih Baik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

ALAMP AKSI Aceh Desak Pemda Evaluasi Kinerja Kadis Dukcapil Aceh Singkil

ALAMP AKSI Aceh Desak Pemda Evaluasi Kinerja Kadis Dukcapil Aceh Singkil

05/08/2026
PII Aceh Desak Gubernur Aceh Evaluasi Total Kinerja Buruk Baitul Mal Aceh

PII Aceh Desak Gubernur Aceh Evaluasi Total Kinerja Buruk Baitul Mal Aceh

05/08/2026
Bupati Abdya Minta Dapur MBG di Abdya Konsisten Utamakan Bahan Lokal

Bupati Abdya Minta Dapur MBG di Abdya Konsisten Utamakan Bahan Lokal

05/08/2026
Haykal Nahkodai FPRB Pidie Jaya 2026–2031, Siap Perkuat Ketangguhan Daerah Hadapi Bencana

Haykal Nahkodai FPRB Pidie Jaya 2026–2031, Siap Perkuat Ketangguhan Daerah Hadapi Bencana

05/08/2026
Musda Demokrat Aceh Resmi Dibuka, Perebutan Kursi Ketua DPD Dimulai

Musda Demokrat Aceh Resmi Dibuka, Perebutan Kursi Ketua DPD Dimulai

05/08/2026

Terpopuler

Bordir Aceh Mulai Diminati Anak Muda

15/11/2019

Kapolres Pidie Jaya Kritik Evaluasi SKPK: Jangan Bicara Tanpa Data, Rakyat Berhak Tahu Kinerja Pemerintah

Haykal Nahkodai FPRB Pidie Jaya 2026–2031, Siap Perkuat Ketangguhan Daerah Hadapi Bencana

Kejari Pidie Jaya Lelang 1.296 Liter Solar dan iPhone Rampasan Negara, Eksekusi Aset Hasil Putusan Berkekuatan Hukum Tetap

Lima Tahun Bertahan Tanpa Orang Tua, Lima Bersaudara di Pidie Jaya Pernah Dua Hari Menahan Lapar

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com