Pertengahan 1998
SUASANA di pedalaman Matang, Bireuen, terasa tak biasa. Angin yang biasanya berhembus kencang terasa tenang malam ini. Kicauan burung tak terdengar. Bahkan suara jangkrik pun seolah menghilang entah kemana.
Para santri tertidur lelap di asrama masing-masing. Mereka mungkin telah terbuai dengan mimpi.
Hanya beberapa lampu dayah yang masih menyala. Jam menunjukan pukul 00.23 dini hari. Tapi Teungku Fiah masih belum bisa memejamkan mata. Ini merupakan pekan kedua, ia dan keluarga, berada di komplek dayah di pedalaman Bireuen tadi.
Teungku Fiah terlihat gelisah. Berulangkali ia balik badan di kasur kecil yang ditempatinya bersama Sakdiah. Sementara Ibnu, anaknya yang tersisa, terlihat lelap di kasur lainnya yang berada tak jauh dari tempat tidur mereka.
Gerak Teungku Fiah yang gelisah membuat Sakdiah terjaga.
“Kenapa Abang gelisah tiba-tiba? Apakah ada sesuatu yang tidak bereh?” ujar Sakdiah. Ia kemudian memeluk suaminya itu dengan hangat.
Bagi Sakdiah, dua pekan di pedalaman Matang, merupakan hari terbaik bagi dirinya dan Ibnu. Ia memiliki waktu yang panjang bersama suaminya, Teungku Fiah. Sakdiah bisa melihat suaminya saat terbangun, pagi hari dan sore harinya.
Biasanya, Teungku Fiah berbulan-bulan tak pulang ke rumah. Termasuk saat Raman, anaknya tertua, diambil paksa dari rumah dan tak ada kejelasan kabar hingga sekarang.
Saat itu, Sakdiah sangat terluka. Ia berharap suaminya bisa menemaninya melewati hari-hari buruk. Walaupun ia sendiri sadar bahwa pilihan suaminya untuk tak pulang adalah pilihan terbaik.
“Entah kenapa! Aku tak bisa tidur malam ini. Ada sesuatu yang tak biasa. Terlalu nyaman,” ujar Teungku Fiah kemudian.
Teungku Fiah bangun dan mengambil baju nya yang disangkut di dekat pintu. Sakdiah sendiri tak mencegah.
“Aku keluar sebentar untuk menghisap rokok. Kamu tidur lah kembali. Jaga Ibnu jangan sampai terbangun,” kata Teungku Fiah.
Sakdiah mengangguk. Ia kemudian meneruskan tidur.
Di depan kamar, Teungku Fiah melihat Mustafa yang juga ternyata duduk di dekat kamarnya. Kamar mereka bersebelahan. Melihat Mustafa yang duduk di depan pintu sambil menarik rokok, membuatnya tersenyum.
“Kau belum bisa tidur juga ternyata Mustafa,” ujar Teungku Fiah menyapa.
Mustafa tersenyum. Ia bergeser untuk berbagi tempat duduk dengan Teungku Fiah.
“Iya teungku. Aku merasa ada yang aneh dengan keadaan malam ini. Terlalu tenang. Makanya aku berjaga-jaga di depan pintu,” ujar Mustafa.
“Tak kusangka ternyata teungku juga merasakan hal yang sama,” katanya lagi.
Teungku Fiah terdiam. Ia kemudian mengamati sekeliling.
“Di mana senjatamu? “ bisik Teungku Fiah di telinga Mustafa. Ia memadang Mustafa dengan seksama.
“Ada di samping teungku. Aku sudah dua kali patroli. Tapi belum kulihat ada sesuatu yang aneh,” ujar Mustafa.
Mustafa menarik rokok nya dalam-dalam. Asapnya dilepaskan tinggi-tinggi.
“Kita berjaga jaga saja. Sekian tahun kita bergabung dengan pasukan nanggroe, kode alam selalu benar adanya. Aku berpikir malam ini juga sama,” ujar Teungku Fiah sambil menarik pistol FN miliknya dari pinggang.
[Bersambung]










