Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Cerbung

Wasiet (84)

Admin1 by Admin1
22/04/2020
in Cerbung
0
Wasiet (65)

 

+++

Akhir 2016

HARI hari berlalu dengan cepat. Semangat Ibnu untuk melanjutkan studi ke Australia belum menemui titik kejelasan. Sejumlah program beasiswa yang diajukannya menuai hasil yang kurang mengembirakan.

Ia mengajukan program beasiswa ke LPSDM Aceh. Namun syarat dengan waktu yang ditetapkan terlalu mepet. Ia akhirnya dipaksa menyerah dengan keadaan yang terjadi. Pimpinan di lembaga itu meminta Ibnu untuk memperoleh rekomendasi dari sejumlah orang yang tak dikenalnya.

“Mungkin beasiswa itu bukan untuk kita, wak. Meskipun kini yang berkuasa adalah orang-orang seperti ayahku dulu, namun aku tak mengenal satupun petinggi itu sekarang,” keluh Ibnu saat menikmati angin malam di depan kos usai pulang bekerja. Saat itu, ada Ahmadi yang menemaninya ngopi bersama.

“Kalau bukan untuk orang-orang sepertimu, lantas untuk siapa?” tanya Ahmadi kemudian.

Ibnu terdiam. Seusai meninggal ayahnya, ia mencoba untuk tidak mengeluh dalam menapaki kehidupan. Namun ujian demi ujian tetap menghadang.

Seusai damai, dia melihat banyak ketimpangan yang terjadi di Aceh. Para pejuang seperti ayahnya, sedikit demi sedikit tersingkirkan. Sedangkan kekuasaan tetap dikuasai para birokrasi yang sudah beranak binak sejak masa orde lama.

“Kau tahu, wak. Karakter birokrasi di daerah kita kini mengharuskan siapapun untuk menjadi penjilat demi dekat dengan kekuasaan. Sayangnya, aku belum bisa melakoni karakter itu,” kata Ibnu.

“Ayahku pernah perpesan bahwa seorang pemberontak itu lebih mulia dari penjilat. Namun keadaan yang kulihat saat ini kembalikan dari pernyataan tadi,” ujarnya lagi.

Ahmadi tertawa keras mendengar pernyataan dari Ibnu. Apa yang disampaikan oleh Ibnu memang benar adanya. Di Aceh, tak butuh skill atau kemampuan tinggi, tapi kalau mau sukses cukup menjadi penjilat para penguasa.

“Mungkin ada benarnya agar orang-orang sepertimu keluar dari Aceh sementara waktu. Pulanglah 350 tahun ke depan. Mungkin saat itu keadaan di Aceh akan berubah,” kata Ahmadi menyindir.

“Sama seperti cerita Ashabul Kahfi. Karena tidur di gua tak mungkin, ya terpaksa pergi dulu ke luar negeri. Karena seperti katamu, Aceh sedang tak butuh orang-orang idealis sepertimu,” ujarnya lagi.

Ibnu terdiam mendengar kalimat yang disampaikan Ahmadi. Meski dalam kalimat setengah bercanda, Ahmadi berkata benar adanya. Birokrasi yang melilit di Aceh membuat siapapun akan berubah menjadi jahat. Termasuk untuk mereka yang hari ini mengaku sebagai pejuang nanggroe.

“Kalau mau jujur, wak. Hanya soal waktu konflik kembali meletus di Aceh. Jika itu terjadi, mereka yang mengaku pejuang hari ini adalah musuh utama di masa depan. Sama seperti pejuang DI TII saat awal-awal AM meletus,” ujar Ibnu.

“Aku akan mencoba bertahan dengan prinsipku saat ini. Minimal aku tak akan mengkhianati perjuangan ayah dan dua saudaraku demi harta dan ambisi pribadi. Masalah yang terjadi sekarang adalah urusan para tetua perjuangan yang masih hidup. Biar mereka yang menanggung segala dosa apa yang terjadi,” kata Ibnu.

Ahmadi meneguk kopi hitam miliknya. Sama seperti anak Aceh lainnya, keluarganya turut merasakan konflik di masa lalu. Namun ia tidak seperti Ibnu yang masih kukuh mempertahankan prinsip kehidupan.

“Haruskah aku mengaminkan kalimatmu yang terakhir Nu?” ujarnya kemudian.[]

Previous Post

[Foto] Cara Darwati Berbagi di Hari Meugang

Next Post

Selama Pandemi, Pendapatan Sektor Hotel Hilang Rp60 Triliun

Next Post
Sejumlah Hotel Berbintang di Aceh Mulai Rumahkan Karyawan

Selama Pandemi, Pendapatan Sektor Hotel Hilang Rp60 Triliun

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Teuku Rahmatsyah Jadi Kajati Baru Aceh

Teuku Rahmatsyah Jadi Kajati Baru Aceh

23/07/2026
Ramlan, Pemilik Toko Emas Baru Serahkan Zakat Tijarah ke Baitul Mal Abdya

Ramlan, Pemilik Toko Emas Baru Serahkan Zakat Tijarah ke Baitul Mal Abdya

23/07/2026
Mahasiswa KKN USK Kelompok 11 Gelar Home Visit, Berikan Pemeriksaan Glukosa Darah dan Tekanan Darah Gratis bagi Warga Cut Langien

Mahasiswa KKN USK Kelompok 11 Gelar Home Visit, Berikan Pemeriksaan Glukosa Darah dan Tekanan Darah Gratis bagi Warga Cut Langien

23/07/2026
DEMA FSH UIN Ar-Raniry Luncurkan Program Desa Binaan Enam Gampong di Lhoong

DEMA FSH UIN Ar-Raniry Luncurkan Program Desa Binaan Enam Gampong di Lhoong

23/07/2026
Timnas Putri Indonesia Juara Piala AFF Wanita usai Cukur Laos 5-0

Timnas Putri Indonesia Juara Piala AFF Wanita usai Cukur Laos 5-0

23/07/2026

Terpopuler

BPBD Buka Bursa Ketua FPRB Pidie Jaya, Figur Tangguh Hadapi Ancaman Bencana Dicari

BPBD Buka Bursa Ketua FPRB Pidie Jaya, Figur Tangguh Hadapi Ancaman Bencana Dicari

21/07/2026

Wasiet (84)

Kapaloe, Kepala BGN Nanik S Deyang Mundur

STAI Tgk. Chik Pante Kulu dan Mahkamah Syar’iyah Kota Banda Aceh Bangun Kolaborasi Penguatan Tridarma Perguruan Tinggi

Rp4,65 Miliar Dana Umat Siap Disalurkan, Baitul Mal Pidie Perketat Verifikasi demi Cegah Salah Sasaran

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com