DARI Bandara, Ibnu langsung menuju University Of Sydney untuk mengurus kelengkapan akademik di civitas setempat.
Ibnu juga menemui manajemen yang mengurus sewa apartemen yang ia pesan melalui aplikasi online. Biayanya juga sudah ditransfer oleh Dara sebelum ia berangkat kemarin. Ibnu hanya perlu datang untuk memperkenalkan diri dan mengambil kunci dari jajaran setempat.
Apartemen yang akan ditempati oleh Ibnu ini hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari University Of Sydney. Memiliki ruang tidur, kamar mandi serta fasilitas lainnya, seperti jaringan wifi serta fasilitas telepon.
Harga sewanya cukup mahal. Namun karena Ibnu memiliki keuangan yang cukup dari hasil ‘warisan’ ayah angkatnya, maka persoalan tadi tak lagi jadi masalah baginya.
Ibnu mengirim mail ke Dara untuk memberitahu bahwa ia telah tiba di Sidney. Namun hingga sejam ia menunggu, tak ada balasan dari wanita cantik itu di Jakarta.
“Mungkin ia masih kerja atau sedang sibuk. Lebih baik aku tidur saja,” gumam Ibnu.
Ia kemudian tertidur dan baru bangun beberapa jam kemudian. Ibnu mengecek balasan dari Dara di mail miliknya, namun ternyata belum ditanggapi.
“Mungkin ia belum sempat membalas mail,” pikir Ibnu.
Ibnu memutuskan untuk kembali istirahat dan baru bangun esok harinya sesuai waktu Australia.
Memulai hari, Ibnu kembali mengecek mail masuk. Namun tak ada balasan dari Dara. Mail masuk justru datang dari Ahmadi di Aceh. Mail-nya cukup panjang dan lebih banyak menceritakan curhat Riska kepada dirinya.
Ibnu membalas mail Ahmadi dan menceritakan pertemuannya dengan Riska di pesawat.
“Semua akan baik-baik saja,” tulis Ibnu di pesan tadi.
Ibnu terdiam usai menulis pesan. Focus perhatiannya tertuju pada sikap Dara yang tak membalas mailnya. Ada banyak asumsi buruk yang melintas di pikirannya, tapi ia mencoba berpikir positif.
“Mungkin Dara sedang banyak pekerjaan,” pikir Ibnu.
“Lebih baik aku ke KBRI dulu. Ini akan memudahkanku beraktivitas di sini,” gumamnya lagi.
Dari apartemen, Ibnu kemudian menuju ke KBRI. Jaraknya cukup dekat. Di sana, ia berkenalan dengan sejumlah petugas setempat serta staf Kedubes. Mereka juga yang membantu Ibnu untuk mendapatkan nomor handphone baru di Sydney.
Namun nomor ini baru bisa diperolehnya beberapa hari kedepan. Ibnu tak mempersoalkan hal ini.
Di sana, ia juga bertemu dengan Riska, Sri dan Dela. Ketiganya ternyata juga memiliki tujuan yang sama.
Petugas di KBRI juga menjamu mereka untuk menikmati makanan Indonesia yang berada tak jauh dari kantor KBRI.
Petugas di KBRI juga menawarkan tur gratis kepada mereka berempat untuk berkeliling Sydney. Namun Ibnu menolaknya dengan halus.
“Masih banyak waktu untuk berkeliling. Aku ingin menyelesaikan beberapa hal penting terlebih dahulu di kampus,” ujar Ibnu beralasan. Dara sendiri menilai penolakan Ibnu karena keberadaan dirinya dalam rombongan tadi.
[Bersambung]








