Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Kolom

Kebersamaan; Antara Hakikat dan Semu

Admin by Admin
16/06/2020
in Kolom
0
Tgk H.Roni Haldi,Lc

Teungku H. Roni Haldi

Oleh : Roni Haldi

Kebersamaan adalah keharusan dalam kehidupan. Tanpa kesadaran kebersamaan bagai gurun pasir yang kering tak menumbuhkan tanaman apapun sebab kekeringan. Hidup tanpa ma’iyah (kebersamaan) sungguh sulit karena terasa sempit menjepit. Kebersamaan melahirkan jiwa sensitif berat peduli tak pentingkan diri pribadi. Senyuman di setiap perjumpaan bukan berujung intrik terselubung. Musyawarah menyimpulkan mufakat tak ditikung pedih pengkhianatan. Tutur baik pujian di depan tak disusupi diganti stigma buruk bergentayangan.

Kebersamaan inilah yang pernah dipaksakan lupa oleh Bani Israil dari memori mereka. Tatkala mereka mendadak lupa, betapa pelarian besar- besarannya dari Mesir menuju Negeri yang dijanjikan ternyata itu adalah program murni dari Allah. Yang mereka lihat semata laut membentang di depan dan kebengisan Fir’aun dengan hunusan pedang bala tentaranya mengepung mengejar dari belakang. Padahal awalnya mereka semuanya tak terkecuali cemas dan dililit ketakutan akut. “Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, “Kita benar-benar akan tersusul.” (Q.S. Asy Syu’ara : 61). Yang menenangkan mengibas menghalau jauh kejatuhan jiwa merak adalah Nabi Musa Alaihi salam dengan sergahannnya : “Sekali-kali tidak akan (tersusul); sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Q.S. Asy Syu’ara : 62).

Bekalan kebersamaan dengan Allah telah menjadikan pasukan kecil yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqas mengabadikan kemenangan membuktikan kebenaran kabar gembira Rasulullah tatkala memecahkan batu saat menggali parit dalam perang Khandaq. Qadisiyah sebagai bukti, yang besar lagi banyak jumlahnya tak selamanya memenangi mengungguli atas yang kecil lagi sedikit jumlahnya. Ma’iyatullah pasukan kaum muslimin di Mada’in pasca ma’rakah Qadisiyah kembali menciutkan nyali kepongahan pasukan Persia bangsa digdaya pada masanya. Tatkala melihat ketenangan langkah kaki pasukan Kaum muslimin berjalan melewati tingginya luapan air sungai Tigris. “Seberangilah sungai Tigris ini dengan keyakinan pertolongan Allah. Hasbunallahu wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’mal nashir.” Ucapan yang melukiskan ketinggian rasa ma’iyatullah dikumandangkan sang panglima Sa’ad bin Abi Waqqas dihadapan pasukannya. Syekh Al Kandahlawi dalam kitabnya Hayatu Ash Shahabah mengisahkan bagaimana ketinggian ma’iyatullah pasukan kaum muslimin tatkala seorang prajurit berseru, mangkok…mangkok…mangkokku terjatuh! Sang panglima sigap memerintahkan semua pasukan untuk mencari satu mangkok yang hilang. Ternyata inilah asbab yang menggentarkan semangat juang pasukan Romawi. Lihatlah, hanya satu mangkok saja hilang, semua prajurit merasa kehilangan dan mencarinya. Bagaimana jika seandainya salah satu dari mereka terbunuh oleh kita? Semuanya pasti akan marah besar dan siap menerkam siapa saja.” Benarlah di Mada’in, pasukan Persia hanya bernafas beberapa tarikan saja. Putus ditebas pedang-pedang pasukan kaum Muslimin.

Ma’iyatullah berdampak baik pada kebersamaan para prajurit kaum Muslimin. Kebersamaan berbuah persaudaraan. Rasa saling memiliki hingga menjaga. Kesalingan yang bernafas kemanusiaan berpangkal dari kemurnian tauhid. Jiwa merasa saling membantu mencari, menjaga menutupi akan sangat tinggi rasanya apalagi kondisi sempit lagi terjepit menghimpit dari segala arah. Namun, jika suasana jiwa dan diri sekeliling lapang terbuka jauh dari kesusahan batin dan materi kondisi terbalik akan lahir dengan sendiri tampak wujud asli manusia, walau itu masih dinilai manusiawi. Itulah “kebersamaan semu”, kemunculannya karena sesuatu. Jika tak ada embel-embelnya maka rasa kebersamaan itu jangan harap muncul hadir darinya.

Kebersamaan antara penguasa dengan penasehat spiritual, tangan kanan, orang kepercayaan, atau apapun namanya akan selalu dan selalu membersamai penguasa tatkala kekuasaan masih ditangan pernah penguasanya. Sang penguasa, akan dibuat merasa berkuasa oleh bisikan orang-orang di sekelilingnya atau pembisik setianya. Baik bisa jadi baik, buruk pun bisa menjadi buruk. Itulah yang diharap umumnya orang lain. Namun baik itu bisa berubah jadi buruk dan buruk juga bisa berubah menjadi baik. Inilah yang pingin ditakuti orang-orang umumnya. Lebih parahnya, belitan kebersamaan semu penguasa dengan pembisiknya akan merubah pandangan para penguasa. Penguasa akan cenderung berfikir bahwa ia benar-benar berkuasa dengan kekuasaannya yang dianggap berlaku selamanya. Padahal penguasa itu hanya sedang berkuasa, lantas akan tidak berkuasa dan lantas akan diinjak oleh orang yang kemudian berkuasa setelahnya, sebagaimana ia menginjak orang lain ketika sedang berkuasa.
KH. Hasan Abdullah Sahal pernah berkata : “Manusia banyak yang terjebak atau menjebak diri, terlibat atau dilibatkan dalam mengejar atau dikejar kepentingan.”

Kebersamaan adalah keniscayaan dalam kehidupan. Hidup sendiri atau menyendiri bukanlah watak asli manusia normal. Kebersamaan yang berlandaskan iman kepada Allah yang menghujam didalam hati akan membangun dan merawat hati dari perpecahan karena perbedaan duniawi. Apakah itu beda pandangan dan pendapat, beda tata cara ibadah dan amalan, tak serupa rujukan dan panutan, beda kecenderungan politik dan pilihan, tak sama logo dan warna organisasi perkumpulan. Saling menghina, buruk sangka, berkhianat, gampang percaya pada provokaai hoax, tajassus memata-matai saudara sendiri, ghibah menggunjing bahkan berkata kasar lagi kotor menjadi nikmat yang dibungkus dibalut dusta berulang. Itu semua perusak kebersamaan sesama saudara seiman semanusia. Sebagaiman Bani Israil dengan entengnya mudah melupakan janji mereka dengan Allah dan merusak kebersamaan mereka dengan Nabi Musa alaihi salam.

Kebersamaan hakiki adalah kebersamaan yang tak menampik menafikan perbedaan, kecuali beda batasan aqidah pondasi dasar telah diwariskan. Kebersamaan hakiki akan menumbuhkan sikap bertoleransi (tasamuh), memberi ruang dalam sesaknya perbedaan. Keyakinan akan kesamaan muara kebenaran yang dituju diperjuangkan akan meleburkan rasa berbeda tak sama yang seringkali menguasai merajai diri seseorang atau kelompok. Kita dikumpulkan dan dipersatukan oleh kebersamaan hakiki yang penuh iman dan manusiawi dan kita akan diadu dipecahkan oleh kebersamaan semu. Membersamai kebersamaan bukan karena orang atau kelompok yang diperjuangkan. Karena semua itu lumrah berubah dan hilang. Kebersamaan dengan Allah itulah sebenar- benarnya membersamai kebersamaan.

Previous Post

Dua Politisi Ini Minta Pemerintah Berikan Perhatian untuk Masyarakat Aceh di Malaysia

Next Post

Wulan Melinda Putri, Hafizah Berprestasi Asal Palembang

Next Post
Wulan Melinda Putri, Hafizah Berprestasi Asal Palembang

Wulan Melinda Putri, Hafizah Berprestasi Asal Palembang

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Akses ke Desa Terisolir di Aceh Tengah Bisa Dilalui dengan Kendaraan Roda Dua

Akses ke Desa Terisolir di Aceh Tengah Bisa Dilalui dengan Kendaraan Roda Dua

04/04/2026
PN Banda Aceh Vonis Eks Kepala Desa 3,5 Tahun Penjara di Kasus Dana Desa

PN Banda Aceh Vonis Eks Kepala Desa 3,5 Tahun Penjara di Kasus Dana Desa

04/04/2026
BPBD Simeulue Kerahkan Bantu Warga Terdampak Banjir

BPBD Simeulue Kerahkan Bantu Warga Terdampak Banjir

04/04/2026
Nyan, Teungku Habibi dan Zahara Dapat Beasiswa dari Pemkab Aceh Barat

Nyan, Teungku Habibi dan Zahara Dapat Beasiswa dari Pemkab Aceh Barat

04/04/2026
Tu Bulqaini: Meski Gabung ke PKB, H. Sibral Malasyi Tetap sebagai Ketua PAS Aceh Pidie Jaya

Tu Bulqaini: Meski Gabung ke PKB, H. Sibral Malasyi Tetap sebagai Ketua PAS Aceh Pidie Jaya

04/04/2026

Terpopuler

Hapus JKA = Bunuh Hak Rakyat, Fadhlullah TM Daud: Pemerintah Aceh Jangan Main Api

Hapus JKA = Bunuh Hak Rakyat, Fadhlullah TM Daud: Pemerintah Aceh Jangan Main Api

02/04/2026

Papan Bunga Pelantikan Imum Syik Seret Nama Kapolda Aceh dan Pangdam IM

Kerap Bertindak Ala Premanisme, Sekjend PAN Pijay Minta Wabup Periksa Kesehatan Mental

140 Siswa Madrasah di Aceh Besar Lulus SNBP, MAS RIAB Paling Banyak

Bupati Sibral Salurkan Jadup untuk 15.377 Jiwa Warga Pidie Jaya

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com