Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Nanggroe

Peusaba Minta Turki Selamatkan Situs Gampong Pande Seperti Hagia Sophia

Admin1 by Admin1
01/09/2020
in Nanggroe
0

BANDA ACEH – Ketua Peusaba Aceh, Mawardi Usman, meminta bantuan Turki menyelamatkan situs Gampong Pande dan membantu rakyat Aceh menyelamatkan situs kesultanan Aceh Darussalam. Kata dia, Aceh dan Turki adalah bersaudara.

“Setelah kedatangan Belanda 1874 Kawasan Istana diubah menjadi rel kereta Api kemudian didirikan bangunan Belanda, dilanjutkan pemusnahan makam Raja-raja dan Ulama di Kawasan Darud Donya. Sedangkan kawasan Gampong Pande, tempat Yang Mulia Wazir Sinan Pasha mengajarkan pembuatan meriam dan senjata pedang Damaskus kepada Prajurit Aceh. Ahli-Ahli Meriam Turki membuat meriam bersepuh emas dan perak menuliskan nama Khalifah Turki Utsmani dan Sultan Aceh yang memerintah serta tahun pembuatan,” kata Mawardi dalam keterangan tertulisnya yang diterima atjehwatch.com, Selasa 1 September 2020.

Menurutnya, meriam dan senjata Aceh yang terkenal kemudian dipesan oleh para Raja dan Sultan di Kawasan Nusantara bahkan Raja Jawa dan Melayu ikut memesan meriam langsung dari pembuat Meriam Turki di Gampong Pande untuk melawan Portugis.

“Gampong Pande adalah kawasan penghasil senjata meriam dan senjata lainnya untuk melawan Imperialisme barat dan juga sentral pengajaran Islam zaman kesultanan Aceh Darussalam. Namun kawasan Bersejarah ini oleh Pemerintah Kota Banda Aceh dijadikan kawasan pembuangan sampah dan kotoran manusia hingga kini.Kawasan Bitai tempat Perwira Turki melatih Perwira dan Laksamana kesultanan Aceh Darussalam Bentengnya dihancurkan. Namun makamnya tidak berani mereka ganggu karena rakyat Aceh melindungi dengan nyawa dan jiwa mereka.”

“Sejak dulu nenek moyang kami telah meminta bantuan kepada kekhalifahan Turki Utsmani untuk melawan Imperialisme Barat. Padishah Aceh atau Raja Aceh menggunakan sebaik-baik bantuan yang diberikan kekhalifahan Turki Utsmani untuk meneguhkan Islam di Belahan Timur dunia. Hari ini kami dalam kondisi kesusahan, banyak situs kesultanan dan tanah kesultanan berpindah tangan dengan cara yang tidak benar. Akibatnya makam-makam di kawasan situs dimusnahkan. Sebagian ditimbun dan sebagian lainnya dijadikan kawasan pembuangan limbah kotoran manusia.”

Kata Mawardi, Gampong Pande tempat pemakaman para sultan, ulama dan pandai besi Turki Utsmani dan Aceh Darussalam sekarang hendak dimusnahkan. Kawasan Istana Darul Makmur Gampong Pande yang didirikan oleh Sultan Johan Syah Seljuq Sekarang menjadi kawasan Sampah dan tempat pembuangan kotoran manusia.

Tahun 2006 kawasan Peninggalan Turki Utsmani mulai banyak ditimbun dan dilenyapkan, rakyat Aceh protes, namun tidak diperdulikan, hingga tahun 2017 rakyat marah dan bergejolak, kemudian pemerintah Aceh dan Banda Aceh menghentikan sementara pembuangan tinja di makam ulama.

“Namun pada tahun 2020 hari ini mereka hendak melanjutkan kembali dengan berbagai cara untuk memusnahkan peradaban kesultanan Aceh Darussalam dan Turki Utsmani. Apapun akan mereka lakukan agar situs peninggalan Khalifah dan Kesultanan Aceh Darussalam lenyap. Kebencian mereka terhadap makam pejuang Islam seperti ungkapan syair: karena tidak bisa ikut membunuhnya pada masa hidupnya maka makam kuburan ulama dan pahlawan dihancurkan setelah mereka semua mati syahid.”

Peusaba meminta Turki membantu Aceh melindungi kawasan situs Gampong Pande dan membantu mengambil alih kembali Wilayah Darud Donya. Dan kelak merekonstruksi ulang kembali kawasan Kesultanan Aceh Darussalam.

“Ratusan tahun kami kehilangan sejarah nenek moyang kami. Bangsa kami dihina dan direndahkan, namun hari ini sejarah nenek moyang kami terbuka di mata dunia. Kami akan mempertahankan makam Moyang kami walau apapun yang terjadi. rakyat Aceh akan bersatupadu melawan penghancuran terhadap makam nenek moyangnya hingga kaum Yahudi keturunan Kafir Belanda itu berhasil dikalahkan dan dilenyapkan dari atas muka bumi Aceh. Tanah Aceh adalah tanah Agung tanah para Aulia,” ujar Mawardi.

Tags: Gampong PandeMawardi UsmanPeusaba
Previous Post

Sejak Jadi Rumah Singgah, BPPA Sudah Tampung 11 Warga Kurang Mampu untuk Berobat

Next Post

Sekda Aceh Serahkan SK Kenaikan Pangkat dan Pensiun ASN

Next Post

Sekda Aceh Serahkan SK Kenaikan Pangkat dan Pensiun ASN

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Pemilik Pergi Haji, Satu Rumah di Lam Bateung Baitussalam Hangus Terbakar

Pemilik Pergi Haji, Satu Rumah di Lam Bateung Baitussalam Hangus Terbakar

18/06/2026
Peneliti UTU Hidupkan Asa Kopi Liberika di Pesisir Barat Aceh

Peneliti UTU Hidupkan Asa Kopi Liberika di Pesisir Barat Aceh

18/06/2026
Bupati Aceh Besar Minta Seluruh OPD Terus Berinovasi

Bupati Aceh Besar Minta Seluruh OPD Terus Berinovasi

18/06/2026
Prodi MPBEN USK Angkat Isu Teknologi, Linguistik dan Inovasi Pembelajaran Bahasa Inggris

Prodi MPBEN USK Angkat Isu Teknologi, Linguistik dan Inovasi Pembelajaran Bahasa Inggris

18/06/2026
Pemkab Aceh Selatan Salurkan Bantuan Masa Panik Kebakaran Pesantren

Pemkab Aceh Selatan Salurkan Bantuan Masa Panik Kebakaran Pesantren

18/06/2026

Terpopuler

Diduga Dikuasai Oknum, Aset Alat Berat Pidie Jaya Jadi Sorotan Aktivis

Diduga Dikuasai Oknum, Aset Alat Berat Pidie Jaya Jadi Sorotan Aktivis

17/06/2026

Aliansi Pemuda Pidie Jaya Ultimatum Pemkab dan DPRK: Banjir Surut, Penderitaan Warga Belum Berakhir

Kakanwil Kemenag Aceh Lantik 40 Pejabat Fungsional, Tekankan Inovasi dan Kerja Tim dalam Melayani Umat

Prodi MKM FK USK Perkuat Kerja Sama Internasional dengan Universiti Kebangsaan Malaysia

Kursi Kosong di HUT Pidie Jaya, Simbol Retaknya Harmoni Bupati dan Wakil Bupati?

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com