POJOKAN salah satu Warkop di Banda Aceh tampak sepi dari biasanya,Sabtu pagi 10 April 2021.
Warkop ini biasanya dipenuhi para mahasiswa yang menuntut ilmu di Darussalam. Pagi hari selalu ramai dipadati pengunjung. Namun kini terlihat banyak kursi yang kosong. Ya, mayoritas mahasiswa pulang kampung, namun bukan mudik.
Hanya beberapa PNS yang terlihat ngopi di pagi hari. Saat itu memang baru pukul 08.00 WIB.
Di sisi kiri, seorang pria terlihat duduk menyendiri. Ia salah seorang politisi sekaligus dewan di DPR Aceh.
Wajahnya terlihat kusut. Berkali-kali ia menghembus asap rokoknya tinggi-tinggi.
Seolah-olah ada ‘masalah’ besar yang harus dipikulnya saat ini.
Namun ia dengan cepat memasang wajah penuh senyuman tatkala melihat atjehwatch.com juga berada di lokasi yang sama.
“Neuduek disinoe hai. Hana ureung nyoe,” kata dia mengajak ngopi bareng.
Gelas kopi di depannya sudah kosong. Ini menandakan keberadaannya di Warkopnya tersebut sudah berlangsung lama.
“Dari abeh suboh munoe lon teubit. Teugoh saket ulee bacut,” kata dia lagi.
Sang dewan mengaku memang menghindar dari komplek perumahan selama beberapa hari terakhir. Ini karena jumlah warga yang datang ke Banda Aceh dari Dapilnya terbilang tinggi sejak sepekan terakhir.
Ia hanya meminta tim yang ‘melayani’ pemilih yang datang dari Dapil-nya tersebut.
“Hana peu tajok lee.”
Para wakil rakyat, kata dia, memiliki dilema tersendiri jelang perayaan meugang di Aceh. Ini karena peringatan meugang begitu sakral bagi masyarakat Aceh.
“Dari kemarin itu sudah banyak yang telepon dan WA. Ratusan, dan saya cuma balas untuk bersabar serta saya usahakan,” ujarnya kemudian dalam bahasa Indonesia.
“Peng gaji ka abeh lon kirem keu meugang tim di lapangan. Nyoe goh lom untuk wilayah dan laen-laen. Termasuk yang jak u rumoh.”
Persekali meugang, kata dia, dirinya harus menguras dompet hingga ratusan juta rupiah. Sedangkan meugang di Aceh berlangsung 3 kali dalam setahun.
Meugang jelas puasa, meugang jelang Idul Fitri serta meugang Idul Adha.
“Meunyoe hana peu tajok, nyan dikeun macam-macam. Makajih malas lon buka media sosial siat nyoe.”
“Walau telah kita bantu bertahun-tahun, tapi sekali tidak sanggup kita penuhi, nanti pasti mereka marah-marah,” katanya sambil menarik nafas panjang.
Pembicaraan kemudian terhenti. Dua pria lainnya melambai dari kejauhan dan bergabung dengan kami. Satu orang di antaranya adalah PNS di salah satu lembaga pemerintahan. Seorang lain anggota DPRK salah satu kabupaten kota.
Pembicaraan tentang meugang kemudian kembali berlanjut. “Kon droneuh mantong. Kepala dinas mantong saket ulee,” ujar pria berstatus PNS menimpali.
“Serba salah. Covid membuat warga kian tergantung pada dewan dan para pejabat untuk hari hari khusus di Aceh. Meugang contohnya,” ujar anggota DPRK lagi.
“Semoga meugang cepat berlalu,” celoteh PNS tadi lagi sambil tertawa. []










