Banda Aceh – Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) dan Muda Seudang Aceh melakukan pertemuan di kota Banda Aceh, Sabtu 29 Januari 2022.
Pertemuan itu digelar dalam rangka silaturrahmi, konsolidasi dan melakukan sinergisitas antara JASA dan Muda Seudang Aceh sebagai sebuah lembaga lokal Aceh yang fokus pada isu-isu ke-Acehan.
Ketua Harian Muda Seudang Aceh, Mulia Abdul Wahab mengatakan JASA dan Muda Seudang Aceh merupakan satu keutuhan di bawah KPA dan PA.
“Akan tetapi secara narasi politik yang telah kami coba bangun mungkin ada sedikit perbedaan dengan JASA, dan ini bukan merupakan agenda lain tetapi agenda ini untuk memperluas sayap partai,”kata Mulia.
Ketua Umum Muda Seudang Aceh, Agam Nur Muhajir berharap JASA agar dapat mendukung apa yang sudah terbentuk dalam Muda Seudang dan juga yang akan kita jalankan untuk kedepannya.
Kedepan, kata Agam akan mencoba membuka Partai Aceh untuk kesadaran generasi kedepannya yang sejatinya merupakan partai milik masyarakat Aceh.
“Kami dari Muda Seudang berharap untuk kedepannya kita saling rangkul merangkul untuk membangun kesadaran pemuda aceh dimasa yang akan datang. Maka dari itu hadirnya Muda Seudang yang akan dibantu oleh JASA kita coba untuk diskusi publik yang akan kita jalankan rutin bersama-sama,”sebut Agam.
Sementara Sekretaris Jenderal Muda Seudang Aceh Andy Mu’arif, yang juga ikut hadir dalam pertemuan tersebut menyampaikan, Muda Seudang berangkat dari kesadaran-kesadaran yang bahwa dalam kurun waktu 2020-2030 Aceh akan menghadapi bonus demografi yang begitu besar, dimana umur produktif 60% lebih besar dari pada lainnya.
“Maka dari kesadaran inilah Partai Aceh mengambil kesimpulan untuk segmen kepemudaan kita coba sama-sama berkolaborasi dengan JASA, MUNA, Putroe Aceh, dan lainnya untuk mengsinergisitaskan tujuan kita, karena tujuan kita sama walaupun kita berada dalam lembaga yang berbeda dan kita juga lahir dari perjuangan dengan satu ideologi,” terang Andy.
Oleh sebab itu, Pemuda asal Aceh Utara ini menginginkan agar sama-sama membahas krisis-krisis indentitas, krisis ke-Acehan yang mungkin sudah mulai memudar saat ini.
Ia mencontohkan, banyak pemuda -pemuda yang sekarang ini enggan jika berbicara tentang MoU dan tidak ingin membahas tentang itu.
“Kalau di tahun 2022 MoU sudah tidak pantas dibicarakan lagi ,bagaimana dengan UUD 1945 yang sudah berpuluh-puluh tahun tetapi masih disinggung sampai saat ini. Jadi untuk kedepannya mari kita sama-sama bersosialisasi bahwa ada kesepahaman yang disepakati oleh Pemerintah Aceh dengan pemerintah RI dalam hal konflik aceh selama 30 tahun, maka dari itu mari kita sadarkan kembali pemuda Aceh untuk hal ini kedepannya,”harapnya.
Ketua Pembina JASA, M Jhony dalam pertemuan tersebut ikut menerangkan dalam kehidupan berpolitik harus saling merangkul untuk kepentingan bersama, begitu juga dalam kehidupan lainnya.
“Saya disini sebagai pembina karena saya juga merupakan bagian dari Gerakan Aceh Merdeka dan juga bagian dari Anak Syuhada, saya menjadi anak syuhada pada tahun 2004 berpapasan dengan bulan Ramadhan, maka dari itu saya bersama anak syuhada lainnya berisiatif untuk menjadi penerus dan melanjutkan perjuangan bangsa aceh ini, seperti sumpah yang sudah orang tua kami ikrarkan dalam perjuangan,”papar Jhoni.
Pemuda yang berbicara vokal ini pun menyampaikan, kedepannya Partai Aceh adalah harapan seluruh rakyat aceh harus tanamkan dalam diri kita bahwa ini merupakan kepentingan bersama bukan kepentingan pribadi.
“Jadi inilah saatnya JASA dan Muda Seudang berkolaborasi bersama, dan saya berharap Muda Seudang Aceh bisa menjadi roda terdepan untuk mewujudkan cita-cita rakyat Aceh,”pinta Jhony.










