Jakarta – Inggris gagal mencapai kata sepakat dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab soal pasokan tambahan minyaknya. Dalam misinya lepas dari energi Rusia itu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson yang mengunjungi negara-negara Teluk itu minggu lalu, pulang ke Downing Street 10, dengan tangan hampa.
Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Owen Jenkins, mengatakan, negaranya akan terus berupaya mencari persediaan, selain dari Saudi dan UEA. Sebab, masalah utama dari energi Rusia, menurut Jenkins, adalah keuntungan yang didapat Vladimir Putin dan kroninya digunakan untuk pembiayaan perang.
“Mungkin butuh sedikit waktu, tapi kami ingin melakukannya secepat kami bisa,” kata Jenkins saat ditemui di Gedung Kedutaan Besar Inggris, Jakarta, Rabu, 23 Maret 2022.
Selain masalah kemanusiaan, lepasnya Inggris dari minyak Rusia diyakini Jenkins tepat untuk perubahan iklim, karena negaranya memiliki peluang lebih luas untuk beralih dari bahan bakar fosil. Dia menilai, selama ini tidak ada efisiensi sama sekali dalam penggunaan energi.
“Bukan hanya tentang persediaan, tapi permintaan, pemanfaatan, tentang lingkungan,” ujar Jenkins.
Menteri Bisnis dan Energi Inggris, Kwasi Kwarteng, mengumumkan pada awal Maret, bahwa mereka akan menghentikan impor minyak Rusia dan berbagai produknya pada akhir 2022. Keputusan ini dibuat karena invasi Rusia ke Ukraina.
Sejauh ini, Inggris telah membekukan aset bank Rusia senilai 300 miliar pound atau senilai Rp 5,6 kuadriliun. Pengoperasian Bank Rusia dengan aset global sebesar 348 miliar pound atau senilai Rp 6,4 kuadriliun, serta Bank Sentral di Moskow, juga telah diputuskan. Selain itu, Inggris juga menghapus bank-bank penting Rusia dari SWIFT atau sistem pembayaran internasional.
Inggris memberikan sanksi kepada lebih dari 1000 individu, entitas, dan anak perusahaan sejak invasi Putin ke Ukraina. Demi melakukannya, undang-undang di Inggris diubah dengan tujuan bisa mengambil tindakan lebih keras terhadap oligarki dan pihak lain di sekitar Putin. Lebih dari 3 juta perusahaan Rusia, termasuk Gazprom, mengumpulkan uang di pasar modal Inggris.
Inggris juga menambah tarif impor sebesar 35 persen bagi sejumlah barang dari Rusia dan Belarusia. Larangan ekspor barang mewah kelas atas ke Rusia juga diberlakukan. Inggris pun melarang pesawat Rusia untuk beroperasi di wilayah udara negaranya, begitu pun dengan kapal.











