BANDA ACEH – Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh bersama dengan Prodi Ilmu Perpustakaan FIS UIN Sumatera Utara menggelar Webinar Series dan Studium General secara virtual, Senin (20/6/2022).
Diskusi ilmiah ini mengangkat tema “Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Ontologi dan Epistemologi” dan turut menghadirkan narasumber Guru Besar Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Sumatera Utara, Prof Dr Jonner Hasugian MSi bersama Putu Laxman Pendit PhD peneliti dan dosen di RMIT University, Melbourne Australia yang dipandu secara langsung oleh dosen Ilmu Perpustakaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Drs Saifuddin A Rasyid MLIS.
Ketua Prodi Ilmu Perpustakaan FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Nurhayati Ali Hasan MLIS menjelaskan bahwa webinar series dan studium general tersebut merupakan bentuk kolaborasi Prodi Ilmu Perpustakaan FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh dengan Prodi Ilmu Perpustakaan FIS UIN Sumatera Utara, sekaligus bertujuan untuk mendorong keterlibatan dosen Prodi Ilmu Perpustakaan dalam pengembangan Ilmu Perpustakaan dan Informasi.
“Selain meningkatkan kolaborasi dosen dan Prodi Ilmu Perpustakaan yang tergabung dalam ASDIP-PTKI Se Indonesia dalam membicarakan isu-isu mutakhir tentang Ilmu Perpustakaan dan Informasi, luaran kegiatan ini menjadi salah satu chapter bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi yang akan dikeluarkan oleh ASDIP-PTKI,”kata Nurhayati Ali Hasan dalam keterangan tertulis, Senin (20/6/2022).
Sementara itu, Ketua Asosiasi Dosen Ilmu Perpustakaan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (ASDIP-PTKI) Se Indonesia, Prof Dr Nurdin Laugu MA dalam sambutannya mengatakan bahwa pertemuan ini merupakan diskusi ilmiah yang nantinya akan menjadi salah satu bagian chapter buku yang dirancang oleh ASDIP.
“Diskusi yang kita bahas saat ini adalah sesuatu hal yang sangat penting terkait wacana dan landasan yang akan mengungkap pondasi keilmuan bidang Perpustakaan dan Informasi,”kata Profesor Bidang Ilmu Perpustakaan dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Senada hal tersebut, Dekan FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Dr Fauzi Ismail MSi sangat mengapresiasi dan menyambut baik atas kegiatan tersebut. Fauzi berharap kegiatan-kegiatan seperti ini ke depannya terus ditingkatkan sebagai salah satu upaya meningkatnya kolaborasi dosen dan Program Studi Ilmu Perpustakaan yang tergabung dalam ASDIP-PTKI.
“Saat ini kita sudah berada di sebuah masa di mana globalisasi menjadi trend yang tidak dapat lagi dihindari. Berbagai produk menarik yang diusung oleh globalisasi boleh dikatakan sangat menuntut kita untuk senantiasa kompeten di segala lini tanpa mengesampingkan interaksi sosial dengan selalu bersinergi guna berkontribusi terhadap pendidikan terutama dalam dunia kepustakawanan,”kata Fauzi.
Sementara itu, dalam pemaparannya Prof Dr Jonner Hasugian MSi menjelaskan bahwa penggabungan istilah Library Science dengan Information Science menjadi Library and Information Science (LIS) membuat perdebatan panjang oleh para ilmuan terhadap ontologi dan espitomologi LIS.
Menurutnya, disatu sisi, banyak ilmuan yang menolak keberadaan ilmu informasi dikaitkan dengan kepustakawanan akan tetapi disisi lain banyak penelitian yang terus bermunculan terkait dengan kombinasi kedua istilah tersebut (LIS).
Pada sesi kedua, dalam materinya Putu Laxman Pendit PhD menjelaskan kajian ontologis dan filosofis tentang pustaka dan informasi masih menyisakan ruang diskusi yang amat luas dan amat perlu untuk terus dijelajahi, tanpa harus mengubah perspektif atau posisi pandang masing-masing ilmuwan.
“Di tataran praktis memang terjadi perubahan mendasar akibat penggunaan teknologi informasi, sehingga segala sesuatu dikaitkan dengan informasi. Situasi penuh perubahan ini cocok dicermati melalui pemikiran Slavoj Zizek tentang “parallax ontology” untuk meninjau dan memahami berbagai perbedaan sisi-pandang dan isu ontologis tentang sesuatu yang sebenarnya sama,”kata Putu Laxman.
Lebih lanjut, Putu menjelaskan Ilmu Perpustakaan dan Informasi sebagai multidisiplin sudah dilengkapi dengan desain ilmiah yang membuka luas ruang diskusi di tingkat akademik.
“Berbagai perspektif dan orientasi dalam penelitian dapat digunakan untuk mengkaji pustaka dan informasi, sekaligus untuk memberikan kepastian ontologis tentang pustaka dan informasi dalam konteks sosial dan budaya,” kata Putu. []










