Jakarta – Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan bahwa Moskow akan membantu rakyat Ukraina menyingkirkan rezim Kiev yang tak merakyat dan anti-sejarah. Saat ini Ukraina berada di bawah pimpinan Presiden Volodymyr Zelensky yang menentang invasi Rusia.
“Kami bersimpati dengan rakyat Ukraina, yang pantas mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik. Kami menyesal bahwa sejarah Ukraina hancur di depan mata kami,” kata Lavrov dalam pertemuan dengan duta besar negara-negara anggota Liga Arab di Kairo, Minggu, 24 Juli 2022, seperti dilansir TASS.
“Kami minta maaf kepada mereka yang telah menyerah pada propaganda negara rezim Kiev dan bagi mereka yang mendukung rezim ini, yang ingin Ukraina menjadi musuh abadi Rusia,” ujar Sergey Lavrov menambahkan.
Lavrov menegaskan, rakyat Rusia dan Ukraina akan terus hidup bersama. “Kami akan membantu rakyat Ukraina menyingkirkan rezim yang benar-benar anti-populer dan anti-sejarah,” janjinya.
Lima bulan berlalu sejak Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan invasi ke Ukraina pada 24 Februari 2022. Sampai saat ini, Rusia belum berhasil menjatuhkan pemerintahan Kyiv dan melanjutkan menggempur negara tetangga, sama-sama bekas anggota Uni Soviet.
Moskow mengatakan apa yang dilancarkannya itu sebagai sebuah operasi militer untuk denazifikasi dan demiliterisasi Ukraina. Negara-negara Barat mengecam Kremlin dengan menjatuhkan sanksi ekonomi dan mengirim bantuan senjata ke Ukraina.
Manuver pasukan Rusia pada awal invasi hampir menyentuh ibu kota Kyiv. Namun, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pada 25 Maret bahwa fase pertama dari operasi khusus telah selesai dan sekarang akan fokus pada pembebasan Donbas.
Belum lama ini, Lavrov menyatakan, target geografis operasi militer khusus Moskow di Ukraina saat ini tidak lagi terbatas pada wilayah timur atau Donbas.
Saat wawancara dengan kantor berita Rusia RIA Novosti, Lavrov menegaskan operasi Rusia akan mencakup sejumlah wilayah lain. Tujuan Rusia akan berkembang lebih jauh jika Barat mengirimkan senjata jarak jauh ke Kyiv.
Masalah lain berupa krisis pangan dan ketersediaan energi pun muncul dari konflik ini. Kedua negara, ditengahi pihak ketiga Turki dan PBB, baru saja menyepakati solusi ekspor pangan Ukraina yang terkunci sejak perang. Namun serangan Rusia di Odesa menimbulkan kekhawatiran gagalnya kesepakatan itu dan krisis makin panjang.
Di sektor Energi, Uni Eropa sepakat menghentikan impor minyak dari Rusia yang akan berlaku pada akhir tahun. Rusia membalasnya dengan menghentikan pasokan ekspor gas ke Eropa. Benua Biru, yang sangat bergantung pada energi Moskow, sedang mencari mitra lain.










