Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Kampus

Dua Akdemisi UIN Ar-Raniry Bahas Kurikulum MBKM di STAIN Meulaboh

Atjeh Watch by Atjeh Watch
16/11/2022
in Kampus
0

MEULABOH – Dua akademisi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh mereview kurikulum berbasis Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang digelar Jurusan Dakwah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh, Kamis (10/11/2022).

Kedua akademisi UIN Ar-Raniry tersebut antara lain Sekretaris Program Studi Magister (KPI) Pascasarja, Azman, S.Sos.I, M.I.Kom dan Nurullah, STh MA, Dosen Ilmu Alquran dan Tafsir Fakultas Usuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Azman menyebutkan, bahwa MBKM merupakan peluang bagi mahasiswa untuk lebih bisa meningkatkan kompetensinya sesuai passionnya sendiri.

Bahkan kata Azman, MBKM ini sangat menguntungkan bagi mahasiswa komunikasi. Mahasiswa komunikasi dibutuhkan pada hampir semua perusahaan dan instansi, dengan MBKM mahasiswa bisa kuliah pada prodi di luar prodinya sendiri sesuai bidang ilmu yang ingin dikuasainya diuar ilmu komunikasi.

Ditambahkan, belum lagi saat magang yang dilakukan selama satu semster atau enam bulan, tentunya akan membentuk kepribadian dan memiliki kompetensi sesuai dengan yang diharapkan perusahaan. Artinya MBKM ini membuka, mendekatkan mahasiswa pada dunia usaha dan dunia industri bahkan menjadi jembatan adaptasi pada setiap perubahan yang begitu cepat.

Untuk itu, hemat Azman menyampaikan, bahwa pelaksanaan MBKM harus dimulai dari institusi, dengan menyiapkan pedoman yang jelas. Pedoman tersebut nantinya akan menjadi rujukan jurusan dan program studi dalam merumuskan kurikulum dan hal lainnya dalam pelaksanaan MBKM.

Sementara itu, Nurullah menyampaikan bahwa kurikulum adalah nyawa dari sebuah Program Studi, maka dibutuhkan kerja yang serius dalam mewujudkannya, sejak dari perancangan, pelaksanaan sampai evaluasi.

Perubahan zaman dan perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni (IPTEKS) menjadikan kompetensi lulusan Perguruan Tinggi yang dibutuhkan masyarakat dan pengguna lulusan juga berubah, sehingga perubahan kurikulum pada sebuah program studi merupakan keniscayaan selama perubahan tersebut tidak bertentangan dengan filosofi pendidikan dan aturan-aturan yang berlaku.

Oleh karena itu Nurullah menegaskan, Program Studi perlu memastikan keterlibatan semua pemangku kepentingan dalam penyusunannya, baik internal maupun eksternal. Pihak internal terdiri dari dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa, serta pihak eksternal yang meliputi para alumni, pakar, mitra, pengguna lulusan, pemerintah terkait, DUDI maupun masyarakat.

“Keterlibatan semua pemangku kepentingan ini, di samping agar kurikulum yang dihasilkan memenuhi kebutuhan internal, dalam hal ini kebutuhan peserta didik dan menyahuti harapan eksternal yakni user, juga menjadi salah satu syarat yang dituntut dalam proses akreditasi,” ujarnya

Sebelumnya, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Syibran Mulasi dalam sambutannya mengatakan, peninjauan kembali kurikulum untuk menyesuaikan dengan format MBKM sangat penting, karena lapangan kerja semakin terbuka.

Disamping itu, tanggungjawab kampus pun bukan hanya sebatas meluluskan mahasiswa, namun juga seberapa cepat lulusan diterima di dunia kerja. “Hal itu menjadi salah satu tolak ukur akreditasi prodi,” tegasnya.

Untuk membahas hal tersebut kata Syibran, workshop review kurikulum implementasi MBKM tersebut menghadirkan beberapa narasumber, yakni Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Abdur Rozaki, dua akademisi UIN Ar-Raniry yakni Azman dan Nasrullah. [*]

Previous Post

Syech Fadhil: Alam Peudeung Simbol Kejayaan Islam di Aceh

Next Post

Bupati Aceh Selatan Tgk Amran Sidak Pasar Inpres Tapaktuan

Next Post

Bupati Aceh Selatan Tgk Amran Sidak Pasar Inpres Tapaktuan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

International Office UIN Ar-Raniry Gelar Webinar Karier Internasional “The Aussie Hustle”

International Office UIN Ar-Raniry Gelar Webinar Karier Internasional “The Aussie Hustle”

14/06/2026
Cabdisdik Aceh Timur Sukses Gelar O2SN, SMAN Unggul Raih Juara Umum

Cabdisdik Aceh Timur Sukses Gelar O2SN, SMAN Unggul Raih Juara Umum

14/06/2026
Pesisir Pantai Lambadeuk Ditanami 200 Batang Mangrove

Pesisir Pantai Lambadeuk Ditanami 200 Batang Mangrove

14/06/2026
Kapal Mati di Tengah Laut, 26 Penumpang Dievakuasi ke Pulau Panggang

Kapal Mati di Tengah Laut, 26 Penumpang Dievakuasi ke Pulau Panggang

14/06/2026
Isi Draf Kesepakatan Damai AS-Iran

Isi Draf Kesepakatan Damai AS-Iran

14/06/2026

Terpopuler

Dua Akdemisi UIN Ar-Raniry Bahas Kurikulum MBKM di STAIN Meulaboh

16/11/2022

Sambut HUT ke-19 Pidie Jaya, Pemkab Luncurkan Twibbon Resmi untuk Masyarakat

Di Balik WTP, BPK Bongkar Dana BOSP Rp312 Juta Bermasalah di Pidie Jaya

Polhukab IPELMASRA Tolak Tambang Beutong Ateuh

Ohku, Wabup Pidie Jaya Absen di Paripurna HUT ke-19, Ada Apa Dibalik Ketidakhadirannya?

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com