Catatan Perjalanan Bersama UAS (Bagian 1)
Ustadz Abdul Somad (UAS) tersenyum sumbrigah saat melihat Syech Fadhil menyambut kedatangannya di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh, Sabtu siang pekan lalu.
Pandangannya tertuju pada peci Alam Peudeung yang dipakai Senator DPD RI asal Aceh itu. Peci ini memang identic dengan Syech Fadhil selama dipercaya sebagai wakil daerah Aceh di Seunayan. Dalam sejumlah aktivitas, Syech Fadhil kerap memakai peci tersebut.
Bagi Syech Fadhil, senyuman UAS ini penuh arti. Apalagi saat itu, UAS Cuma mengenakan peci biasa.
Usai bersalaman, keduanya menuju mobil dan rombongan yang menunggu mereka di luar. Syech Fadhil semobil dengan UAS.
Mobil yang mereka tumpangi kemudian melaju dengan kecepatan sedang. Sedangkan rombongan kami (penulis-red) mengekor dari arah belakang.
Rombangan ini kemudian singgah di Dayah Ar-Risalah Bilingual School di kawasan Meunasah Papeun. Jadwal UAS singgah di dayah ini tak dipublikasi ke media, namun jumlah warga yang hadir tetap membludak.
Usai ceramah dan satu jam berlalu, UAS dan rombongan konvoi ke sebuah rumah di kawasan Peuniti Banda Aceh.
Di rumah inilah, rencananya UAS dan rombongan bermalam selama berada di Banda Aceh pada 24 Desember. Sedangkan dari 25-26 Desember, UAS rencananya akan tabligh akbar di pesisir barat selatan Aceh. Secara otomatis juga akan menginap di lokasi acara.
Kemudian baru kembali ke Banda Aceh pada Senin malam 26 Desember dan menginap di lokasi yang sama.
Turun dari mobil di Peuniti, pandangan UAS masih tetap tertuju pada peci Syech Fadhil. Hal inilah yang membuat Syech Fadhil penasaran.
Usai memasuki penginapan, Syech Fadhil memanggil seorang stafnya untuk masuk dan menemuinya. Sosok yang dipanggil adalah Ahmad Syukran. Sosok ini kebetulan semobil dengan penulis.
“Kita ke tempat Qarni sekarang. Kita ambil peci Alam Peudeung,” kata pria muda yang akrab dipanggil Syukran usai menemui Syech Fadhil.
“Sepertinya UAS ingin memakai Peci Alam Peudeung,” katanya lagi.
Sosok Qarni yang disebut Syukran merupakan owner Peci Alam Peudeung atau pemilik Al-Qarni Souvenir Aceh.
Kami berlima semobil saat itu. Ada Syukran, penulis, dan seorang tokoh muda yang juga ketua pemuda Desa Lamdom bernama Almahidir. Ia bertindak sebagai sukarelawan sopir dalam perjalananan kali ini.
Kemudian ada Agus yang juga mantan kombatan GAM asal Aceh Besar yang kini rutin mengikuti pengajian. Baik Agus dan Almahidir, ternyata niat yang sama untuk bergabung dalam tim UAS Aceh.
“Minimal dengan dekat UAS, saya memperoleh pencerahan untuk hidup yang lebih baik,” ujar Agus terkait motifnya. Sedangkan Almahidir hanya mengangguk sepakat.
Terakhir, ada pria muda lainnya bernama Farhan atau kami sapa Teungku Farhan. Dia pernah menempuh pendidikan S2 di kampus Liga Arab dan juga tergabung dalam keluarga IKAT Aceh.
Nah, dari Peuniti, rombongan kecil kami bergerak ke depan Dayah Insafuddin Banda Aceh, lokasi Al-Qarni Souvenir atau tempat peci Alam Peudeung diproduksi.

Kami menamakan tim kecil ini dengan sebutan ‘tim perjuangan.’ Karena ada Agus yang mantan pemberontak yang sedang berusaha menjadi lebih baik. Serta kami lainnya yang juga masih banyak melanggar aturan agama. Usaha dan perjuangan untuk menjadi lebih baik jadi alasan dibalik penambalan nama tadi walaupun hanya untuk lucu-lucuan.
Di Al Qarni, Ustadz Syukran mengambil peci Alam Peudeung sekitar 18 unit dengan berbagai ukuran.
Hanya belasan menit di sana, kami kemudian bergegas pulang. Ini karena usai Magrib, UAS rencananya akan tampil ceramah di Masjid Keuchiek Leumik, Banda Aceh. Namun baru sekitar 500 meter, Ustadz Syukran kembali memutuskan untuk kembali ke toko Al Qarni.
“Sepertinya ukuran peci UAS nomor 9. Kita balik,” ujar dia.
Selesai di Al-Qarni, kami bergegas putar arah. Sedangkan di penginapan Peuniti, sejumlah warga terlihat mulai berdatangan. Mayoritas ingin didoakan dan berfoto dengan UAS.
Syukran minta izin masuk dan menyerahkan sejumlah peci Alam Peudeung ke Syech Fadhil.
UAS yang menerima peci Alam Peudeung terlihat langsung tersenyum sumbrigah. Dai kondang itu terlihat bangga memakai peci khas bendera kerajaan Aceh di masa lalu. Demikian juga dengan tim yang menyertai UAS dari Riau dan panitia dari IKAT Aceh.
“Di Aceh na Alam Peudeung. Cap Sikureung bak jaroe raja,” ujar seorang panitia lokal.
“Peci Syech Fadhil nie,” kata lainnya.
[Bersambung]











