SUKA MAKMUE – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, mencatat, luas kebakaran lahan yang saat ini terjadi di sejumlah kawasan di daerah tersebut telah mencapai 13 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Nagan Raya, Aceh, Irfanda Rinadi menyampaikan, meluasnya titik kebakaran lahan ini disebabkan oleh terbatasnya sumber air di lokasi kebakaran, sehingga upaya pemadaman menjaddi terkendala.
Lokasi kebakaran lahan ini berada di kawasan Desa Sumber Bakti (Pulo Kruet), Kecamatan Darul Makmur, dengan luas lahan gambut yang terbakar mencapai tiga hektare.
“Titik api di lokasi ini telah berhasil dipadamkan sekitar 90%, tetapi kondisi di lokasi masih sangat rawan terjadinya kebakaran karena terbatasnya sumber air untuk dilakukan pemadaman,” kata Irfanda Rinadi dikutip Antara, Jumat (16/6/2023).
Selain itu, di Desa Kayee Uno, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, juga terdapat lahan yang terbakar dengan luas sekitar enam hektare. Sementara di Desa Lawa Batu, Kecamatan Kuala, Kabupaten Nagan Raya, luas lahan yang terbakar mencapai sekitar tiga hektare dan kobaran api telah berhasil dipadamkan.
Untuk lokasi kebakaran di Desa Alue Ie Mameh, Kecamatan Suka Makmue, Kabupaten Nagan Raya, luas lahan yang terbakar sekitar satu hektare. Hingga Jumat malam, api sudah berhasil dipadamkan.
Untuk memadamkan api, BPBD Nagan Raya beserta tim gabungan mengarahkan enam unit mesin pompa air. Tim pemadaman yang terlibat terdiri dari BPBD Nagan Raya, Kodim 0116 Nagan Raya, Polres Nagan Raya, serta PT SPS.
Sementara itu, Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Safrizal ZA mengingatkan kepada pemerintah daerah (pemda) agar serius dalam penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Pelibatan masyarakat mutlak dibutuhkan, dan wadahnya telah dibentuk dalam Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar). Tugas pemerintah daerah untuk segera memfasilitasi pembentukannya, karena dengan segenap kekuatan rakyat yang bahu membahu dengan personel damkar, BPBD, TNI/Polri dan seluruh pihak terkait, maka ancaman bencana karhutla dapat dicegah dan ditekan risikonya seminimal mungkin,” ujar Safrizal, Jumat (16/6/2023).
Menurut Safrizal, respons pertama terhadap penanggulangan bencana karhutla menjadi sangat penting untuk mencegah meluasnya kebakaran, sekaligus memperkecil dampak yang mungkin timbul. Oleh karena itu, ia mengimbau seluruh jajaran harus berkolaborasi, sehingga dapat melipatgandakan personel dan kekuatan.











