BANDA ACEH – Eskalasi konflik antara Palestina dan Israel meningkat sejak Sabtu, (7/10) lalu. Hingga Hari ini, lebih dari 1.500 korban meninggal dunia akibat kejadian ini, dan ribuan lainnya mengalami luka-luka. Israel menyatakan perang terbuka terhadap palestina dalam konflik ini. Bahkan Israel telah mengumumkan blokade total dan melarang pengiriman air dan makanan ke Gaza.
Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh, Khalid Muddatstsir mengatakan tragedi yang meledak di Palestina adalah krisis kemanusiaan (al-azmah al-insaniyah) yang memprihatinkan, yang sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, bahkan sebelum Israel berdiri sebagai negara pada 1948. Ia menyebut bahwa Israel adalah satu-satunya negara di dunia yang didirikan di atas tanah orang lain dengan mengusir penduduk aslinya yaitu Palestina.
Khalid mengajak semua pihak untuk menyuarakan keadilan bagi rakyat Palestina. Khalid juga menekankan perlunya edukasi diri dalam mendudukkan akar masalah asal usul terjadinya tragedi tersebut.
“Kita sering salah memahami, yang terjadi di Palestina ini bukanlah konflik. Ini adalah penjajahan dan pendudukan ilegal tanah Palestina. Ini bukanlah konflik dengan dua pihak yang setara. Ini upaya Palestina melawan penjajahan Israel dan kolonialisme pemukim yang setiap hari merampas tanah Palestina sampai hari ini. Untuk mengenal isu di Palestina, harus diawali dengan menyakini bahwa ini adalah penjajahan,” kata Khalid.
Khalid menyebut bahwa dengan menempatkan ini sebagai perjuangan melawan kolonialisasi, kita dapat memusatkan perhatian pada kisah penjajahan Palestina dan mengakui hak sah Palestina untuk memperoleh kemerdekaan mutlak yang telah dirampas Israel, dengan melakukan perlawanan.
“Kita sangat prihatin dengan terjadinya tragedi ini. Kami mengajak semua pihak menyuarakan dan membantu Palestina. Tak bisa kita pungkiri, tragedi ini dapat menimbulkan dampak kemanusiaan yang lebih besar. Edukasi akar masalah konflik Palestina perlu kita syiarkan, agar sejarah tidak terkaburkan. Kesadaran terhadap sejarah merupakan langkah awal dalam mengubah respon dan Tindakan,” ucap Khalid.
Lebih lanjut, Khalid Muddatstsir mengapresiasi pemerintah Indonesia yang memilik prinsip jelas dan tegas dalam menyikapi isu Palestina. Indonesia yang dari dulu konsisten menuntut perdamaian dan membela hak warga Palestina patut di tiru negara lain. IKAT menegaskan pentingnya solidaritas global dalam menghadapi krisis ini. Menurutnya, tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina merupakan aib besar sejarah manusia modern pasca Perang Dunia kedua.
“Apresiasi kepada pemerintah Indonesia yang berani bersikap dalam menyelesaikan tragedi kemanusiaan ini. Konsistensi Indonesia dalam ketika membicarakan penyelesaian konflik Palestina tidak dapat disangsikan. Walaupun Indonesia hanya menyuarakan, tapi hal itu tidak kalah signifikan di saat yang memiliki otoritas melerai masih diam. Kepada seluruh pemimpin dunia, bertindaklah dengan tegas dalam membantu rakyat palestina yang tertindas demi mengembalikan hak, tanah air dan kehormatannya,” kata khalid.
Khalid berharap pertumpahan darah segera berakhir. Ia mengajak semua elemen di Aceh untuk melaksanakan ajakan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh untuk mendoakan dan membaca qunut nazilah bagi umat Islam Palestina di setiap shalat fardhu.
“Mari kita langitkan doa untuk para korban, dan kita baca qunut nazilah di setiap selesai shalat fardhu, sebagaimana ajakan para guru dan ulama kita di MPU, sebagai bentuk partisipasi dan solidaritas kita kepada saudara seiman di Palestina. Terlepas konflik ini kemanusiaan atau agama, namun mari kita doakan agar jembatan perdamaian dan keadilan segera terealisasi,” tutup Khalid.











