Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Lintas Barat Selatan

Sudah Mengakar di Abdya, Tradisi Manoe Pucoek Diusulkan Jadi WBTb

Atjeh Watch by Atjeh Watch
08/11/2023
in Lintas Barat Selatan
0
Sudah Mengakar di Abdya, Tradisi Manoe Pucoek Diusulkan Jadi WBTb

BANDA ACEH – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), akan segera mengusulkan tradisi Manoe Pucoek atau mandi pucuk yang sudah berlangsung secara turun temurun di daerah itu jadi Warisan Budaya Tak benda (WBTb), sebagai langkah upaya melindungi dan melestarikan budaya di Indonesia.

Wakil Kepala Sekretariat Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 Kontingen Abdya Usmadi di Banda Aceh mengatakan, tradisi manoe pucoek menjadi salah satu budaya yang juga akan dipertunjukkan dalam ajang PKA dan ajang ini menjadi momentum tepat untuk mengusulkan tradisi Manoe Pucoek Aceh Barat Daya sebagai WBTb.

“Maka kita berharap manoe pucoek ini menjadi warisan budaya tak benda yang akan ditetapkan oleh Kemendikbud,” kata Usmadi.

Ia menjelaskan prosesi manoe pucok biasanya berlangsung saat upacara perkawinan dan sunat Rasul atau khitan di tengah masyarakat Aceh Barat Daya. Manoe pucok dilakukan dalam rangka memberi nasihat kepada pengantin perkawinan maupun sunat.

Menurut Usmadi, tradisi Manoe Pucoek ini menjadi nasihat terakhir dari orang tua atau anggota keluarga inti kepada pasangan pengantin yang akan menempuh hidup baru, atau seorang anak yang akan beranjak dewasa setelah menjalani sunat.

“Manoe pucok ini di Abdya, di manapun kita lihat dari ujung Kecamatan Babahrot sampai Kecamatan Lembah Sabil, setiap ada acara pesta perkawinan atau sunat rasul, maka ada prosesi Manoe Pucoek,” ujar Kepala Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Abdya itu.

Menurut Usmadi, hasil kajian yang dilakukan selama ini oleh akademisi Abdya bahwa tradisi manoe pucok tersebut sudah memenuhi segala persyaratan untuk diusulkan sebagai WBTb.

“Baik dari segi lamanya adat kebudayaan yang berkembang, kemudian ada maestro atau guru budayanya sebagai narasumber dan ini sudah merakyat di Aceh Barat Daya,” ujarnya.

Dalam kajian itu juga disebutkan, manoe merupakan bahasa Aceh yang memiliki arti mandi, yaitu memandikan pengantin, baik pengantin perkawinan laki-laki dan perempuan maupun pengantin sunat.

Sedangkan Pucoek berarti daun yang paling muda atau pucuk daun yang paling atas dari sebatang pohon kayu.

“Pucoek yang dimaksud yakni perbuatan terakhir yang dilakukan oleh kedua orang tua kepada anaknya yang akan menikah dan tahap pertama bagi seorang anak laki-laki yang akan disunat dan ungkapan yang disimbolkan dalam pembersihan diri sebelum menempuh kehidupan yang baru,” ujarnya.

Disebutkan juga, manoe Pucoek dimulai dengan membaca shalawat dan doa dengan irama khas. Lalu, dilanjutkan dengan kisah Saidina Hasyem, anak Siti Zainab, yang merupakan cucu Rasulullah SAW waktu mengikuti perang sabil.

Irama yang dilantunkan oleh syahi juga sangat khas. Irama ini tidak boleh diganti dengan irama lainnya, sebab akan mengurangi nilai estetika dan nilai rasa di dalam pelantunannya. Iramanya pilu dan menyayat, mendayu, dan sedih bila direnungkan. Pada penutup, pengantin akan dimandikan dengan air khusus di tempat duduknya.

“Semua persyaratan sudah kita lengkapi untuk pengusulan menjadi warisan budaya tak benda. Selain manoe pucok, kita juga mengusulkan tari rateb meuseukat dan tari phoe sebagai WBTb,” ujarnya.

Sumber: aceh.antaranews.com

Previous Post

Prodi Ilmu Perpustakaan UIN Latih Kompetensi Tenaga Perpustakaan di Aceh

Next Post

Pascasarjana UIN Ar-Raniry Gelar PKM Kolaborasi Internasional di Bener Meriah

Next Post
Pascasarjana UIN Ar-Raniry Gelar PKM Kolaborasi Internasional di Bener Meriah

Pascasarjana UIN Ar-Raniry Gelar PKM Kolaborasi Internasional di Bener Meriah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Wakili Peukan Bada, Guru Al Zahrah Ini Juara Qiraah Sab’ah MTQ Aceh Besar 2026

Wakili Peukan Bada, Guru Al Zahrah Ini Juara Qiraah Sab’ah MTQ Aceh Besar 2026

31/10/2026
Ketua YARA Safaruddin Raih Penghargaan Pembela dan Pejuang HAM pada JAB Award 2026 ‎

Ketua YARA Safaruddin Raih Penghargaan Pembela dan Pejuang HAM pada JAB Award 2026 ‎

31/10/2026
Partai Aceh Dorong Kader Adaptif, 91 Peserta Ikuti Seminar Penguatan Ideologi dan Kepemimpinan

Partai Aceh Dorong Kader Adaptif, 91 Peserta Ikuti Seminar Penguatan Ideologi dan Kepemimpinan

31/10/2026
Dinkes Banda Aceh Periksa Kesehatan Lingkungan Asrama Haji Jelang Embarkasi

Dinkes Banda Aceh Periksa Kesehatan Lingkungan Asrama Haji Jelang Embarkasi

31/10/2026
Bupati Aceh Tamiang Hadiri Pelantikan Pengurus Front PETA Periode 2026 – 2031

Bupati Aceh Tamiang Hadiri Pelantikan Pengurus Front PETA Periode 2026 – 2031

31/10/2026

Terpopuler

Sat Reskrim Polres Abdya Amankan Penimbun 240 Liter Solar Subsidi di Babahrot

Sat Reskrim Polres Abdya Amankan Penimbun 240 Liter Solar Subsidi di Babahrot

30/10/2026

Ohku, Sengketa Tanah Wakaf Memanas, Warga Pasang Spanduk Larangan di MAN 1 Pidie Jaya

Sengketa Tanah Wakaf Masjid At-Taqwa Pidie Jaya: Sertifikat MAN 1 Digugat, Pembangunan Diminta Berhenti

Absen di Apel dan Sumpah Pemuda, Bos J Sentil Wabup Pidie Jaya: Jabatan Bukan Sekadar Simbol

26 Peserta Peukan Bada Masuk Final MTQ Ke-35 Kabupaten Aceh Besar

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com