BANDA ACEH – Pemerintah inggris berkomitmen untuk memperkuat kerjasama dengan Universitas Syiah Kuala terkait dengan upaya pengembangan sektor pendidikan, politik, dan lingkungan hidup.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mr Sam Perkins yang merupakan konselor politik Duta Besar Inggris untuk Indonesia pada pertemuan antara perwakilan pemerintah Inggris dengan pimpinan Universitas Syiah Kuala (USK) bertempat di ruangan mini USK Rabu 24 April 2024.
Pimpinan USK dalam hal ini diwakili oleh dr. Iflan Nauval, M. ScIH, Sp.GK (K), Sp.KKLP, AIFO-K (Direktur Direktorat Perencanaan dan Kemitraan) menyambut baik rencana kerjasama tersebut. Dalam sambutannya, dr.Iflan memperkenalkan potensi yang dimiliki oleh Universitas Syiah Kuala saat ini, diantaranya; TDMRC, ARC, dan pusat riset sosial dan perdamaian, serta pusat riset lainnya. Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui kerjasama antara pemerintah Inggris dengan USK ke depan.
“Saat ini USK sedang transisi dari BLU ke PTN-BH, status baru ini menghadirkan tantangan tersendiri disatu sisi dan juga peluang untuk meraih kemajuan disisi lain. Artinya melalui status baru ini, USK lebih leluasa dalam menjalin kerjasama dengan berbagai pihak terkait dengan upaya pengembangan institusi. Dengan potensi yang ada saat ini, USK telah mendesain langkah-langkah strategis untuk mewujudkan World Class University. Kerjasama antara pemerintah Inggris dengan USK akan memberikan efek yang sangat positif bagi USK, terutama dalam aspek penguatan SDM, sarana dan prasarananya juga,” sebut Iflan.
Kemudian, perwakilan pemerintah Inggris Mr. Mr Sam Perkins menyampaikan apresiasi yang cukup positif atas sambutan pihak USK untuk memperkuat kerjasama dengan pemerintahan Inggris.
“Kami sangat mengapresiasi sambutan pihak pimpinan USK yang telah menerima kunjungan kami. Kunjungan kami saat ini adalah untuk memperkuat kembali kerjasama yang pernah terjalin antara pemerintah Inggris dengan Universitas Syiah Kuala. Kami sangat fokus untuk bidang pendidikan, politik (democracy, counter radicalism and terrorism) dan juga sektor lingkungan. Kita akan memulai kerjasama untuk memperkuat SDM USK melalui pembukaan ruang-ruang yang lebih luas untuk akses beasiswa S2 dan S3 bagi dosen di USK yang akan melanjutkan studi S2 dan S3 di Inggris, dan kami akan memastikan ruang itu terbuka lebar untuk sektor-sektor perioritas yang dapat mendorong Suistainable Development Goals (SDGs) dan bermanfaat bagi Aceh. Aceh menjadi salah satu prioritas pemerintahan inggris ke depan, karena Aceh sebagai wilayah yang pernah dilanda musibah gempa bumi, tsunami dan konflik, sehingga perlu adanya dorongan besar untuk membangun Aceh yang lebih baik (build back better Aceh) ke depan,” tegas Sam.
Pertemuan tersebut juga turut hadir Prof. Dr. Mailizar., M.Ed., merupakan alumni penerima beasiswa dari pemerintah Inggris, pihak TDMRC yang diwakili oleh Dr. Ella Meilianda, ST., M.T dan Dr. Haekal Haridhi, serta juga turut hadir bapak Rahmat Saleh, S.Sos., M.Comn., Faradilla Fadlia S.Sos., Maimun., S.Pd., MA. Yang merupakan perwakilan FISIP USK.
Hasil dari pertemuan tersebut akan ditindaklanjuti dan dituangkan dalam bentuk MoU antara Pemerintah Inggris dengan Universitas Syiah Kuala untuk peningkatan SDM di USK, penguatan kapasitas, penguatan, sarana dan prasarana di USK.










