Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Nanggroe

Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Anggrek Akar di Aceh

redaksi by redaksi
29/03/2025
in Nanggroe
0
Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Anggrek Akar di Aceh

Jakarta – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan spesies baru anggrek akar tak berdaun yang merupakan spesies anggrek endemik Sumatra dari genus Chiloschista (Orchidaceae). Spesies baru dari Aceh itu diberi nama Chiloschista tjiasmantoi Metusala, mengambil nama filantropis lingkungan Wewin Tjiasmanto.

“Nama Chiloschista tjiasmantoi disematkan sebagai penghargaan atas dukungannya terhadap upaya pelestarian flora di Indonesia, khususnya Aceh,” kata penemunya, peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Bioevolusi BRIN, Destario Metusala melalui keterangannya di Jakarta, Kamis 27 Maret 2025.

Destario memaparkan beberapa individu anggrek Chiloschista ditemukan tumbuh epifit pada pepohonan di perkebunan semi terbuka yang berdekatan dengan hutan. Warnanya, dia mendeskripsikan, menyerupai warna kulit batang pepohonan, serta kemunculan organ bunganya yang kecil namun berwarna kuning cerah menjadi sangat penting untuk mendeteksi keberadaannya.

Ciri morfologi itu menunjukkan perbedaan dengan dengan spesies Chiloschista lainnya, terutama C. javanica dan C. sweelimii. Sayangnya, Destario menambahkan, anggrek C. tjiasmantoi sudah masuk dalam kategori genting (endangered) menurut kriteria IUCN Redlist. Hal itu karena diperkirakan luas area sebaran dan jumlah populasi yang terbatas, serta ancaman ekspansi perkebunan dan perubahan iklim.

“Perluasan kawasan lindung di Aceh perlu segera dilakukan untuk melestarikan berbagai spesies tumbuhan yang terancam kepunahan, terutama spesies unik yang hanya ada di Provinsi Aceh,” ujarnya.

Destario menjelaskan bahwa anggrek C. tjiasmantoi memiliki kuntum bunga dengan lebar 1,0-1,2 sentimeter dan berwarna kuning dengan pola bintik jingga atau kemerahan. Dalam satu tangkai perbungaan yang panjang, dapat menghasilkan hingga 30 kuntum bunga yang mekar secara simultan.

Spesies ini umumnya ditemukan pada ketinggian 700–1.000 meter di atas permukaan laut. Tumbuhnya menempel di batang pepohonan yang tua pada habitat semi terbuka, berangin, dan lembap. Musim berbunga biasanya terjadi pada pertengahan Juli serta awal November hingga akhir Desember.

“Anggrek spesies baru ini telah berevolusi secara unik dengan mereduksi organ daunnya secara ekstrem, sehingga proses fisiologi penting seperti fotosintesis dilakukan pada organ akarnya,” tutur Destario sambil menambahkan keunikan tersebut membuka peluang riset lanjutan untuk menelisik berbagai aspek biologinya.

Destario mengatakan penyebutan anggrek tak berdaun dikarenakan sepanjang daur hidupnya, anggrek tersebut dalam kondisi tanpa organ daun. Chiloschista adalah salah satu genus anggrek tanpa daun tersebut. Genus ini pertama kali dideskripsikan pada 1832 dan kini mencakup 30 spesies yang tersebar dari Asia Selatan, Asia Tenggara, hingga Australia.

“Anggrek ini lebih dikenal oleh para hobiis di Indonesia dengan nama anggrek akar, mengingat penampakannya seperti sekumpulan akar-akar berwarna kehijauan.”

Sebelumnya, Indonesia diketahui hanya memiliki empat spesies yang dapat ditemukan di Jawa, Kepulauan Sunda Kecil, Sulawesi, dan Kepulauan Maluku. Hingga kini, belum ada catatan keberadaan anggrek Chiloschista dari Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

Adapun temuan terbaru telah dipublikasikan dalam jurnal PhytoKeys: Destario Metusala (2025). A new species of genus Chiloschista (Aeridinae, Vandeae, Epidendroideae, Orchidaceae) from Sumatra Island, Indonesia).

Sumber: Tempo

Previous Post

Bandara Nagan Raya Mulai Layani Pemudik Lebaran

Next Post

16 Siswa MAN Aceh Singkil Lulus PTKIN

Next Post
16 Siswa MAN Aceh Singkil Lulus PTKIN

16 Siswa MAN Aceh Singkil Lulus PTKIN

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Raih Dua Rekor MURI Sekaligus, FJA Abdya Apresiasi Bupati Safaruddin

Raih Dua Rekor MURI Sekaligus, FJA Abdya Apresiasi Bupati Safaruddin

25/04/2026
BPC HIPMI Sambut Kehadiran Pengusaha Ternama di Jakarta dan Eropa Asal Abdya pada Ajang HUT Abdya ke-24

BPC HIPMI Sambut Kehadiran Pengusaha Ternama di Jakarta dan Eropa Asal Abdya pada Ajang HUT Abdya ke-24

25/04/2026
Pertamina Layani 14 Penerbangan Haji Via Bandara SIM Blang Bintang

Pertamina Layani 14 Penerbangan Haji Via Bandara SIM Blang Bintang

25/04/2026
Kepala SDN 1 Percontohan Karang Baru Kembali Nakhodai PGRI Aceh Tamiang

Kepala SDN 1 Percontohan Karang Baru Kembali Nakhodai PGRI Aceh Tamiang

25/04/2026
Banda Aceh Raih National Governance Award 2026

Banda Aceh Raih National Governance Award 2026

25/04/2026

Terpopuler

Pecahkan Sejarah! Abdya Raih 2 Rekor MURI Sekaligus: Bakar Lemang dan Sajian Tapai Terbanyak

Pecahkan Sejarah! Abdya Raih 2 Rekor MURI Sekaligus: Bakar Lemang dan Sajian Tapai Terbanyak

25/04/2026

Krak, ASDP Siapkan Wacana Rute Langsung Jakarta–Aceh

Jawa Tengah dan Aceh Teken Kerja Sama Senilai Rp1,06 Triliun

Dana Desa Rp.450 Juta Digerus, Keuchik Lancang Pidie Jaya Berakhir di Rutan

MUQ Aceh Selatan Kembali Juara Umum SOB ke – XIII 2026 se-Barat Selatan

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com