Banda Aceh – Di antara deretan atlet berpengalaman yang tampil pada Pra PORA Aceh ke IV cabang olahraga petanque, terdapat satu nama yang mencuri perhatian. Syawal, atlet petanque asal Gampong Neuheun, Aceh Besar, yang kini resmi memperkuat kontingen Aceh Besar di nomor triple man. Meski terbilang baru di dunia petanque, perjalanan Syawal menuju ajang bergengsi ini menyimpan kisah inspiratif yang layak diapresiasi.
Hanya dalam enam bulan terakhir Syawal benar-benar fokus berlatih petanque. Waktu yang singkat untuk sebuah cabang olahraga yang menuntut presisi, ketenangan, dan pengalaman. Namun kegigihan Syawal membuktikan bahwa usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Dalam seleksi ketat yang digelar oleh KONI Aceh Besar, ia justru tampil mengejutkan. Satu per satu lawan yang menurutnya “berat” berhasil ia taklukkan.
Syawal mengakui bahwa dirinya tidak menyangka akan melaju sejauh ini. “Saya hanya niat tampil sebaik mungkin. Niat itu yang membawa saya lolos”. katanya dengan senyum penuh syukur. Keberhasilannya menembus skuad Pra PORA Aceh Besar menjadi bukti bahwa kerja keras bisa membuka peluang besar, bahkan bagi seorang pendatang baru sekalipun.
Kini, memasuki arena Pra PORA IV, Syawal berharap bisa mengulang “hoki” yang sama seperti saat seleksi tempo hari. Baginya, keberuntungan memang penting, tetapi kerja keras tetap nomor satu. Ia tetap rendah hati dan penuh harap agar dapat memberikan yang terbaik untuk Aceh Besar.
“Mudah-mudahan di Pra PORA ini saya bisa dapat hoki lagi, seperti waktu tes di KONI. Tapi saya tetap fokus, karena yang menentukan tetap usaha dan kekompakan tim,” ujarnya.
Kehadiran Syawal menjadi warna baru bagi kontingen Aceh Besar. Dalam kategori triple man, ia tampil bersama atlet-atlet yang lebih berpengalaman, sekaligus mendapat kesempatan belajar banyak hal selama proses pertandingan berlangsung. Dukungan masyarakat Neuheun dan Aceh Besar juga membuat semangatnya berlipat.
Dengan modal tekad, latihan intensif, dan semangat mengharumkan nama daerah, Syawal kini siap mencatatkan jejak baru di ajang Pra PORA Aceh ke IV. Langkahnya membawa pesan bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi selama disertai usaha dan keyakinan.










