Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Lintas Timur

7 Bulan Pascabanjir, Warga Sarah Mane Masih Krisis Air: Negara Hadir atau Membiarkan Warga Bertayamum?

redaksi by redaksi
06/06/2026
in Lintas Timur
0
7 Bulan Pascabanjir, Warga Sarah Mane Masih Krisis Air: Negara Hadir atau Membiarkan Warga Bertayamum?

MEUREUDU – Tujuh bulan setelah banjir besar melanda Pidie Jaya pada 26 November 2025, warga Gampong Sarah Mane, Kecamatan Meurah Dua, masih bergelut dengan persoalan paling mendasar: air bersih.

Pipa induk yang menjadi urat nadi pasokan air desa putus dan hanyut diterjang banjir, namun hingga kini belum juga diperbaiki. Akibatnya, ratusan warga harus bertahan tanpa akses air yang layak untuk minum, mandi, mencuci, hingga kebutuhan ibadah.

Di tengah kemajuan teknologi dan gencarnya program pembangunan, sebagian warga bahkan terpaksa menadah air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ironisnya, krisis ini terjadi bukan karena tidak diketahui pemerintah. Berbagai laporan telah disampaikan sejak lama, mulai dari pemerintah gampong hingga BPBD. Namun, tujuh bulan berlalu tanpa solusi nyata di lapangan.

Keuchik Sarah Mane, Khairuddin, mengaku pemerintah desa telah berupaya mencari jalan keluar dengan membangun enam sumur menggunakan Dana Desa. Hasilnya nihil. Kedalaman 7 hingga 10 meter tidak mampu menembus sumber air, sehingga sumur hanya berfungsi sebagai penampung air hujan.

“Kami sudah berusaha semampunya. Tapi kemampuan desa sangat terbatas,” ujarnya.

Kondisi geografis Sarah Mane yang berada di dataran tinggi semakin memperumit persoalan, jaringan PDAM tidak mampu menjangkau desa tersebut karena posisi bak pengolahan air berada lebih rendah dari kawasan permukiman warga.

Sementara itu, Tuha Peut Sarah Mane, Ismail, menyebut sekitar satu kilometer jaringan pipa PAMSIMAS hilang tersapu banjir. Menurutnya, usulan perbaikan sudah lama disampaikan, namun warga masih menunggu realisasi.

“Sudah lebih dari setengah tahun masyarakat bertahan dalam kondisi seperti ini. Belum ada tanda-tanda perbaikan,” katanya.

Di tengah penderitaan warga, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya akhirnya merespons. Kabag Ekonomi Setdakab Pidie Jaya, Saifuddin, menyatakan Bupati Sibral Malasyi telah memerintahkan agar persoalan tersebut segera ditangani melalui opsi sumur bor maupun pengambilan air baku dari sungai menggunakan pompa.

Dalam pada itu, Sekdakab Munawar Ibrahim juga membuka kemungkinan penyambungan jaringan dari sistem PDAM atau pembangunan kembali pipa yang rusak.

Meski demikian, bagi warga Sarah Mane, yang dibutuhkan saat ini bukan lagi janji dan kajian, melainkan air yang mengalir ke rumah-rumah mereka.

Krisis air di Sarah Mane bukan sekadar persoalan infrastruktur yang rusak akibat bencana. Ini menyangkut hak dasar warga negara atas akses air bersih, sanitasi, kesehatan, dan kelangsungan ibadah.

“Air bukan hanya untuk minum dan MCK. Air juga untuk bersuci sebelum salat. Kalau air tidak ada, apakah warga harus terus bertayamum,” tanya Ismail dengan nada sedih.

Pertanyaan itu menjadi tamparan bagi semua pihak. Sebab di saat berbagai program pembangunan terus dipromosikan, masih ada warga Pidie Jaya yang berjuang mendapatkan sesuatu yang paling sederhana dan paling mendasar: setetes air bersih.[Mul]

Previous Post

MaSA Dorong Percepatan Pembentukan Dewan Pemajuan Kebudayaan Aceh

Next Post

Huntara Rusak Diterjang Angin Kencang di Aceh Utara Bertambah 8 Unit

Next Post
Ohku, 58 Unit Huntara di Aceh Utara Rusak Diterjang Badai

Huntara Rusak Diterjang Angin Kencang di Aceh Utara Bertambah 8 Unit

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

226 Siswa Baru Mengikuti Try Out Asesmen MPLS di SMAN 4 Takengon

226 Siswa Baru Mengikuti Try Out Asesmen MPLS di SMAN 4 Takengon

21/07/2026
FORKI Pidie Kukuhkan Dominasi, Sabet Juara Umum Kejurda Karate Aceh 2026

FORKI Pidie Kukuhkan Dominasi, Sabet Juara Umum Kejurda Karate Aceh 2026

21/07/2026
BPBD Buka Bursa Ketua FPRB Pidie Jaya, Figur Tangguh Hadapi Ancaman Bencana Dicari

BPBD Buka Bursa Ketua FPRB Pidie Jaya, Figur Tangguh Hadapi Ancaman Bencana Dicari

21/07/2026
Ratusan Pelajar Ikuti Program Bimbingan Remaja Usia Sekolah

Ratusan Pelajar Ikuti Program Bimbingan Remaja Usia Sekolah

21/07/2026
Kapolres Pidie Perketat Pengawasan Internal, Judi Online dan Senpi Personel Jadi Atensi Utama

Kapolres Pidie Perketat Pengawasan Internal, Judi Online dan Senpi Personel Jadi Atensi Utama

21/07/2026

Terpopuler

BPBD Buka Bursa Ketua FPRB Pidie Jaya, Figur Tangguh Hadapi Ancaman Bencana Dicari

BPBD Buka Bursa Ketua FPRB Pidie Jaya, Figur Tangguh Hadapi Ancaman Bencana Dicari

21/07/2026

Rp4,65 Miliar Dana Umat Siap Disalurkan, Baitul Mal Pidie Perketat Verifikasi demi Cegah Salah Sasaran

7 Bulan Pascabanjir, Warga Sarah Mane Masih Krisis Air: Negara Hadir atau Membiarkan Warga Bertayamum?

DPRK Pidie Warning Baitul Mal: Jangan Sampai Bantuan Salah Sasaran

Launching Hope Coffee, Sajikan Kuah Beulangong hingga Ayam Pramugari Khas Aceh Besar

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com