MEUREUDU – Tujuh bulan setelah banjir besar melanda Pidie Jaya pada 26 November 2025, warga Gampong Sarah Mane, Kecamatan Meurah Dua, masih bergelut dengan persoalan paling mendasar: air bersih.
Pipa induk yang menjadi urat nadi pasokan air desa putus dan hanyut diterjang banjir, namun hingga kini belum juga diperbaiki. Akibatnya, ratusan warga harus bertahan tanpa akses air yang layak untuk minum, mandi, mencuci, hingga kebutuhan ibadah.
Di tengah kemajuan teknologi dan gencarnya program pembangunan, sebagian warga bahkan terpaksa menadah air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ironisnya, krisis ini terjadi bukan karena tidak diketahui pemerintah. Berbagai laporan telah disampaikan sejak lama, mulai dari pemerintah gampong hingga BPBD. Namun, tujuh bulan berlalu tanpa solusi nyata di lapangan.
Keuchik Sarah Mane, Khairuddin, mengaku pemerintah desa telah berupaya mencari jalan keluar dengan membangun enam sumur menggunakan Dana Desa. Hasilnya nihil. Kedalaman 7 hingga 10 meter tidak mampu menembus sumber air, sehingga sumur hanya berfungsi sebagai penampung air hujan.
“Kami sudah berusaha semampunya. Tapi kemampuan desa sangat terbatas,” ujarnya.
Kondisi geografis Sarah Mane yang berada di dataran tinggi semakin memperumit persoalan, jaringan PDAM tidak mampu menjangkau desa tersebut karena posisi bak pengolahan air berada lebih rendah dari kawasan permukiman warga.
Sementara itu, Tuha Peut Sarah Mane, Ismail, menyebut sekitar satu kilometer jaringan pipa PAMSIMAS hilang tersapu banjir. Menurutnya, usulan perbaikan sudah lama disampaikan, namun warga masih menunggu realisasi.
“Sudah lebih dari setengah tahun masyarakat bertahan dalam kondisi seperti ini. Belum ada tanda-tanda perbaikan,” katanya.
Di tengah penderitaan warga, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya akhirnya merespons. Kabag Ekonomi Setdakab Pidie Jaya, Saifuddin, menyatakan Bupati Sibral Malasyi telah memerintahkan agar persoalan tersebut segera ditangani melalui opsi sumur bor maupun pengambilan air baku dari sungai menggunakan pompa.
Dalam pada itu, Sekdakab Munawar Ibrahim juga membuka kemungkinan penyambungan jaringan dari sistem PDAM atau pembangunan kembali pipa yang rusak.
Meski demikian, bagi warga Sarah Mane, yang dibutuhkan saat ini bukan lagi janji dan kajian, melainkan air yang mengalir ke rumah-rumah mereka.
Krisis air di Sarah Mane bukan sekadar persoalan infrastruktur yang rusak akibat bencana. Ini menyangkut hak dasar warga negara atas akses air bersih, sanitasi, kesehatan, dan kelangsungan ibadah.
“Air bukan hanya untuk minum dan MCK. Air juga untuk bersuci sebelum salat. Kalau air tidak ada, apakah warga harus terus bertayamum,” tanya Ismail dengan nada sedih.
Pertanyaan itu menjadi tamparan bagi semua pihak. Sebab di saat berbagai program pembangunan terus dipromosikan, masih ada warga Pidie Jaya yang berjuang mendapatkan sesuatu yang paling sederhana dan paling mendasar: setetes air bersih.[Mul]










