Sekitar 30 menit, kendaraan yang dijanjikan akhirnya tiba. Kendaraan tersebut ternyata milik salah satu perusahaan yang berdiri tak jauh dari Krueng Geukuh.
“Sudah diisi bensin plus ada uang makan selama perjalanan pula. Kalau kurang, tinggal telepon lagi,” ujar Rambo sedikit berbisik di telingaku.
Aku bersikap acuh tapi dalam hati tersenyum kegilangan. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan, ketika kita memiliki kawan dan ia bisa diandalkan dalam setiap keadaan terdesak. Bagiku, salah satu sosok itu adalah Rambo.
“Uangnya kau pegang saja. Nanti keperluan selama perjalanan dan di Kutaradja, kamu yang atur,” ujarku singkat. Sedangkan Rambo cuma mengangguk.
Aku dan Rambo semobil. Rambo bertindak sebagai sopir. Sedangkan Rusli dan dua anggota lainnya duduk di deretan kedua dan ketiga. Kami berlima semobil.
Dekgam menjadi sopir di mobil kedua. Karena termasuk senior, ia kuberi tanggungjawab untuk pengatur di mobil kedua dan ketiga. Apapun keperluan dan kendala, ia tinggal menelpon Rambo.
Bang Lah, sang pemilik Warkop, bahkan menitip beberapa kantong kopi hitam untuk kami bawa dalam perjalanan.
Rambo memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Sesuai peunutoh Bang Yan, kami harus tiba sebelum magrib. Aku bahkan tak bisa melihat area bekas tsunami sepanjang jalan. Sesaat memasuki wilayah Pidie, Dani menelpon dan mengatakan ia telah ikut bergerak dengan sejumlah anggota pasukan lainnya.
“Kami 5 mobil, Pakwa,” kata dia.
“Bagaimana dengan bensin dan keperluan selama perjalanan?”tanyaku.
Dani cuma tertawa. “Tenang, Pakwa. Aman. Sebulan kita tinggal di Kutaradja juga masih aman,” jawabnya. Aku tersenyum lebar.
Aku bersyukur bahwa persaudaraan kami yang terbangun selama gerilya masih terjaga dengan baik. Saat diperintahkan untuk bergerak, semua mengikuti arahan komando tanpa mengeluh untuk pulang terlebih dahulu guna mengambil baju dan keperluan lainnya.
Tak ada juga yang mempertanyakan apa tujuan ke Kutaradja, dimana mereka tinggal serta hal-hal mendetail lainnya.
Mereka percaya, setiap perintah adalah kewajiban dan aku sudah memikirkan semua keperluan mereka selama perjalanan. Jikapun harus lapar, maka kami lapar bersama.
Rombongan kami hanya berhenti saat jadwal salat tiba. Sesuai tujuan yang diberikan Bang Yan, lokasi tujuan kami adalah Hotel Cakra Donya.
Kami tiba sekitar pukul 17.24 WIB. Jauh lebih cepat dari syarat yang diajukan Bang Yan. Sedangkan Dani bergabung 20 menit kemudian. Pudin menyusul dengan 2 mobil, sekitar 1 jam kemudian.
[Bersambung]
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 16
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 17
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 18
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 19
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)


![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)





