RINDU masih memasang wajah masam setiap berpas-pasan dengan Gusti dan Henky. Padahal, insiden “operasi plastik” sudah berlalu hampir dua hari. Gadis itu enggan bicara dan bersikap sangat ketus. Ini membuat Henky serba salah karena terus dipelototi oleh Gusti.
Gara-gara Henky, Gusti juga mengalami imbas yang sama. Ia tidak hanya didiamkan oleh Rindu, tapi juga oleh Paklek dan Bulek.
“Makanya, jadi orang jangan bermulut ember. Gue kena imbasnya,” ujar Gusti saat ia hendak mengadu.
Padahal, proses pindahan Rindu dari kos-kosan putri di wilayah Deresan, semuanya ditangani oleh Henky. Ia mengangkat dua koper besar milik Rindu sendiri. Dari kamar kos ke mobil Jazz putih milik Bulek. Jaraknya cuma 50 meter. Meskipun hanya dua koper besar, tapi cukup melelahkan. Apalagi Henky jarang olahraga selama ngampus di FH UGM. Tapi demi kata maaf dari Rindu, ia lakoni dengan patuh.
Paklek hanya duduk di dalam mobil. Sementara Rindu dan Bulek kebagian beres-beres di kamar kosan serta pamitan sama yang punya kosan dan para penghuni lainnya. Mereka sekaligus mengabarkan bahwa Rindu kini tinggal di komplek belakang Malioboro.
Gusti sendiri hanya berdiri di dekat sepeda motor Maxi-Scooter sambil melambai tangan ke penghuni putri yang menonton proses pindahan dari jendela.
Saat pulang, Rindu semobil dengan Bulek dan Paklek. Mereka tak bicara sepatah katapun. Pandangan Rindu seperti hendak menerkamnya. Ia berkeringat dingin saat menatap wajah Rindu.
Tak ada kesempatan untuk minta maaf.
“Kemana kita?” ujar Henky saat boncengan dengan Gusti usai bantu pindahan.
“Ke rumah Bulek. Aku sudah putuskan, mulai sekarang tinggal di rumah Bulek. Hemat uang makan,” jawab Gusti.
“Gila loe. Udah didiami begitu, masih tetap mau tinggal,” kata Henky.
“Loe gak ngerti. Ini kesempatan baik bagiku mendekati Rindu dan Bulek. Kalau dijauhi, makin susah,” jelas Gusti lagi. Henky mengangguk tanda setuju.
“Kalau begitu aku nginap di kamarmu juga ya. Kita pulang dulu ke kosan ‘Sendowo’ untuk ambil baju ganti. Aku udah gerah akibat angkat koper tadi,” kata Henky. Gusti mengangguk. Di perempatan, arah kendaraan diputar ke Kosan Henky di Sendowo. Mereka melaju dengan kecepatan maksimum.
Hanya hitungan menit, mereka tiba di kosan. Gusti langsung menuju kamar mandi. Ia kemudian beres beres baju. Rencananya, semua kebutuhan hariannya akan dipindahkan secara bertahap. Ini agar Bulek tak curiga bahwa kepulangannya karena Rindu.
Sedangkan Henky berbaring di kasur sambil memandang langit-langit kamar. Henky kemudian tersenyum sendiri.
“Kamu kenapa?” tanya Gusti.
Henky terdiam. Ia seperti ingin mengungkapkan sesuatu, tapi ada rasa kekhawatiran kalau hal yang dipikirkannya itu diutarakan. Ia takut kasus ‘operasi plaktis’ terulang.
“Gini Gus. Kamu sama Rindu-kan saudara angkat. Kurang lebih begitu. Seandainya, restu dari Paklek dan Buklek susah. Kemudian keluarga besar juga tidak setuju kalau kalian pacaran, apalagi nikah, maka baiknya..,” ujar Henky dengan hati-hati.
Alis Gusti terangkat dan wajahnya memandang Henky. “Maksudmu?”tanya Gusti serius.
Henky tersenyum. Ia mengatur ulang kata. “Maksudku, daripada orang lain jadi ipar angkatmu. Kenapa enggak aku?”ujarnya kemudian.
Wajah Gusti langsung merah padam. Ia melompat ke kasur dan berusaha memukul Henky. Tapi sosok itu cukup gesit. Ia segera ke kamar mandi dan menutup pintu.
“Aku bilang seandainya. Jangan marah,” teriak Henky dibalik pintu.
[Bersambung]
Baca juga:
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 26
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 27
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 28
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 29
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 30
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 31
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)




![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)



