Oleh Salsabila Juliana, mahasiswa Prodi Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar – Raniry.
Kehidupan masyarakat tidak lepas dari suatu kepemimpinan. Dalam suatu organisasi masyarakat kepemimpinan merukapan salah satu hal terpenting. Kepemimpinan akan menjadi roda penggerak dari level terendah hingga menjadi tertinggi. Unsur kepemimpinan menjadi kekuatan besar yang mampu menggerakkan perjuangan atau kegiatan menuju suksesnya sebuah organisasi.
Kepemimpinan tradisional, menurut para ahli, tertanam pada budaya dan nilai-nilai yang diwariskan, di mana legitimasi pemimpin sering kali bergantung pada keturunan atau pengakuan komunitas. Model ini tekanan hierarki dan stabilitas untuk menjaga keharmonisan kelompok, tetapi cenderung kurang fleksibel dalam menghadapi perubahan.
Di Indonesia, kepemimpinan tradisional juga mencakup aspek spiritual dan moral, seperti yang diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara dengan prinsip “tut wuri handayani,” yang tekanan contoh dan motivasi dari pemimpin kepada pengikutnya. Tut Wuri Handayani adalah semboyan pendidikan yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara, yang berarti “mengikuti dari belakang”. Semboyan ini menekankan peran guru sebagai pembimbing yang memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar secara mandiri, sambil tetap memberikan dukungan dan arahan ketika diperlukan. Dalam konteks pendidikan Indonesia, Tut Wuri Handayani mencerminkan filosofi bahwa pendidikan harus mendorong inisiatif dan pengalaman pribadi siswa, serta mengedepankan nilai-nilai Pancasila.
Dalam setiap model kepemimpinan tidak lepas dari yang namanya kelebihan dan kekurangan. Setiap pemimpin memiliki nilai plus dan minus dalam setiap pekerjaan yang dikerjakannya. Beberapa opini tentang kelebihan dan kekurangan kepemimpinan tradisional:
Kelebihan
- Stabilitas dan Kontinuitas: Kepemimpinan tradisional seringkali membawa stabilitas dan kontinuitas karena dipandu oleh nilai-nilai dan tradisi yang sudah terbentuk.
- Kohesi Sosial: Kepemimpinan tradisional dapat memperkuat kohesi sosial dengan mempertahankan hubungan antar anggota masyarakat.
- Penghormatan terhadap Tradisi: Kepemimpinan tradisional mempertahankan dan melestarikan tradisi dan budaya yang sudah ada.
- Pengambilan Keputusan Cepat: Kepemimpinan tradisional seringkali memiliki struktur kekuasaan yang jelas, sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cepat.
Kekurangan
- Kurangnya Inovasi: Kepemimpinan tradisional dapat kurang terbuka terhadap perubahan dan inovasi.
- Diskriminasi dan Eksklusi: Kepemimpinan tradisional dapat memperkuat diskriminasi dan eksklusi terhadap kelompok tertentu.
- Ketergantungan pada Otoritas: Kepemimpinan tradisional seringkali bergantung pada otoritas dan kekuasaan, bukan pada kemampuan dan kompetensi.
- Kurangnya Akuntabilitas: Kepemimpinan tradisional dapat kurang akuntabel karena tidak ada mekanisme pengawasan yang efektif.
Kepemimpinan tradisional menghadapi tantangan dan peluang yang signifikan. Tantangan utama meliputi kompleksitas masalah sosial, seperti urbanisasi dan perubahan nilai budaya, yang memerlukan pemimpin untuk beradaptasi dan berinovasi. Selain itu, kepemimpinan tradisional sering kali terjebak dalam hierarki yang kaku, menghambat partisipasi masyarakat. Di sisi lain, muncul peluang dari kebutuhan untuk mengintegrasikan teknologi dan pendekatan kolaboratif dalam kepemimpinan, yang dapat meningkatkan keterlibatan masyarakat dan menciptakan solusi yang lebih inklusif. Pemimpin yang responsif dapat menjadi agen perubahan positif dalam masyarakat.
Kepemimpinan tradisional menawarkan beberapa nilai yang patut dicontoh, antara lain Kearifan Lokal, Pemimpin tradisional sering kali memiliki pemahaman mendalam tentang budaya dan kebutuhan masyarakat, sehingga dapat mengambil keputusan yang bijak dan relevan. Kepercayaan dan Karisma, Pemimpin yang dihormati karena integritas dan kemampuannya dalam membangun kepercayaan di antara masyarakat. Pewarisan Nilai, Kepemimpinan ini menekankan pentingnya tradisi dan nilai-nilai yang diwariskan, menjaga stabilitas sosial.
Berikut beberapa aspek positif dari kepemimpinan tradisional yang patut dicontoh seperti: 1) Nilai dan Prinsip yang mencakup, Kesetiaan dan loyalitas: Kepemimpinan tradisional sering menekankan pentingnya kesetiaan dan loyalitas kepada komunitas, Keadilan dan kebijaksanaan: Kepemimpinan tradisional sering menekankan pentingnya keadilan dan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan, Kehormatan dan kesabaran: Kepemimpinan tradisional sering menekankan pentingnya kehormatan dan kesabaran dalam menghadapi tantangan, Kepedulian terhadap komunitas: Kepemimpinan tradisional sering menekankan pentingnya memprioritaskan kepentingan komunitas. 2) Keterampilan dan Sifat yang mencakup, Komunikasi efektif: Kepemimpinan tradisional sering menggunakan komunikasi efektif untuk membangun kesadaran dan kesepakatan, Pengambilan keputusan cepat: Kepemimpinan tradisional sering memiliki kemampuan pengambilan keputusan cepat dan tepat, Empati dan kesabaran: Kepemimpinan tradisional sering menunjukkan empati dan kesabaran dalam menghadapi konflik, Kemandirian dan ketegasan: Kepemimpinan tradisional sering menunjukkan kemandirian dan ketegasan dalam pengambilan keputusan.
Dalam keseluruhan, kepemimpinan tradisional memiliki peran penting dalam mempertahankan tradisi dan budaya, namun juga harus beradaptasi dengan perubahan zaman dan menghormati hak asasi manusia. Pelajaran untuk kepemimpinan modern dengan menghargai kearifan lokal,membangun kesadaran komunitas, mengutamakan kepentingan bersama, mengembangkan keterampilan komunikasi efektif dan menghormati keberagaman budaya dan tradisi. Dengan mempelajari dan mengadaptasi aspek positif kepemimpinan tradisional, kita dapat meningkatkan kualitas kepemimpinan modern. []
![[Opini] Modern; Apa Yang Patut Kita Contoh dari Kepemimpinan Tradisional?](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-25-at-00.00.39-750x375.jpeg)









