Oleh Muammar Khadafi. Penulis adalah mahasiswa Prodi Pengembangan Masyarakat Islam UIN Ar-Raniry.
BireunKut adalah komunitas peduli lingkungan yang fokus terhadap permasalahan sampah. BireunKut sebenarnya berasal dari 2 kata, yakni Bireun yang merupakan nama Kabupaten di Aceh, dan Kut (bahasa Aceh) yang berati kutip.
Ketua Komunitas BireunKut Haikal Kamal saat berbincang dalam siaran Ngobras (Ngobrol Komunitas) komunitas ini terbentuk pada tanggal 24 April 2024, dan telah beranggotakan 20 orang relawan. Mereka yang tergabung dalam BireunKut merupakan para remaja asli Bireun yang direkrut melalui penjaringan di media sosial Instagram.
“Kita tidak pungkiri kalau komunitas ini terinspirasi Padawara Group di Bandung Jawa Barat,” ungkap Haikal didampingi salah seorang anggota BireuenKut, Turhamun.
Meski baru sebulan terbentuk, komunitas BireunKut telah melancarkan 5 aksi membersihkan sampah yang menggenangi Got, Irigasi, Sungai dan Pantai di Kabupaten Bireun. Tercatat ada sekitar 6,2 Ton sampah yang telah mereka angkut dari hasil aksi tersebut.
“Kebanyakan sampah pelastik dan limbah rumah tangga. Selain kita bakar, sampah-sampah itu kita pilah juga untuk nanti kita olah jadi produk”,jelas Turhamun Menambahkan.
Menurut Turhamun, Komunitas BireunKut punya cita-cita dapat mengolah sampah-sampah tersebut menjadi produk rumah tangga, seperti Tong sampah dan sebagainya. Namun dikarenakan mereka tidak memiliki alat/mesin pengolah, terpaksa sebahagian sampah seperti pelastik dan kaca disimpan di sekretariat BireuenKut.
“Kedepan aksi sosial peduli lingkungan yang kami lakukan ini tidak hanya sekedar bersih-bersih sampah, namun bisa menjadi peluang bisnis,” harapnya.
Kini Komunitas BireunKut semakin viral di media sosial Instagram dan Tik Tok. Lewat Aksi membersihkan sampah yang mereka unggah, terus mendapat tanggapan positif dari masyarakat di dunia maya.
“Kita juga membuka donasi,melalui aplikasi Kitabisa.com, dan Alhamdulillah banyak yang nyumbang. Seluruh dana yang kita peroleh itu kita gunakan untuk operasional kegiatan, dan selalu kita laporkan secara transparan di media sosial,” jelas Haikal.
Terakhir menutup obrolan, Haikal dan Turhamun berpesan kepada masyarakat Aceh agar peduli menjaga lingkungan, dengan tidak membuang sampah sembarang.











