Di tengah derasnya arus modernisasi, banyak tradisi lokal perlahan mulai kehilangan tempat di tengah masyarakat. Salah satu warisan budaya khas masyarakat Kluet yang kini mulai jarang terlihat adalah kesenian Mecanang, sebuah pertunjukan musik tradisional yang dahulu menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Kluet di Aceh Selatan.
Mecanang merupakan pertunjukan musik tradisional yang biasa dimainkan dalam acara adat seperti pesta pernikahan dan sunatan rasul. Namun, seiring perkembangan zaman, keberadaannya mulai memudar dan hanya dapat dijumpai di beberapa wilayah tertentu di Kluet.
Bagi masyarakat Kluet, Mecanang bukan sekadar hiburan. Kesenian ini menjadi simbol kebersamaan, keakraban, serta bentuk ekspresi budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur. Suasana penuh canda tawa, syair, dan kebersamaan menjadikan Mecanang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari identitas masyarakat Kluet.
Secara umum, Mecanang dimainkan oleh kelompok perempuan, biasanya terdiri dari nenek, wawak (bibi), atau tante dari pihak keluarga pengantin. Mereka memainkan alat pukul berupa canang atau gong kecil yang menghasilkan suara khas dan nyaring. Pertunjukan ini biasanya dihiasi dengan syair, pantun( kiasan) , maupun candaan yang dalam bahasa Kluet dikenal sebagai hiyuran, yakni hiburan penuh tawa yang mampu mencairkan suasana.
Keunikan Mecanang terletak pada interaksi sosial yang tercipta. Pertunjukan ini tidak hanya menghibur keluarga pengantin, tetapi juga mengundang masyarakat sekitar untuk berkumpul, bercengkerama, serta menikmati suasana pesta adat bersama-sama. Di masa lalu, bunyi Mecanang bahkan menjadi penanda adanya pesta atau kegiatan adat di suatu kampung.
Menurut sejumlah tokoh masyarakat Kluet, tradisi Mecanang diperkirakan telah ada sejak abad ke-17. Pada masa itu, Mecanang tidak hanya dimainkan dalam pesta pernikahan, tetapi juga digunakan pada acara adat, penyambutan tamu kehormatan, perayaan hari besar keagamaan, panen padi, hingga pengiring rombongan silaturahmi ke rumah pemimpin adat.
Alat-alat yang digunakan dalam pertunjukan Mecanang cukup sederhana, seperti gong, canang, kardus, toples, hingga botol kaca yang dipadukan menjadi harmoni khas masyarakat Kluet. Kesederhanaan alat tersebut justru memperlihatkan kreativitas masyarakat dalam menciptakan hiburan yang sarat makna budaya.
Biasanya, pertunjukan Mecanang dilakukan di belakang rumah atau dapur saat acara pernikahan berlangsung. Setelah kedua mempelai bersanding, para perempuan keluarga akan memainkan canang sambil melantunkan syair dan pantun yang terkadang dibumbui candaan. Suasana tersebut menciptakan kehangatan dan kebahagiaan, bukan hanya bagi keluarga pengantin, tetapi juga seluruh tamu yang hadir.
Salah satu tokoh masyarakat Kluet, Muaiyan, pernah menyampaikan bahwa Mecanang bukan hanya sekadar hiburan.
“Mecanang bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarmasyarakat agar semakin akrab satu sama lain,” ujarnya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Camat Kluet Timur Sairuman, S.IP yang menilai bahwa Mecanang merupakan kesenian tradisional yang unik dan menjadi ciri khas masyarakat Kluet yang harus terus dijaga.
“Kesenian yang unik ini harus dilestarikan, jangan sampai hanya tinggal nama bagi generasi mendatang. Jika bukan kita yang menjaganya, siapa lagi?” katanya.
Sayangnya, pengaruh globalisasi dan perubahan pola hiburan masyarakat menyebabkan kesenian Mecanang mulai jarang ditampilkan. Saat ini, pertunjukan Mecanang lebih banyak ditemukan di wilayah Kluet Tengah, Menggamat, dan beberapa desa di Kluet Timur, seperti Desa Lawe Sawah.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya akan mengenal Mecanang melalui cerita tanpa pernah menyaksikannya secara langsung. Padahal, di balik suara canang dan syair penuh canda, tersimpan nilai sosial, persaudaraan, gotong royong, serta pesan moral yang sangat berharga bagi kehidupan masyarakat.
Karena itu, pelestarian Mecanang membutuhkan perhatian bersama. Pemerintah daerah, tokoh adat, pemuda, hingga masyarakat umum perlu berkolaborasi agar kesenian ini tetap hidup. Salah satunya dengan menampilkan Mecanang pada berbagai festival budaya, acara pemerintahan, maupun kegiatan pendidikan agar generasi muda semakin mengenalnya.
Syahrul Amin, S.Sos (PMII Aceh), menegaskan bahwa kesenian Mecanang merupakan warisan budaya masyarakat Kluet yang memiliki nilai kebersamaan, kegembiraan, dan pesan moral yang sangat penting untuk dijaga.
“Tradisi budaya yang dimiliki oleh masyarakat Kluet ini sangat unik dan menarik. Tradisi ini wajib kita jaga bersama, karena di dalamnya terdapat kegembiraan, tawa canda, serta nilai kebersamaan yang menghiasi setiap acara. Jangan sampai tradisi ini hilang ditelan zaman. Kita harus menjaga dan merawatnya agar anak, keponakan, bahkan cucu kita kelak masih dapat melihat, mengenal, dan menceritakannya kembali kepada generasi berikutnya,” ujar Syahrul Amin, S.Sos (PMII Aceh).
Menurutnya, Mecanang bukan hanya sekadar hiburan tradisional, melainkan juga sarana mempererat hubungan sosial masyarakat serta menyampaikan pesan moral dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, kesenian khas Kluet ini perlu terus dilestarikan agar tidak punah di tengah derasnya pengaruh modernisasi dan globalisasi.
Kesenian Mecanang bukan hanya tentang bunyi canang atau kemeriahan pesta adat semata, tetapi juga tentang menjaga identitas budaya, kebersamaan, serta sejarah panjang masyarakat Kluet. Sudah sepatutnya warisan ini dijaga bersama, agar tidak hilang ditelan zaman dan tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.










