LHOKSEUMAWE – Rapai Uroh merupakan salah satu warisan budaya Aceh yang memiliki keunikan tersendiri, terutama dalam tradisi uroeh atau pertandingan antarkelompok yang mengedepankan adu ritme, karakter bunyi, dan kemampuan menciptakan harmoni dari berbagai pola pukulan yang berbeda.
Hal tersebut disampaikan Saiful Bahri atau yang akrab disapa Syeh Do, pimpinan Klop Rapai Uroh Sanggar Geunta Alam, Paloh Pineung, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe.
Menurut Syeh Do, banyak orang memahami harmoni sebagai keselarasan bunyi yang seragam. Namun dalam Rapai Uroh, harmoni justru lahir dari pertemuan berbagai ritme yang dimainkan secara bersamaan oleh dua kelompok yang sedang bertanding.
“Dalam Rapai Uroh, yang diadu bukan sekadar kerasnya suara atau cepatnya pukulan. Yang diadu adalah kemampuan menghadirkan ritme dan karakter permainan hingga menghasilkan harmoni yang dapat dinikmati oleh para ceh dan penonton,” ujarnya.
Ia menjelaskan, istilah uroeh sendiri bermakna pertandingan atau adu keterampilan. Dalam tradisi tersebut, dua kelompok rapai saling berhadapan memainkan motif pukulan dan lagu yang berbeda. Meski terdengar rumit bagi orang awam, para pemain dan penikmat Rapai Uroh mampu menangkap harmoni yang tercipta dari pertemuan berbagai ritme tersebut. Tradisi pertandingan ini memang menjadi ciri khas Rapai Uroh yang berkembang di pesisir timur Aceh.
Syeh Do menambahkan, kemampuan memahami karakter bunyi menjadi salah satu keahlian penting para ceh atau juri dalam pertandingan Rapai Uroh. Bahkan, seorang ceh yang berpengalaman mampu mengenali identitas sebuah kelompok hanya dari suara rapai yang dimainkan.
“Setiap kelompok memiliki karakter permainan sendiri. Dari suara rapainya saja, para ceh biasanya sudah tahu kelompok mana yang sedang bermain,” katanya.
Sebagai pimpinan Sanggar Geunta Alam, Syeh Do melihat regenerasi pemain Rapai Uroh masih terus berlangsung. Anak-anak dan remaja di Lhokseumawe masih menunjukkan minat untuk mempelajari seni tradisi tersebut melalui sanggar dan kelompok-kelompok rapai yang aktif melakukan pembinaan.
Menurutnya, keberadaan puluhan kelompok rapai di wilayah Lhokseumawe menjadi bukti bahwa Rapai Uroh masih hidup dan mendapat tempat di tengah masyarakat. Hal ini sejalan dengan posisi Rapai Uroh yang telah lama dikenal sebagai salah satu ikon seni budaya Kota Lhokseumawe dan warisan budaya penting masyarakat Pasee.[]










