Gusti mencoba memutar memori lama terkait sosok Rindu di masa lalu. Namun tak ada satupun ulasan yang terlintas di benaknya. Tangan kanan-nya juga berulangkali mengetuk kepala sambil berharap jika ‘lemari memori’ miliknya tiba-tiba terbuka dan momen itu muncul.
“Mulai hari ini. Nak-ku harus tinggal di rumah Mama. Papa sudah membersihkan kamar,” ujar Bulek Rani sambil mengarah ke Rindu. Tangannya kembali memegang erat jemari Rindu. Ia terlihat sangat emosional.
“Papa?” celoteh Henky. Tapi Bulek Rani tak menanggapi.
“Nanti, Gusti bantu kamu pindah. Bisakan Gus? Bantu Bulek pindahkan barang-barang Nakku dari kosan ke rumah,” tanya Bulek Rani ke Gusti. Gusti yang tadinya lesu tiba-tiba semangat dan tersenyum lebar saat mendengar permintaan Bulek Rani.
“Baik Ma,” ujar Gusti mencoba membangkitkan memori lama. Setidaknya panggilan itu pernah ia ucapkan lebih dari 10 tahun. Ia ingin memiliki posisi yang setara dengan Rindu di mata Bulek. Tapi jawaban Bulek Rani justru membuatnya sesak di dada.
“Kamu cukup panggil Bulek saja,” ujar Rani singkat.
Rani mengambil kunci dari dalam tas. “Yuk kita pulang. Mobil Mama di parkiran sana. Papa-mu sangat kangen dan ingin segera ketemu,” ujar Bulek sambil menunjuk ke arah Mobil Jazz putih keluaran terbaru di parkiran masjid.
“Papa kangen?” celoteh Henky lagi. Ia tambah bingung.
Rani menarik tangan Rindu agar mengikuti langkahnya tanpa menunggu jawaban. Sementara Gusti baru tersentak dari lamunan saat sadar akan ditinggalkan.
“Saya ikut Bulek,” kata Gusti sambil berlari kencang ke arah mobil. Ia berdiri di sisi kiri sopir bagian depan. Namun tangan Bulek Rani tiba tiba memotong geraknya.
“Kamu di bagian belakang. Kursi depan untuk Rindu, Nak-ku,” ujarnya dengan nada ketus.
Mendengar hal ini, Gusti menggaruk kepala. Ia merasa kehadirannya seperti tak diharapkan. Posisi-nya juga mulai tersisih di hati Bulek dengan keberadaan Rindu. Tapi jika mundur, berarti ia harus merelakan satu-satunya kesempatan untuk mengungkap misteri lama yang hilang dari ingatannya tersebut. Ini juga kesempatan bagus baginya untuk membuka lembaran baru dengan Bulek dan Rindu.
Gusti tiba-tiba melempar kunci Maxi-Scooter ke arah Henky yang masih kaku. Sahabatnya itu terlihat melamun sambil memegang kepala. “Kamu ikut dari belakang,” ujar dia sebelum masuk mobil.
Henky hanya mengangguk sambil berceloteh sendiri. “Mama, Papa. Tapi masih di kos-kosan.”
Sementara dalam mobil, Gusti duduk dengan kaku di bagian belakang. Bulek masih belum memberikan jawaban jelas mengenai status Rindu meski ia tahu dengan jelas fakta-fakta yang terjadi.
Dalam perjalanan, Bulek Rani juga secara terang-terangan menunjukan mimik wajah ceria dengan mata berbinar saat memandangi Rindu. Tapi ia jusru menjawab ketus saat Gusti bertanya.
“Bulek! Apakah Rindu memang kerabat jauh kita? Dari Aceh,” tanya Gusti. Ia berhenti bertanya soal status anak kandung. Ini karena ia sudah bisa menjamin 100 persen bahwa kemungkinan itu tak ada dan tak akan dijawab.
Bulek tak langsung menjawab. Ia kemudian terlihat tersenyum. “Ini Nak-ku,” ujarnya penuh arti. Bulek masih ngotot konsisten.
“Kalau bukan karena takdir, ia sudah lahir dari rahimku,” kata Bulek Rani lagi penuh makna. Kali ini kalimat tersebut terdengar sangat berat.
[Bersambung]
Baca juga:
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 26
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)





![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)


