Beberapa hari usai rapat di belakang Warkop Bang Lah, kelompok kami akhirnya secara resmi pindah Markas. Tapi lokasinya justru berbeda jauh dengan harapan Dani Cs yang sedang bertugas di Banda Aceh. Dari ujung [Krueng Geukuh] ke ujung lainnya [Kandang] di Lhokseumawe.
Markas tersebut adalah bangunan berlantai 2 serta berada di wilayah Kandang Lhokseumawe. Lokasi ini cukup jauh dari Warkop Bang Lah di Krueng Geukuh.
Ini merupakan ‘kantor tak resmi’ pertama eks pasukan wilayah usai damai. Sebelumnya, kantor wilayah Pase berada di Alue Dua, Nisam, Aceh Utara. Tapi saat darurat militer, tempat tersebut telah dikosongkan, serta kami bergerilya atau berpindah-pindah. Demikian juga saat damai, pertemuan hanya berlangsung di Warkop-Warkop. Kondisi ini mengingat akan adanya banyak pertemuan rahasia kedepan, maka kami mencari tempat yang nyaman untuk membicarakan hal-hal penting.
Keberadaan kantor di daerah Kandang juga bagian dari mengunci massa. Dimana, basis kami di Krueng Geukuh dan kantor di Kandang.
Kami mulai mengatur piket harian serta personil dari adminitrasi hingga keamanan layaknya Kantor Wilayah Pase saat konflik. Rambo bertugas sebagai kepala harian sekaligus yang mengatur logistis semua personil. Sedangkan Marzuki sebagai kepala keamanan.
Sedangkan aku sendiri diberi kebebasan untuk bergerak tanpa terikat dengan jadwal. Rusli, Ridwan dan Dekjoel sendiri ditugaskan untuk mendampingiku dalam aktivitas sehari-hari. Mereka wajib 24 jam menyertaiku, kecuali jam tidur atau sedang berada di rumah.
Kami juga mempekerjakan beberapa mahasiswi sebagai staf adminitrasi dan personalia kantor.
“Biar pasukan yang masih jomblo betah di kantor,” ujar Rambo beralasan.
Semua ini diatur sendiri oleh Rambo. Sosok itu sebenarnya adalah calon yang disiapkan untuk mewarisi tugas dan sandi-ku jika sewaktu-waktu tewas dalam konflik. Namun karena takdir atau aku selamat hingga damai, ia kemudian lebih memilih mewarisi gelar Rambo.
Jelang akhir Agustus, elit GAM di Swedia, resmi mengumumkan mengusung pasangan H20 untuk Pilkada Aceh. Elit juga resmi menolak hasil Konvensi GAM-SIRA bulan Maret yang dilaksanakan di Hotel Cakra Donya. Sebagai gantinya, pimpinan pusat GAM merestui Hasbi Abdullah, tokoh GAM sekaligus adik kandung Zaini Abdullah, untuk berpasangan dengan akademisi Humam Hamid melalui usungan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Singkatan dari dua huruf awal nama tokoh ini menjadi H2O. Filosofinya kehadiran pasangan ini menjadi pembawa perubahan bagi Aceh. Sedangkan independent menjadi paket Irna atau Irwandi Nazar.
Kabar elit Swedia mengusung H2O ini kami terima tepat sehari sebelum diberitakan koran local di Aceh.
Pada akhir Agustus juga, pasangan H2O resmi mendaftar ke Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh dengan klaim restu penuh dari petinggi pusat GAM. Jajaran mantan petinggi seperti Malik Mahmud, Teungku Usman Lampoh Awe, ikut mengampanyekan pasangan ini.
Yang paling mengejutkan, sosok Mualem atau Panglima Tertinggi Nanggroe juga ikut menemani pasangan ini ke Kantor KIP Aceh. Padahal sebelumnya dalam sejumlah pertemuan denganku, ia menyatakan Netral. Keberadaan panglima nanggroe dalam barisan pengusung H2O Ini membuat sejumlah pimpinan dan pasukan wilayah lainnya di Aceh, yang tadinya berada di kubu Irna kembali menarik diri.
Posisi pasangan independent kian terjepit. Mereka yang tersisa di kubu Irna juga mulai menerima cap ‘Pengkhianat.’ Salah satunya adalah kelompok kami di Pase.
Cap Pengkhianat ini mengores luka terdalam. Dulu, kata itu kami alamatkan kepada lawan yang mendukung republic di Aceh. Sekarang kalimat tersebut justru disemaikan pada kami.
[Bersambung]
Baca juga:
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 34
![Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 37](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/11/Sang-kombatan-jilid-2.webp)






![Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 37](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/11/Sang-kombatan-jilid-2-120x86.webp)

![Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 37](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/11/Sang-kombatan-jilid-2-350x250.webp)