Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Kolom

Serba Serbi Puasa dan Taraweh di Swedia

Admin1 by Admin1
12/05/2021
in Kolom
0
Serba Serbi Puasa dan Taraweh di Swedia

Penulis adalah Asnawi Ali.

???? dibandingkan dengan di negara lain, tidak berlebihan bila lamanya puasa di Swedia memang “tidak normal”. Di belahan benua Eropa, terlebih lagi Eropa bagian utara yang disebut Skandinavia ini, durasi berpuasanya lebih lama dari rata-rata di negeri lainnya saat bulan Ramadhan–kalender Islam–itu jatuh pada musim semi dan panas.

Oleh karena itu, memang benar bila ada testimoni baik melalui lisan dan tulisan yang ditayangkan di media elektronik atau cetak, termasuk media sosial yang selama ini publik sering online memposting serba serbi berpuasa dari mancanegara. Walaupun demikian, asal bukan di puncak musim panas, sebenarnya sepanas-panasnya musim panas tidaklah sampai membuat tubuh kita berpeluh deras hingga dehidrasi layaknya musim panas di kawasan Asia Tenggara.

Cuaca yang masih sedikit sejuk seperti di pegunungan pada musim semi ini, ditambah lagi dihiasi dengan keindahan tumbuhnya bunga dimana-mana, mungkin saja dapat “menghibur” dalam panjangnya berpuasa saat ini di Swedia. Hal yang unik adalah bila hari pertama dan akhir puasa itu perbedaanya sangat kentara. Ramadhan pertama itu 04:15 pagi dan Maghrib 20:10 malam. Sedangkan hari ini, di akhir Ramadhan, Subuhnya jam 02:50 pagi dan Maghrib 21:20.

Ini terjadi karena setiap hari berbeda waktu 2-3 menit yang ditandai dengan matahari lebih awal terbit dan lama tenggelam. Oleh karena itu, selisih waktu itu makin mencolok hingga puncak musim panas pada akhir bulan Juni nanti (Midsommar). Dengan demikian, gelapnya malam tanpa matahari hanya beberapa jam saja, bahkan sebenarnya tidak gelap 100% melainkan hanya temaram/redup layaknya suasana Maghrib. Ini juga berlaku pada wilayah Norwegia, Finlandia dan Rusia sebelah utara.

Setelah Midsommar, maka sedikit demi sedikit waktu yang berbeda 2-3 menit setiap harinya itu tadi akan membuat lebih awal tenggelam hingga puncak pada musim salju. Saat itu nanti sebaliknya maka matahari lebih lambat terbit dan awal tenggelam. Jika bulan Ramadhan jatuh pada musim salju, maka akan beruntunglah mereka yang berpuasa. Rotasi ini akan terus demikian berputar-putar hingga dunia berakhir kelak.

?????? ??????????

Sedianya tantangan terbesar dalam berpuasa di Eropa Utara bagi kita warga Asia Tenggara bukanlah lapar dan haus, melainkan tekanan psikologis. Pasalnya, suasana Ramadhan di Swedia sama sekali tidak tampak seperti di kampung kita, budayanya yang sangat berbeda. Ini adalah resiko karena tinggal di negara bukan mayoritas Muslim. Jadi tidak heran bila Ramadhan di Swedia itu tidak ubahnya seperti hari biasa lainnya. Memang ada publikasi di media namun hanya tercantum pada kolom ukuran mungil. Alternatifnya selama ini terpublikasi di media sosial yang memang lebih atraktif, mudah, meriah dan sangat cepat.

Oya, satu lagi. Ada faktor psikologis lainnya yang bisa membuat semangat berpuasa saat ini. Sebuah ungkapan ‘makin lama berpuasa maka makin besar pahalanya’ memang dapat memacu semangat dalam berpuasa. Begitu juga termasuk yang paling sering didengar yaitu “Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya”. Sedangkan motivasi sekunder lain, komunikasi lintas negara termasuk live ke kampung halaman melalui alam maya juga sebagai pendorong energi ibadah di bulan yang mulia ini.

Di waktu yang sama, bertemu dengan orang-orang dari budaya dan latar belakang yang berbeda di negeri orang bisa jadi menambah pengalaman hidup. Boleh jadi ilmu pengetahuan itu tidak didapatkan di bangku kuliah manapun. Begitu juga kedisiplinan dalam menjaga waktu yang dilatih langsung selama sebulan sebagai efek samping dalam berpuasa. Ini penting sekali. Sekali lagi saya tekankan bahwa sangatlah penting!

???? ?????-19

Sebelumnya Swedia dikenal bila tidak menerapkan lockdown secara ketat. Namun beberapa bulan belakang Swedia mulai ‘kena batunya’. Setelah dikritik habis-habisan maka standar protokol kesehatan (prokes) mulai sangat serius. Memang benar bahwa Swedia sebelumnya terlambat dalam menerapkan prokes dengan keras. Namun, setelah dipikir ulang, kini pemerintah Swedia melalui mulai melakukan penguncian sungguh-sungguh.

Dampaknya dilarang keras berkumpul lebih dari yang ditetapkan. Salah satunya semua kegiatan sosial, keagamaan, seperti bukan puasa bersama di ruangan, termasuk shalat tarawih bersama adalah termasuk larangan. Pengumuman di media sosial terlihat di mana-mana bahwa mesjid ditutup untuk kegiatan perkumpulan. Bisa jadi ada pengecualian jumlah orang yang berkumpul dengan catatan memperhatikan jarak sosial antara satu sama lain. Di Swedia, sebagian besar masjid mempertahankan ‘jam kerja’ normal, terutama di kota-kota besar.

?????? ??????? d? ?????

Masjid dan rumah peribadatan lainnya bukan ditutup total 100%. Maksud ditutup yang didengungkan oleh pemerintah Swedia adalah terikat dengan peraturan prokes yang wajib dipatuhi selama pandemi ini. Pengurus masjid masih ada beberapa, bahkan ada juga yang berbuka puasa bersama namun jumlahnya hanya bisa dihitung dengan jari. Mereka saya duga adalah pengurus inti masjid. Tidak lebih dari itu.

Namun para jamaah yang hendak buka puasa bersama bahkan Tarawih disarankan dilakukan di rumah masing-masing. Bila ragu untuk berkumpul sebaiknya demikian juga karena masih bisa berjamaah bersama keluarga di rumah. Apalagi bisa menentukan sendiri bila beristirahat sejenak karena praktis Tarawihnya selepas Isya mendekati jam 11 malam.

Permintaan istirahat dipinta oleh anak yang masih kecil. Bahkan juga ikut absen karena terkantuk-kantuk. Apalagi keesokan paginya juga harus masuk sekolah. Oya, anak SD di Swedia belum diterapkan sekolah melalui daring di rumah. Hanya anak SMP ke atas yang melakukan demikian. Malahan, anak SMP terkadang 3 hari belajar daring selebihnya belajar tatap muka di sekolah seperti biasa. Namun tentu saja bila naik kendaraan umum wajib memakai masker.

?????? ????

Sudah lama berintegrasi dengan masyarakat Swedia bukan berarti lupa dengan budaya kita sendiri. Secara umum memang benar Swedia ramah dengan minoritas. Mereka memberikan kebebasan mempraktikkan beragama dan juga aspek kemasyarakatan lainnya yang bahkan bagi kacamata budaya Asia terkadang terlampau bebas. Saking bebasnya malah kebablasan!

Jarang sekali saya melihat orang ramai berjalan ke masjid untuk duduk serta menghabiskan waktu sembari refleksi beserta interaksi kontak sosial. Hal yang kontras terlihat di Swedia adalah masyarakatnya yang dingin, acuh tak acuh, individualistis. Apalagi saat pandemi ini yang kebanyakan penduduknya “mengeram” di dalam rumah.

Bagi pendatang umumnya bergaul sesama pendatang yang berasal dari negerinya masing-masing. Saya mengambil contoh kecil. Dalam hal ini, selama puasa saya melihat bila membutuhkan perencanaan untuk belanja ke toko bahan makanan halal, biasanya saling tolong menolong. Umumnya berbelanja banyak untuk 2-3 minggu lalu saling titip menitip barang. Mereka biasanya sangat senang melakukannya. Benar-benar keramahan kita orang Asia yang serumpun dengan Melayu. Begitu juga saat buka puasa bersama di rumah.

Previous Post

Masyarakat Diperbolehkan Shalat Id di Masjid Raya Baiturrahman

Next Post

Buruh Laporkan 2.265 Kasus Pelanggaran THR ke LBH

Next Post
Buruh Laporkan 2.265 Kasus Pelanggaran THR ke LBH

Buruh Laporkan 2.265 Kasus Pelanggaran THR ke LBH

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Kerap Bertindak Ala Premanisme, Sekjend PAN Pijay Minta Wabup Periksa Kesehatan Mental

Kerap Bertindak Ala Premanisme, Sekjend PAN Pijay Minta Wabup Periksa Kesehatan Mental

02/04/2026
Terima Kunjungan Kaposwil PRR, Wali Nanggroe Minta Penanganan Menyeluruh Aceh Pasca Bencana

Terima Kunjungan Kaposwil PRR, Wali Nanggroe Minta Penanganan Menyeluruh Aceh Pasca Bencana

02/04/2026
Bima Arya Ingatkan Praja IPDN Jaga Kinerja Pengabdian di Aceh Tamiang

Bima Arya Ingatkan Praja IPDN Jaga Kinerja Pengabdian di Aceh Tamiang

02/04/2026
Aceh Tengah Kembali Dilanda Banjir Bandang dan Tanah Longsor

10 Desa di Aceh Tengah Kembali Terisolir Akibat Banjir Bandang

02/04/2026
Rencana HUT ke-24 Abdya Didesain Jadi Penggerak Ekonomi Lokal

Rencana HUT ke-24 Abdya Didesain Jadi Penggerak Ekonomi Lokal

02/04/2026

Terpopuler

Hapus JKA = Bunuh Hak Rakyat, Fadhlullah TM Daud: Pemerintah Aceh Jangan Main Api

Hapus JKA = Bunuh Hak Rakyat, Fadhlullah TM Daud: Pemerintah Aceh Jangan Main Api

02/04/2026

Papan Bunga Pelantikan Imum Syik Seret Nama Kapolda Aceh dan Pangdam IM

272 Murid SMA dan SMK Aceh Selatan Lulus SNBP 2026, Meningkat dari 2025

Kerap Bertindak Ala Premanisme, Sekjend PAN Pijay Minta Wabup Periksa Kesehatan Mental

Rencana HUT ke-24 Abdya Didesain Jadi Penggerak Ekonomi Lokal

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com