RIDWAN turut dibawa ke Jakarta saat satuan marinir tadi ditarik dari Aceh. Namun hal ini tak juga membuat nasibnya menjadi lebih baik.
Saat menjalani kehidupan di tahanan militer, ia kemudian bertemu dengan seorang wanita yang bekerja sebagai tukang masak.
Beruntung, tak lama kemudian, GAM dan RI kemudian berdamai usai Tsunami menerjang Aceh diakhir 2004 lalu.
“Sekitar tahun 2006, saya dilepas,” ujar pria yang akrab disapa Wan Jawiw ini kepada Iskandar lagi.
Ridwan kemudian mengaku lupa apa yang terjadi pada diri saat itu.
Ia mengaku sempat tinggal di Banten, kampung istrinya dan kini menetap di Bandung.
Selama ingatannya kembali, ia mengaku jarang berjumpa dengan warga asal Aceh di Jakarta.
“Saya sehari-hari berjualan. Berjualan rujak,” kisah Ridwan.
Ridwan mengaku sempat mengirim surat yang ditujukan kepada keluarga untuk mengambarkan keberadaannya di Jakarta. Namun surat tersebut ternyata tak pernah sampai ke keluarga.

Sebelum puasa kemarin, ia kembali bertemu dengan salah seorang sopir truk asal Aceh. Ia kemudian kembali mengirim surat untuk diberitahu pada keluarga.
“Kedua orangtua saya sudah meninggal. Kalau pulang berarti ke rumah nenek,” ujarnya dalam bahasa Aceh.
Oleh sopir tadi, surat tersebut kemudian diserahkan kepada salah seorang anggota KPA Sagoe Sweden, yang menjadi korp Ridwan semasa konflik.
Anggota KPA Sagoe Sweden sempat terkejut kala menerima surat ini. Ini karena mereka menganggap telah meninggal sejak akhir 2003.
Melalui nomor handphone di surat tadi, salah seorang anggota KPA menghubungi Ridwan dan berdasarkan ciri-ciri yang disampaikan, mereka baru percaya bahwa sosok tadi adalah Wan Jawiw, rekan mereka semasa konflik.
“Anggota KPA tadi menghubungi saya, dan kita fasilitasi pulang ke Aceh bersama istri dan anaknya. Wan Jawiw juga dijemput tim saya dari Kualanamu untuk dibawa pulang ke Aceh Timur via darat,” kata Iskandar.
“Saya akan mengantar hingga ke rumah,” ujar politisi muda PA ini lagi.
[Bersambung]











