GERBANGNYA terlihat megah dengan arsitektur timur tengah. Letaknya pas di sisi kiri Jalan Banda Aceh-Medan, Kabupaten Bireuen.
Ada bangunan berlantai dua terletak di sisi kiri komplek. Kemudian mushala besar di tengah-tengah yang jadi lokasi salat jamaah saat jadwal tiba.
Di dekat gerbang ada plamplet berukuran sedang. Di sana tertulis,’ Dayah Al-Madinatuddiniyah Babussalam Blang Bladeh.”
Namun warga di Aceh lebih mengenalnya dengan sebutan Dayah Tu Min atau Dayah Tu Min Blang Bladeh.

Nama terakhir adalah sosok ulama kharismatik yang dituakan di Aceh. Tu Min juga merupakan panutan serta rujukan dalam setiap persoalan aqidah yang terjadi di Aceh.
Ke sanalah tim atjehwatch.com berkunjung pada pertengahan Juni 2021 lalu.
Suasana reliji terasa kental saat memasuki komplek ini.
Beberapa remaja bersarung terlihat sedang berwudhu.
Ada juga yang terlihat duduk di bangunan lantai dua sambil memegang kitab.
“Tu sedang tidak ada di dayah,” ujar seorang santri di lokasi wudhu tadi.
“Adanya Teungku Usman,” kata santri lainnya.
Meski sedang pandemi, suasana di dayah salafiah tersebut tetap berjalan normal dengan tetap menjalankan protocol kesehatan.
“Kalau ada Tu, biasanya banyak warga yang datang dari berbagai daerah untuk bertemu,” ujar salah seorang teungku di sana.
Informasi yang disampaikan teungku tadi memang benar adanya. Tu Min selain ulama kharismatik, juga guru ulama-ulama besar di Aceh. Beliau merupakan generasi ketiga yang memimpin dayah besar di Aceh tersebut.
Ya, Dayah Al-Madinatuddiniyah Babussalam didirikan oleh Teungku H Imam Hanafiah pada 1890. Sosok ini merupakan kakek dari Tu Min.
Saat Teungku H Imam Hanafiah meninggal, estafet kepemimpinan dayah itu diteruskan anaknya yang bernamaTeungku Mahmudsyah.
Pimpinan kedua ini merupakan orangtua dari Tu Min. Nama asli Tu Min adalah Abu H. Muhammad Amin.
Kini di bawah kepemimpinan Abu Tumin adalah cucu Tgk Imam Hanafiah terus berbenah dan berkembang.
Jumlah santrinya mencapai ribuan orang dan tersebar di seluruh daerah, baik Aceh maupun tingkat nasional.
Abu Tumin dalam sebuah pengajian, mengatakan dayahnya merupakan adayah salafiah.
“Kita terus berupaya melahirkan kader-kader ulama dan berjuang keras agar syariat Islam tidak hanya sebatas wacana,” ujar Tu Min.
Menurutnya, fase yang dilalui saat ini berbeda dengan zaman-zaman sebelumnya. Demikian juga seorang santri dan ulama.
“Tantangan ini yang harus mampu dijawab. Terutama soal aqidah.”
Dayah Al-Madinatuddiniyah Babussalam Blang Bladeh berciri khas pengajian ilmu fiqih, tauhid, dan tafsir.
Di dayah tersebut santri juga diajarkan ilmu jual beli, qadhi, sosial, zakat, pernikahan, pinjam meminjam dan sebagainya.
Dayah yang berada di kompleks Masjid Al-Ikhlas Blangbladeh itu, memiliki beberapa bangunan bertingkat selain tempat penginapan santri dan balai pengajian.
Dayah itu dibangun pada dua lokasi terpisah, yaitu satu untuk putra yang disebut Babussalam Putra yang ada di Blangbladeh dan satu lagi Babussalam Putri yang berada di Desa Kuala Jeumpa.
Usia dayah yang lebih dari satu abad ini membuat dayah ini memiliki banyak alumni.
Salah satunya, seperti Dayah Minatuddiniyah bagian dari Alminatuddiniyah Babussalam Bireuen, serta Darusaa’adah adalah cabang dari Darussaa’adah Teupin Raya, kabupaten Pidie.
“Almarhum Abu Paloh Gadeng sendiri juga murid dari Abu (Tu Min-red),” ujar Teungku Usman, salah seorang teungku di sana.
Menurut Teungku Usman, setiap tahunnya para alumni selalu berkumpul di dayah dan mengelar acara.
“Semoga dayah ini terus melahirkan ulama-ulama besar di Aceh,” kata dia. [Advertorial]
Tulisan ini merupakan hasil kerjasama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dengan atjehwatch.com dalam rangka promosi wisata islami (dayah) di Aceh.









