Jakarta – Pemerintah baru Jerman meloloskan anggaran tambahan pada Senin untuk menambah dana iklim dan transformasinya dengan suntikan yang dibiayai utang sebesar 60 miliar euro (Rp970 triliun) untuk memungkinkan lebih banyak investasi dalam pergeseran menuju ekonomi hijau.
Anggaran tambahan, disahkan dengan suara bulat oleh kabinet Kanselir Olaf Scholz, akan menyalurkan 60 miliar euro utang yang tidak terpakai dalam anggaran federal tahun ini ke dalam iklim dan dana transformasi pemerintah untuk pengeluaran masa depan, menurut Reuters, 13 Desember 2021.
Manuver anggaran disetujui bulan lalu oleh Partai Sosial Demokrat (SPD) kiri-tengah, Partai Hijau yang pro-anggaran iklim besar, dan Demokrat Bebas (FDP) yang lebih berhati-hati secara fiskal dalam kesepakatan koalisi mereka, yang memungkinkan partai-partai memanfaatkan situasi sementara terkait pandemi untuk penangguhan batas pinjaman dalam konstitusi.
Kompromi anggaran membantu menteri keuangan baru Jerman dan pemimpin FDP Christian Lindner untuk melihat kembali ke aturan rem utang mulai 2023, dan masih memungkinkan lebih banyak investasi publik yang diperlukan untuk mengurangi emisi karbon di ekonomi terbesar Eropa.
“60 miliar euro untuk investasi masa depan adalah pendorong bagi perekonomian,” kata Lindner.
Langkah itu akan membantu pemerintah mengatasi konsekuensi ekonomi dari pandemi virus corona dan memungkinkan lompatan kuat menuju masa depan yang lebih netral karbon dan lebih digital, tambahnya.
Koalisi ingin menyebarkan dana untuk melakukan investasi publik yang penting dalam langkah-langkah perlindungan iklim, mulai dari titik pengisian untuk kendaraan listrik hingga isolasi rumah yang lebih baik, dan digitalisasi ekonomi.
Suntiksn anggaran yang dibiayai utang sebesar 60 miliar euro akan meningkatkan volume dana menjadi 76,2 miliar euro (Rp1.231 triliun) pada awal tahun depan, kata Lindner.
Selain itu, pemerintah akan menyalurkan hingga 18 miliar euro (Rp291 triliun) pendapatan pajak tambahan, terutama yang berasal dari pajak ramah lingkungan dan skema perdagangan emisi CO2, ke dalam dana transformasi dan iklim pada tahun depan, sehingga cadangan fiskal untuk investasi mendekati 95 miliar euro (Rp1.535 triliun).
Koalisi Scholz setuju untuk menggunakan klausul darurat dalam konstitusi untuk tahun ketiga berturut-turut pada 2022, untuk menangguhkan batas utang dan memungkinkan pinjaman baru sebesar 100 miliar euro (Rp1.616 triliun). Ini akan datang di atas utang baru bersih yang belum pernah terjadi sebelumnya sebesar 130 miliar euro (Rp2.100 triliun) pada 2020 dan 240 miliar euro (Rp3.880 triliun) pada 2021.
Mulai tahun 2023 dan seterusnya, koalisi baru Jerman bertujuan untuk kembali ke aturan rem utang konstitusi yang membatasi pinjaman baru untuk sebagian kecil dari output ekonomi.








