Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Saleuem

Kunci Syurga di Masjid Oman! Milik Siapa?

redaksi by redaksi
28/01/2020
in Saleuem
0
Kunci Syurga di Masjid Oman! Milik Siapa?

Ilustrasi

BUKAN Aceh namanya jika tak ada perdebatan dan pergolakan. Dibilang intoleran salah dan mencak-mencak. Tapi kenyataan susah menerima perbedaan memang benar adanya. Minimal dari berbagai kasus yang terjadi terakhir ini.

Hal ini tak terlepas dari campur ragam suku yang mendiami ujung pulau Sumatera ini. Tak pernah peduli hal baik atau hal buruk yang pasti langkah pertama adalah spekulasi yang menghasilkan kontroversi.

Padahal Provinsi Aceh benar telah diformalisasi pelaksanaan Syariat Islam sejak Qanun Nomor 11 Tahun 2002 disahkan. Berbagai regulasi juga telah dilakukan untuk memenuhi tagline Islam Kaffah atau Islam sempurna.

Budaya Peh dada Aceh untuk menuai tepuk tangan pemirsa juga tersingkap dibalik tari seudati yang diperagakan oleh para penari, mereka serentak seayun memukul perut pertanda suara perutnya besar. Siksa diri dan kemudian mempertontonkan kepada khalayak ramai dengan bangga, bahwa kita siap menderita, yang penting para orang merasa bahagia.

Aceh sulit kompak, kenapa? Jawabannya karena krisis Indentitas! Mengutip apa kata Wali Nanggroe Aceh Teungku Chik Hasan Di Tiro Muhammad Saman, bahwa Aceh akan terus bergejolak, isu histori dan ideologi saban hari dan tahun menjadi perdebatan.

Pasca Konflik yang berakhir damai, meski tak memuaskan para pihak, Aceh mulai mengisi perdamaian dengan pembangunan, tak terkecuali juga pembangunan dalam hal perkembangan islam.

Namun belakangan ini Aceh kerap diombang-ambing konflik antar aliran, seperti konflik Aswaja – Muhammadiyah, konflik Aswaja – Wahabi. Bukankah kita diajarkan bahwa, “Islam itu tinggi, tidak ada yang tinggi di atasnya.”

Namun kenapa juga saling klaim, untuk eksistensi, menabur pengaruh, perebutan tempat suci (Masjid-red) terus terjadi? Krisis moralkah kita? Atau krisis identitas kah kita? Yang pasti Aceh butuh konflik, baik itu konflik sekte agama, konflik etno sentris ego sektoral kedaearahan untuk saling unjuk performance siapa yang terkuat? Apakah ini yang akan terus kita lestarikan untuk budaya kepada generasi kedepan? Atau sampaikan kapan metode ini kita pertahankan?

Lantas bagaimana dengan amalan Al -Islamu Kal Jasadu Wahid (islam itu ibarat tubuh yang satu)? Bukan kan perbedaan itu adalah bentuk suplemen untuk saling menjadi umat yang terbaik sebagai penghuni Syurga bersama para Anbiya di Akhirat kelak.

Seharusnya perbedaan bisa disikapi dengan cara-cara yang lebih baik. Lebih bijak santun dan bersahaja. Bukan dengan mempertontonkan perbedaan ke public menggunakan kuantitas kelompok  dan itupun berlangsung di tempat ibadah. Nauzubillahi min zalik, semoga Allah melindungi bumoe para aulia ini.

Ada banyak cara mendapatkan kunci syurga. Berjihad ke Palestina atau Suriah misalnya. Atau membantu fakir miskin yang membutuhkan sentuhan tangan para derma.

Sedangkan untuk perbedaan dalam menuju syurga hendaknya juga diselesaikan dengan kepala dingin, arif serta bijaksana. Tak elok dipertontonkan, apalagi live, selfie, wefie dari dalam masjid. Terlalu suram Provinsi Aceh dimata orang lain. Karena hal demikian justeru mempertontonkan perbedaan malah akan membuat Wajah Aceh terpuruk di dasar jurang intoleran.

Mari makmurkan mesjid? Hindari fitnah dan ghibah. Gunakan kepala dingin untuk menyelesaikan masalah, dan stop konflik aliran agar Aceh tetap meusycuhu di mata donja. Gunakanlah logika untuk berpikir, hindari otot dan kuantitas jumlah anggota kelompok dalam menyelesaikan masalah, karena Provinsi Aceh telah cukup lelah dalam amisan darah dan butiran air mata. []

Tags: acehaswajawahabi
Previous Post

Mengerikan, Kenya Diserbu Ratusan Juta Belalang

Next Post

Rujuk, Mawardi-Waled Rombak Kabinet Hari Ini?

Next Post
Mawardi-Waled Husaini Kembali Duduk Semeja, Rujuk?

Rujuk, Mawardi-Waled Rombak Kabinet Hari Ini?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Omen, Dua dari Tiga Bayi di Aceh Belum Diimunisasi

Omen, Dua dari Tiga Bayi di Aceh Belum Diimunisasi

17/04/2026
Ketua FJA Minta Legislatif Sisihkan Pokir Bangun Rumah untuk Dhuafa di Abdya

Ketua FJA Minta Legislatif Sisihkan Pokir Bangun Rumah untuk Dhuafa di Abdya

17/04/2026
Angin Puting Beliung Landa Tiga Desa di Aceh Tenggara

Angin Puting Beliung Landa Tiga Desa di Aceh Tenggara

17/04/2026
Satu Unit Rumah di Ulee Kareng Terbakar

Satu Unit Rumah di Ulee Kareng Terbakar

17/04/2026
Seorang Oknum Pria di Nagan Ditahan Polisi Atas Dugaan Kasus Asusila

Seorang Oknum Pria di Nagan Ditahan Polisi Atas Dugaan Kasus Asusila

17/04/2026

Terpopuler

YARA: Dugaan Penganiayaan Wabup Pijay Alarm Krisis Moral Pejabat

YARA: Dugaan Penganiayaan Wabup Pijay Alarm Krisis Moral Pejabat

16/04/2026

ABG di Aceh Diperiksa Polisi Usai Live Pamer ‘Aset Pribadi’ di Tiktok

Jubir Pemerintah Aceh, Nurlis: Soal Gubernur Mualem, Humam Bohongi Publik!

Kunci Syurga di Masjid Oman! Milik Siapa?

Asa Janda Miskin di Gubuk Plastik, Uluran Tangan Dermawan hingga Perhatian Pemerintah Abdya

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com