BUKAN Aceh namanya jika tak ada perdebatan dan pergolakan. Dibilang intoleran salah dan mencak-mencak. Tapi kenyataan susah menerima perbedaan memang benar adanya. Minimal dari berbagai kasus yang terjadi terakhir ini.
Hal ini tak terlepas dari campur ragam suku yang mendiami ujung pulau Sumatera ini. Tak pernah peduli hal baik atau hal buruk yang pasti langkah pertama adalah spekulasi yang menghasilkan kontroversi.
Padahal Provinsi Aceh benar telah diformalisasi pelaksanaan Syariat Islam sejak Qanun Nomor 11 Tahun 2002 disahkan. Berbagai regulasi juga telah dilakukan untuk memenuhi tagline Islam Kaffah atau Islam sempurna.
Budaya Peh dada Aceh untuk menuai tepuk tangan pemirsa juga tersingkap dibalik tari seudati yang diperagakan oleh para penari, mereka serentak seayun memukul perut pertanda suara perutnya besar. Siksa diri dan kemudian mempertontonkan kepada khalayak ramai dengan bangga, bahwa kita siap menderita, yang penting para orang merasa bahagia.
Aceh sulit kompak, kenapa? Jawabannya karena krisis Indentitas! Mengutip apa kata Wali Nanggroe Aceh Teungku Chik Hasan Di Tiro Muhammad Saman, bahwa Aceh akan terus bergejolak, isu histori dan ideologi saban hari dan tahun menjadi perdebatan.
Pasca Konflik yang berakhir damai, meski tak memuaskan para pihak, Aceh mulai mengisi perdamaian dengan pembangunan, tak terkecuali juga pembangunan dalam hal perkembangan islam.
Namun belakangan ini Aceh kerap diombang-ambing konflik antar aliran, seperti konflik Aswaja – Muhammadiyah, konflik Aswaja – Wahabi. Bukankah kita diajarkan bahwa, “Islam itu tinggi, tidak ada yang tinggi di atasnya.”
Namun kenapa juga saling klaim, untuk eksistensi, menabur pengaruh, perebutan tempat suci (Masjid-red) terus terjadi? Krisis moralkah kita? Atau krisis identitas kah kita? Yang pasti Aceh butuh konflik, baik itu konflik sekte agama, konflik etno sentris ego sektoral kedaearahan untuk saling unjuk performance siapa yang terkuat? Apakah ini yang akan terus kita lestarikan untuk budaya kepada generasi kedepan? Atau sampaikan kapan metode ini kita pertahankan?
Lantas bagaimana dengan amalan Al -Islamu Kal Jasadu Wahid (islam itu ibarat tubuh yang satu)? Bukan kan perbedaan itu adalah bentuk suplemen untuk saling menjadi umat yang terbaik sebagai penghuni Syurga bersama para Anbiya di Akhirat kelak.
Seharusnya perbedaan bisa disikapi dengan cara-cara yang lebih baik. Lebih bijak santun dan bersahaja. Bukan dengan mempertontonkan perbedaan ke public menggunakan kuantitas kelompok dan itupun berlangsung di tempat ibadah. Nauzubillahi min zalik, semoga Allah melindungi bumoe para aulia ini.
Ada banyak cara mendapatkan kunci syurga. Berjihad ke Palestina atau Suriah misalnya. Atau membantu fakir miskin yang membutuhkan sentuhan tangan para derma.
Sedangkan untuk perbedaan dalam menuju syurga hendaknya juga diselesaikan dengan kepala dingin, arif serta bijaksana. Tak elok dipertontonkan, apalagi live, selfie, wefie dari dalam masjid. Terlalu suram Provinsi Aceh dimata orang lain. Karena hal demikian justeru mempertontonkan perbedaan malah akan membuat Wajah Aceh terpuruk di dasar jurang intoleran.
Mari makmurkan mesjid? Hindari fitnah dan ghibah. Gunakan kepala dingin untuk menyelesaikan masalah, dan stop konflik aliran agar Aceh tetap meusycuhu di mata donja. Gunakanlah logika untuk berpikir, hindari otot dan kuantitas jumlah anggota kelompok dalam menyelesaikan masalah, karena Provinsi Aceh telah cukup lelah dalam amisan darah dan butiran air mata. []











