Banda Aceh—Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (FKIP USK) mengunjungi mahasiswa USK yang sedang melaksanakan MBKM Internasional di Kualalulmpur, Malaysia, selama dua hari (22-23 November 2023). Kunjungan Dekan FKIP itu juga dalam rangka mewakili Rektor USK dalam proyek kemanusiaan yang digagas oleh Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri se-Indonesia (MRPTNI).
“Proyek kemanusiaan yang digagas oleh Majelis Rektor kampus negeri se-Indonesia antara lain memberantas buta huruf bagi anak-anak migran Indonesia di Malaysia. Proyek kemanusiaan ini dikemas dalam berbagai bentuk, di antaranya mengajar anak-anak migran Indonesia di sanggar-sanggar binaan Kedutaan Besar Republik Indonesia,” kata Dekan FKIP USK, Dr. Drs. Syamsulrizal, M.Kes.
Menurut Syamsulrizal, salah satu kegiatan kemanusiaan memberantas buta huruf tersebut dengan mengirimkan mahasiswa mengajar di sanggar-sanggar binaan KBRI di Kualalumpur. Agar kegiatan ini bermanfaat juga bagi kampus, kata dekan, mahasiswa yang dikirim mengajar di sanggar-sanggar KBRI diberikan konversi nilai ke dalam pogram Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Internasional.
“Untuk konversi MBKM Internasional, program ini didukung oleh International University (INTI) dan Education Malaysia Global Services (EMGS). Jadi, mahasiswa kita sempat menempuh kursus terlebih dahulu di INTI untuk konversi nilai MBKM,” jelas Syamsul.
Rombongan rektor dari seluruh PTN Indonesia disambut oleh Duta Besar RI dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kualalumpur. Selain itu, hadir pula perwakilan International University dan Education Malaysia Global Services.
Sehari sebelum Dekan FKIP hadir di Kedutaan Besar RI Kualalumpur, sudah hadir Wakil Dekan Bidang Akademik FKIP USK, Dr. Sanusi, M.Si., dan perwakilan Kantor Urusan Internasional (KUI) USK, Dwi Juniyana di lokasi sanggar binaan KBRI yang ditempati mahasiswa USK.
“Kami sudah hadir sehari sebelumnya di sanggar binaan KBRI yang ada mahasiswa USK. Alhamdulillah tahun ini ada 3 mahasiswa USK yang kita kirim mengajar anak-anak migran Indonesia. Mereka akan di sini selama 3 bulan,” kata Sanusi.
Sementara itu, pengelola sanggar KBRI, Fauzi Al Faizin, mengonfirmasi bahwa ada sekitar 70 anak Indonesia yang sekolah di sanggar bimbingan belajar At-Tanzil Ampang, tempat mahasiswa USK mengajar.
“Anak-anak migran Indonesia yang belajar di sini usia 6 hingga 18 tahun. Penempatan kelas ditentukan dengan kemampuan anak itu sendiri. Makanya, kami merasa terbantukan dengan hadirnya mahasiswa MBKM Internasional,” ujarnya.











