Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Nasional

Kisah Dokter Asal Aceh di Pedalaman Papua

Admin1 by Admin1
27/09/2019
in Nasional
0

PAPUA  – Suatu hari di pedalaman belantara Tiro, terbetiklah di benak Fajri kecil untuk menjadi seorang dokter. Kala tengah menemani orang tuanya mengobati para kombatan yang sekarat.

Banyak di antara separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang terluka tembak serta terserang malaria saat itu. Fajri bersama orangtuanya menembus belantara serta mendaki pegunungan demi mengobati mereka.
“Kelak nanti kalau sudah besar, dan bisa jadi dokter saya mau masuk hutan atau gunung tinggi sekalipun,” demikian terbesit di pikirannya waktu itu.

Puluhan tahun kemudian, niat Fajri Nurjamil (33) terkabulkan. Genap tujuh tahun sudah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama ini mengasah baktinya di pedalaman Asmat, Papua.

Negeri cenderawasih tidak sembarang dipilih. Atensinya menjadi dokter di provinsi itu sudah jauh-jauh hari ia tanamkan, semenjak nota damai di Aceh lahir.

“Mata hati saya tertuju ke pedalaman Papua yang masih bergejolak perang,” tuturnya, kepada Liputan6.com, Rabu (25/9/2019).

Fajri sempat mengurungkan niatnya menjadi dokter. Ia saat itu hendak mendaftarkan diri ke akademi militer.

Namun, postur tubuhnya tidak mendukung. Fajri pun kembali terkenang akan cita-cita masa kecil juga amanah sang ibunda.

“Alhamdulillah. Doa dari kedua orangtua, keluarga, dan istri yang saat itu masih berpacaran, terkabulkan berkat izin-Nya,” kenang Fajri.

Ia awalnya ditugaskan di Kota Agats, tepatnya, Puskesmas Primapun, Distrik Safan. Harus menempuh perjalanan kurang lebih 7 jam lewat jalur air ke tempat itu.

Fajri bertugas di Puskesmas Primapun pertengahan Juni 2013, hingga Desember 2014. Lantas menetap di Distrik Suru-Suru sejak Januari 2015 hingga kini.

Sempat pula ditugaskan selama satu minggu di Puskesmas Mamugu-Batas Batu, Distrik Sawa Erma pada tahun 2014. Juga Puskesmas Yausakor, Distrik Siret’s pada 2018.

Sebagai seorang Muslim, Fajri mengaku sangat diterima oleh lingkungannya. Tempatnya bertugas mayoritas beragama Kristen.

Selama ini, peribadatannya tak terganggu sama sekali. Warga setempat bahkan memberi lokasi ibadah yang layak hingga menyediakan air wudu.

“Warga di sini paham dengan keyakinan agama saya. Ada saat saya meminta waktu beristirahat sebentar di sela pelayanan kesehatan agar saya bisa menunaikan salat,” akunya.

Penerimaan inilah yang bikin Fajri kerasan. Ia merasa dirinya bagian dari Papua, begitu pun sebaliknya.

“Berat meninggalkan mereka. Saya sudah menganggap mereka seperti saudara saya sendiri, begitu juga sebaliknya,” kata Fajri.

Rindu kepada orang-orang terkasih tentu bukan kepalang beratnya. Antara Aceh-Papua terbentang jarak yang sangatlah jauh.

Fajri meninggalkan istri dan dua orang putri di Serambi Makkah. Apa daya, demi keleluasaan tugas di provinsi paling timur Indonesia, Fajri tak bisa membawa mereka bersamanya.

Hanya sesekali ia menyambangi keluarganya. Lebih banyak berhubungan melalui seluler, itu pun harus mencari waktu dan tempat yang tepat karena sinyal susah didapat.

“Yang sangat berat bagi saya, hanya rasa rindu untuk kedua putri saya, istri dan keluarga saya di Aceh,” ungkap suami Syafrina Ibrahim ini.

Putri bungsunya bernama Fathia Hanifa Al Koroway baru berumur satu tahun 9 bulan. Anak pertamanya bernama Faqia Shadira Al Safan menginjak enam tahun.

“Terkadang di kala rasa rindu berat melanda, malaria saya kambuh,” ucapnya dengan agak nada berat.

Soal malaria, Fajri mengaku sudah jadi langganan. Sedikitnya, ia terserang malaria 14 kali dalam tujuh tahun tugasnya.

“Sebanyak 3 kali dalam keadaan tidak sadar, dan 11 kali masih mengenal siapa-siapa,” sebutnya.

Tentu saja hal itu tidak bikin Fajri kapok. Ia kukuh mengabdikan diri menjadi dokter di provinsi yang tengah terhembalang dalam konflik itu.

“Saya hanya ingin berbakti. Tidak semua dokter punya kesempatan bersentuhan dan mengobati warga di pedalaman Papua,” dia memungkasi.

Sumber: liputan6.com

Tags: acehdokter asal aceh di pedalaman papuadokter pedalamanpapua
Previous Post

Jokowi Balik Badan saat Ditanya Penangkapan Dandhy dan Ananda

Next Post

Darwati Cs Antar Surat Pemecatan Tiyong dan Falevi ke KIP Aceh

Next Post

Darwati Cs Antar Surat Pemecatan Tiyong dan Falevi ke KIP Aceh

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Baitul Mal Abdya Verifikasi Puluhan Rumah Warga Tak Layak Huni

Baitul Mal Abdya Verifikasi Puluhan Rumah Warga Tak Layak Huni

21/04/2026
Kak Nana Kunjungi SPS Cahaya Hatee dan Ayeum Mata, Bunda PAUD Abdya

Kak Nana Kunjungi SPS Cahaya Hatee dan Ayeum Mata, Bunda PAUD Abdya

21/04/2026
Pelaku Karhutla Bisa di Pidana, Polres Abdya Ingatkan Masyarakat Tentang Bahayanya

Pelaku Karhutla Bisa di Pidana, Polres Abdya Ingatkan Masyarakat Tentang Bahayanya

21/04/2026
Polres Pidie Jaya Gencarkan Edukasi Karhutla, Satreskrim–DLHK Aceh Pasang Spanduk Imbauan Humanis

Polres Pidie Jaya Gencarkan Edukasi Karhutla, Satreskrim–DLHK Aceh Pasang Spanduk Imbauan Humanis

21/04/2026
Siswa SMAN 1 Pulau Banyak Barat Ikuti Cerdas Cermat OESN

Siswa SMAN 1 Pulau Banyak Barat Ikuti Cerdas Cermat OESN

21/04/2026

Terpopuler

Ajudan Dir Narkoba Aceh dilaporkan ke Div Propam Polri

Ajudan Dir Narkoba Aceh dilaporkan ke Div Propam Polri

21/04/2026

Ratoh Jaroe Disebut “Industri”, Budayawan Aceh: Tradisi Asli Justru Tergeser

Obat Kosong hingga Mogok Dokter di RSUD Aceh Besar, Zulfikar DPRK: Ini Seperti Tentara Disuruh Berperang tanpa Senjata

Kisah Dokter Asal Aceh di Pedalaman Papua

Ketua DPRK Dukung Forkom KDMP Banda Aceh Jadi Motor Penggerak Kemandirian Gampong

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com