Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Bon Kontan sebelum Rupiah di Kota Langsa

Admin1 by Admin1
23/10/2019
in Sejarah
0
Sejarah Bon Kontan sebelum Rupiah di Kota Langsa

Jakarta – Bangunan bercat putih peninggalan Belanda itu tepat berada di tengah pusat kota Langsa, provinsi Aceh. Arsitekturnya bergaya Eropa.

Gedung bernama Balee Juang itu merupakan Museum Kota Langsa. Di kanan gedung berdiri tegap tiang yang mengikatkan bendera merah putih. Suara kendaraan terdengar riuh berlalu-lalang di sekeliling luar gedung.

Menginjakkan kaki ke dalam gedung, susana langsung berubah. Hening. Suara kendaraan nyaris tak terdengar. Dinding-dinding penuh dengan koleksi benda bersejarah. Di sudut kanan dalam gedung terlihat pria dewasa mengenakan baju merah asyik memotret benda-benda yang terletak di dalam kaca.

Di sudut lain, dua perempuan juga tengah membaca bait per bait deskripsi dari naskah-naskah kuno yang dipamerkan. Di tengah sekelompok orang, seorang pemandu juga sibuk menjelaskan berbagai materi terkait sejarah dalam gedung tersebut.

Seorang pengunjung mahasiswa dari Banda Aceh, Safrizal berkomentar, museum Langsa itu sangat tepat menjadi destinasi wisata sejarah dan pusat kajian sejarah.

“Koleksi benda bersejarah yang dipamerkan di sini memiliki nilai, referensi yang kuat, dan dokumen yang dapat dipertanggungjawabkan,” kata dia memuji.

Kehadiran museum itu tampaknya diharapkan bisa membuat masyarakat menambah pengetahuan terkait sejarah Langsa maupun provinsi Aceh serta tidak melupakan peradaban Islam di provinsi berjuluk bumi Serambi Mekkah tersebut.

Peduli sejarah

Kepala Seksi Cagar Budaya dan Museum Dinas Pendidikan dan Kabudayaan (Disdikbud) kota Langsa, Riza Arizona mengatakan Museum Kota Langsa baru diresmikan pada 22 Januari 2019.

Museum Kota Langsa diharapkan menjadi destinasi wisata sejarah bagi masyarakat dan wisatawan di Aceh.

“Kita harapkan generasi muda yang datang peduli terhadap sejarah. Dengan begitu ke depan mereka akan sangat serius belajar sejarah sehingga mereka jadi mengetahui dan tidak pernah melupakan sejarah,” kata dia.

Ia mengatakan, pihaknya akan terus mengembangkan museum. Tidak hanya menampilkan gambar, benda, berserta deskripsinya tentang berbagai bukti sejarah namun juga akan menampilkan audio visualnya sehingga generasi muda lebih mudah memahami.

“Makanya dengan begitu kita membutuhkan dukungan dari pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Begitu juga untuk renovasi gedung ini agar terlihat lebih baik,” katanya.

Pada zaman kolonial, Balee Juang merupakan gedung dagang. Bangunan yang didirikan pada 1920 dan beralamat di jalan A Yani, Langsa, tersebut menjadi kantor perdagangan Hindia-Belanda.

Kemudian pascakemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), gedung itu juga pernah digunakan sebagai kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh Timur, sebelum daerah itu mekar dari Aceh Timur menjadi kota Langsa pada 2001.

“Sejalan dengan pergerakan kemerdekaan Indonesia gedung ini direbut oleh pejuang-pejuang kemerdekaan untuk dijadikan sebagai tempat perkumpulan para pejuang kemerdekaan pada masa itu,” katanya.

Menurut dia, di bangunan itu terjadi peristiwa bersejarah untuk Langsa ketika Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Setelah mendengar melalui radio, masyarakat langsung menghapus mata uang Belanda sebagai alat tukar.

Sembari menunggu dikeluarkannya mata uang Republik Indonesia, penguasa daerah masa itu menerbitkan Bon Kontan bernilai Rp100 dan Rp250 sebagai alat tukar. Uang itu dicetak pada 1949 di Balee Juang tersebut.

“Ini merupakan peristiwa sejarah di gedung ini, sejarah dicetaknya sebuah Bon Kontan yaitu mata uang Indonesia masa itu sebagai alat tukar, dan sampai sekarang masih kita simpan koleksi Bon Kontan di museum ini,” katanya.

Riza menjelaskan, ketika mekar dengan kabupaten Aceh Timur, kota Langsa terus berbenah. Dulunya Balee Juang itu di bawah kendali Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Langsa. Lalu pada 2017 berubah nomenklatur ke bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Langsa.

Pascaperubahan mandat itu dinas terkait langsung fokus mengelola gedung tersebut dengan mengisi gedung museum dengan berbagai macam koleksi benda bersejarah.

“Dari 2015 hingga 2017 kita melakukan pembelian koleksi, mengumpulkan beberapa bukti sejarah dari kolektor, sehingga pada 2019 setelah perubahan nomenklatur itu baru kita bisa meresmikan gedung ini sebagai museum kota Langsa,” katanya.

Dikatakan Riza, museum itu berisikan benda-benda menyangkut sejarah Aceh serta sejarah peradaban Islam.

Mulai dari peralatan rumah tangga hingga benda-benda kerajaan seperti keramik kuno, piring saladon, guro saladon dan sebagainya. Dan juga koleksi senjata perjuangan, perhiasan serta alat-alat yang digunakan masyarakat Aceh untuk mencari rezeki seperti langai dan cree.

“Termasuk kita lihat banyak naskah kuno, Alquran kuno, peralatan rumah tangga atau kerajaan, bon kontan, beberapa senjata yang digunakan para pejuang kolonial pada masa itu. Koleksi-koleksi ini ada yang kita beli, ada juga hibah dari kolektor,” katanya.

Wisata baru

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh juga sedang melakukan program pengembangan pariwisata baru di Aceh. Daerah paling barat Indonesia itu tidak lagi hanya mau mengandalkan destinasi wisata di Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar dan Kota Sabang.

Disebutkan Kabid Pengembangan Usaha Pariwisata dan Kelembagaan Disbudpar Aceh, Ismail, wisatawan nasional maupun luar negeri juga harus melihat tujuan wisata lainnya di Aceh dari sisi pantai barat, selatan, pantai timur Aceh serta wilayah Aceh bagian tengah.

“Tujuan kita untuk memperkenalkan destinasi wisata baru, selain yang selama ini dikenal seperti produk wisata di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang,” katanya.

Dia menjelaskan, selama ini Aceh hanya terkenal dengan keindahan Pulau Weh di Sabang, serta wisata sejarah yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar, sedangkan daerah-daerah lain belum tergarap.

Padahal daerah Serambi Mekkah itu sebenarnya memiliki lokasi-lokasi lain yang potensial, seperti ketika ke Langsa dan Aceh Tamiang. Tampaknya Aceh membutuhkan spot-spot wisata baru agar wisatawan tidak bosan ketika menyambanginya.

Karena itulah, para pelaku usaha pariwisata di Aceh sangat diharapkan bisa menciptakan paket wisata baru untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Aceh dengan dukungan Pemerintah Aceh.

Sumber: CNNIndonesia.com

Tags: langsamuseum kota langsa
Previous Post

Kesbangpol Aceh Gelar Hasil Kajian Capaian Penanganan Konflik di Bireuen

Next Post

Sofyan Djalil dan Sederetan Posisi Penting

Next Post
Sofyan Djalil dan Sederetan Posisi Penting

Sofyan Djalil dan Sederetan Posisi Penting

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

YARA Desak Pemkab Pidie Jaya Buka Kembali Lapangan Meureudu untuk UMKM

YARA Desak Pemkab Pidie Jaya Buka Kembali Lapangan Meureudu untuk UMKM

30/04/2026
Pernyataan Rampok Dana JKA, Jubir Pemerintah Aceh: Terlalu Semena-mena

Pernyataan Rampok Dana JKA, Jubir Pemerintah Aceh: Terlalu Semena-mena

30/04/2026
Bupati Abdya Dr. Safaruddin Tunjuk Mulya Arfan Jadi Plt Kepala Disdukcapil

Bupati Abdya Dr. Safaruddin Tunjuk Mulya Arfan Jadi Plt Kepala Disdukcapil

30/04/2026
Lima Murid SLBN Kota Langsa Wakili Gugus IV ke Provinsi di Ajang FLS3N

Lima Murid SLBN Kota Langsa Wakili Gugus IV ke Provinsi di Ajang FLS3N

30/04/2026
Siswa SMAN 1 Tapaktuan Juara Umum FLS3N Tingkat Kabupaten

Siswa SMAN 1 Tapaktuan Juara Umum FLS3N Tingkat Kabupaten

30/04/2026

Terpopuler

Rencana KNMP di Susoh Jadi Harapan Baru bagi Masyarakat Nelayan Palak Kerambil

Rencana KNMP di Susoh Jadi Harapan Baru bagi Masyarakat Nelayan Palak Kerambil

30/04/2026

Ribuan Warga di Banda Aceh Ubah Data Pekerjaan dari Wiraswasta ke Buruh Harian Lepas, Ada Apa?

Krak, ASDP Siapkan Wacana Rute Langsung Jakarta–Aceh

Waspada, Ada Penipuan dan Pemerasan Mengatasnamakan Pimpinan & Pegawai Kejari Abdya

Tulis Dua Belas Buku Sastra Aceh, Kepala MIN 32 Bireuen Raih Penghargaan

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com