Oleh : Roni Haldi
Sesungguhnya setiap orang punya potensi, baik atau jahat. Kecenderungan itu banyak pengaruh penyebabnya. Kawan pertemanan menentukan mempengaruhi, lingkungan sosial mewarnai pola hidup, keyakinan akan nilai dari organisasi atau komunitas juga turut mempengaruhi arah berfikir bertindak.
Kebaikan dan kejahatan ternyata telah Allah tetapkan dengan jelas tanpa keraguan. Yang meragukan itu adalah syubhat tapi masih berpotensi besar berubah arah pandang. Pengetahuan akan nilai dasar kebaikan atau kejahatan yang mendorong seseorang keluar jauh dari keraguan mengambil memutuskan sikap diri dalam kehidupan.
Kejahatan pasti dibenci siapa saja dan dimana pun. Tak ada yang menginginkan hadirnya kejahatan. Karena kejahatan mendatangkan keburukan. Yang diberi label jahat pun tak ingin keburukan dari kejahatan jatuh menimpa diri atau keluarganya. Pelaku kejahatan ternyata juga benci tak menginginkan dampak buruk ulah kejahatan.
Tahukah anda kejahatan sebenarnya? Allah menyampaikan dalam surat Yasin ayat 59 :
وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ.
Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir), “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, wahai orang-orang yang berbuat jahat (berdosa).
Kejahatan sebenarnya seseorang dalam hidupnya adalah ketika ia berbuat jahat kepada Allah Sang Pencipta. Pada hari kiamat kelak, para pelaku kejahatan mendapat perlakuan istimewa dari Allah. Tentunya kita heran, bukannya orang-orang yang berbuat baik sangat diistimewakan karena amalan shalihnya? Dalam tafsirnya Al Qur’an Al ‘Adzhim Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menyebutkan :”Pada hari itu para pelaku kejahatan diperlakukan istimewa sebagai penjelas pembeda dari orang-orang yang shalih amalnya.”
Apa sebab para pelaku kejahatan sebenarnya diperlakukan istimewa oleh Allah? Lihatlah bagaimana perlakuan Khalifah Al Ma’mun bertindak pongah memenjarakan Imam Ahmad bin Hanbal hanya dikarenakan kejahatan akal yang tak searah dengan Khalifah. Mihnah yang dihadapi pemilik Musnad tersebut dianggap suatu kejahatan sebenarnya pada masa itu. Demikian dicatatkan Omar Bakri Muhammad dalam bukunya Ahlus-Sinnah wal Jama’ah: Their Beilef, Attributes, And Qualified.
Tatkala Al Ma’mun merasa diri berkuasa atas segalanya. Kekuatan berkuasa dipakai memaksakan doktrin sesat kepada seluruh rakyatnya bahkan para Ulama. Imbasnya, setiap muncul penolakan saja akan dijawab dengan pemaksaan kehendak dan bahkan berujung kekerasan. Kebenaran ia ubah mudah menjadi kejahatan. Karena kekuatan kekuasaan diandalkan. Khalifah Al Ma’mun menggunakan legitimate-nya melegalkan segala tindakannya.
Kejahatan yang dituduhkan oleh Khalifah Al Ma’mun tentu tidaklah sama dengan apa yang dilakukan para pendosa terhadap Allah Ta’ala. Al Ma’mun justru bertindak berangkat dari pemahaman keliru yang dibungkus ketaatan dalam doktrin buta membalikkan fakta. Merasa diri paling berkuasa sehingga tak boleh ditentang keinginannya. Doktrin “Al Qur’an itu makhluk” dijadikan maklumat negara untuk diterapkan paksakan pada seluruh lapisan rakyatnya.
Ternyata, kejahatan itu akan sangat berpengaruh bukan hanya karena dampak buruk yang dirasakan. Suatu kejahatan akan tinggi nilai jahatnya tatkala diposisikan kejahatan itu terhadap siapa dilakukan. Ketika Allah sang pencipta dijadikan oleh hamba-Nya objek pelampiasan kejahatannya, sesungguhnya itulah kejahatan sebenarnya. Maka tak tak heran jika Allah mengistimewakan para pelaku kejahatan terhadap-Nya saat Yaumil hisab bukan penghargaan namun pembeda pemisah dari kebaikan.
Merupakan kebodohan tingkat tinggi, tatkala seorang hamba yang mendapat fasilitas hidup berlimpah tapi berani menjahati Allah Yang Maha Kuasa lagi Pemberi. Kalau pun mau dihitung, takkan sanggup membalasnya. Begitu banyak nikmat telah diberi-Nya.
Pantaskah kita lakukan kejahatan kepada Allah?
Contohlah Imam Ahmad bin Hanbal, punya pemahaman yang benar dan utuh terhadap nilai kebaikan lalu ditopang kuat oleh keberanian, sanggup memerdekakan jiwa dan dirinya dari kungkungan belenggu doktrin buta yang dipaksakan seakan akidah keimanan. Penulis Musnad yang terkenal itu lebih memilih dituduh dianggap jahat oleh sang Khalifah Al Ma’mun daripada menjahati Tuhannya yg juga Tuhan Al Ma’mun. Namun jiwa berkalang kotor dan diri diperbudak nafsu buruk akan betah terbiasa lagi nyaman dalam lingkungan kejahatan yang tampak seakan-akan penuh melimpah kebaikan.
Takutlah berbuat jahat kepada Allah. Pada hari akhir akan di pisah digolongkan sebagai “mujrim” pelaku kejahatan. Diistimewakan bukan sebagai bentuk penghormatan penghargaan tapi wasilah dipercepat hukuman. Jangan jahat Allah.








