Oleh : Naura Azkia, S.Tr.Keb*
Yakin masih asing dengan istilah stunting? Stunting masih menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan. Upaya menurunkan angka stunting terus dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, pemerintah, swasta, orang tua, bahkan anak muda.
Stunting adalah permasalahan gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam rentang waktu yang cukup lama, umumnya hal ini karena asupan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Permasalahan stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru akan terlihat ketika anak sudah menginjak usia dua tahun. Minimnya asupan gizi pada anak dapat mengancam kualitas hidup anak setelah dewasa.
Stunting menghambat perkembangan otak dan fisik, anak akan cenderung lebih mudah terserang penyakit, lemahnya kekebalan tubuh, menurunnya kemampuan kognitif yang dapat menggerus kecerdasan anak. Jika semua anak Indonesia mengalami stunting, maka hal ini dapat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa yang akan datang dan akan menghambat daya saing bangsa.
Indonesia diprediksi akan menghadapi bonus Demografi pada tahun 2030 mendatang, dimana penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan penduduk usia non produktif. Fenomena ini memberikan tantangan bagi kaum milenial untuk membuka mata lebar dan ikut berperan dalam mencegah stunting.
Beberapa kajian kesehatan masyarakat menyebutkan bahwa Generasi Milenial adalah new messengers for public health di dunia. Milenial diharapkan mampu mengasah keterampilan, memiliki kreatifitas, dan inovasi demi bertahan menghadapi persaingan yang ada. Seiring dengan perkembangan zaman dan revolusi 4.0 jika negara tidak memiliki sumber daya yang berkualitas, bisa-bisa posisi manusia akan digantikan oleh internet dan robot.
Yang harus dilakukan milenials Indonesia untuk memerangi stunting yang pertama adalah menjaga kesehatan diri sendiri dengan olahraga, makanan sehat dengan gizi seimbang, perlu diketahui bahwa faktor penyebab stunting bukan hanya kurangnya asupan gizi pada 1000 HPK, namun bisa jadi sang ibu juga merupakan anak stunting, untuk itu jaga kebersihan lingkungan, sanitasi, tidak merorok dan tidak menggunakan obat-obatan terlarang, agar anak-anak yang dihasilkan dapat tumbuh menjadi anak sehat, dan ceria. yang kedua mempersiapkan diri untuk menjadi anggota keluarga yang mandiri secara sosial maupun ekonomi dengan pendidikan dan pekerjaan; yang ketiga menyiapkan diri menjadi orang tua, yang terakhir pemuda bisa berperan aktif dalam pencegahan stunting dengan menjadi peer educator, memberi edukasi dan informasi kepada temen sebaya.
Saat ini kita masih menghadapi pandemic covid 19 yang membatasi pergerakan, namun kita dipaksa keadaan untuk mampu beradaptasi dan survive walaupun tantangan semakin sulit. Kaum milenial adalah harapan, penggerak dan pendongkrak kehidupan bangsa. Milenial jangan hanya menjadi kaum rebahan, tapi juga harus pintar dalam mengedukasi dan menjadi contoh bagi sanak famili. Hampir seluruh kaum milenial memiliki gawai/gadget, namun sangat disayangkan penggunaan gadget yang bijak masih sangat kurang, kaum milenial lebih sering menggunakan gadget untuk menemani rebahan dan scroll konten yang kurang bermanfaat. Ini saatnya milenials melakukan perubahan dengan manfaatkan gadget untuk hal positif dalam mempromosikan Kesehatan dan juga menyalurkan hobi, milenials bisa memanfaatkan gadget dan media sosial untuk membuat konten olahraga, edukasi personal hygiene, memasak makanan yang bergizi, dsb. Ajak masyarakat untuk mencintai pola hidup sehat, selain konten yang dibuat bermanfaat untuk orang banyak, konten yang diposting di media sosial juga bisa menjadi sumber rezeki loh.
“Pandemi ini mungkin alih generasi, bersiaplah untuk mengisi”. Tetap semangat dalam berkarya sahabat milenials .
*Penulis adalah Mahasiswi Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala









