BLANGPIDIE – Transisi Era New Normal pandemi seperti saat sekarang ini, para petani di Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh pada umumnya tengah resah. Betapa tidak, pada awal tahu 2022 ini membuat hasil panen cabai petani anjlok harganya.
Seperti curhatan salah seorang petani cabai di Kabupaten Abdya, H. Mukhlis MS, MA saat dijumpai awak media ini di kebun tempatnya menam tanaman hortikultura itu, Minggu (16/01/2022).
“Hanya pertengahan Desember 2021 kemarin pas panen perdana kita bisa menjual cabai dengan harga 20 ribu rupiah. Namun, setelah masuk tahun baru 2022 hingga hari ini harga cabai yang kami jual dengan harga 10 ribu sampai 12 ribu rupiah,” kata Mukhlis.
Meskipun demikian, Mukhlis tetap optimis akan usaha pertanian yang sedang ia geluti itu.
“Sebagian besar petani cabai telah memilih untuk menelantarkan lahan hingga membakar tanaman cabai tersebut akibat anjloknya harga sampai ke titik terendah. Kita dari kelompok tani Meurante Hortikultura Abdya lebih memilih tetap merawat tanaman dengan melakukan penyiangan, mudah mudahan kedepan kita harapkan harga akan membaik,” asanya.
Mukhlis juga berharap kepada pihak pemerintah atau instansi terkait untuk dapat mengambil langkah-langkah atau solusi atas persoalan yang sedang dihadapi para petani cabai.
“Di masa pandemi yang membatasi banyak mobilitas masyarakat, salah satu produksi pertanian yang dapat dilakukan adalah budidaya cabai.Diperlukan cara penanganan panen cabai yang baik, hingga proses pengolahan hasil cabai, sehingga cabai tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi berupa produk olahan yang memiliki masa simpan panjang, nilai tambah, dan daya saing,” papar Mukhlis MS atau yang sering disapa Ustad.
Ia melanjutkan. Disinilah selayaknya instansi terkait bekerja sama dengan pemerintah daerah dapat melakukan strategi intervensi untuk menjamin ketersediaan pangan dan menjaga stabilitas harga melalui pengembangan olahan cabai, berupa simplisia atau bubuk cabai.
“Kegiatan ekonomis yang diawali dengan melatih petani atau masyarakat untuk melakukan proses pengeringan cabai segar menggunakan sinar matahari atau oven menjadi simplisia cabai. Mungkin itu salahsatu solusi dari problem yang sedang dihadapi petani,” ungkapnya.
Sambungnya lagi, Cabai adalah produk yang tidak bisa disimpan dalam jangka waktu lama, maka akan sangat rentan terjadi fluktuasi harga yang sangat cepat dan bisa memicu terjadinya inflasi di suatu daerah.
“Langkah selanjutnya pihak pemerintah untuk dapat mendorong petani atau UMKM untuk pengolahan cabai kering menjadi bubuk cabai bisa menjadi kebijakan alternatif, tentunya diharapkan dapat mengantisipasi murahnya harga cabai selama masa surplus dan menjamin kebutuhan industri,” katanya.
Karena cabai kering untuk kebutuhan industri tetap saja berasal dari cabai segar yang dikeringkan, sehingga yang paling penting dilakukan adalah membuka akses pengetahuan hingga pasar petani yang terbatas, dengan membuka kerja sama petani dengan industri pengguna.
“Dengan kualitas mutu dan pengemasan yang menarik dalam produksi bubuk cabai, abon, dan aneka bumbu, proses diversifikasi dan ketersediaan pangan bisa tercapai dan menambah penghasilan petani dari kegiatan off farm,” pungkasnya.
Reporter: Rusman







