Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Lintas Barat Selatan

Harga Cabai Anjlok, Petani di Aceh Berharap Ada Solusi dari Pemerintah

Atjeh Watch by Atjeh Watch
16/01/2022
in Lintas Barat Selatan
0

BLANGPIDIE – Transisi Era New Normal pandemi seperti saat sekarang ini, para petani di Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh pada umumnya tengah resah. Betapa tidak, pada awal tahu 2022 ini membuat hasil panen cabai petani anjlok harganya.

Seperti curhatan salah seorang petani cabai di Kabupaten Abdya, H. Mukhlis MS, MA saat dijumpai awak media ini di kebun tempatnya menam tanaman hortikultura itu, Minggu (16/01/2022).

“Hanya pertengahan Desember 2021 kemarin pas panen perdana kita bisa menjual cabai dengan harga 20 ribu rupiah. Namun, setelah masuk tahun baru 2022 hingga hari ini harga cabai yang kami jual dengan harga 10 ribu sampai 12 ribu rupiah,” kata Mukhlis.

Meskipun demikian, Mukhlis tetap optimis akan usaha pertanian yang sedang ia geluti itu.

“Sebagian besar petani cabai telah memilih untuk menelantarkan lahan hingga membakar tanaman cabai tersebut akibat anjloknya harga sampai ke titik terendah. Kita dari kelompok tani Meurante Hortikultura Abdya lebih memilih tetap merawat tanaman dengan melakukan penyiangan, mudah mudahan kedepan kita harapkan harga akan membaik,” asanya.

Mukhlis juga berharap kepada pihak pemerintah atau instansi terkait untuk dapat mengambil langkah-langkah atau solusi atas persoalan yang sedang dihadapi para petani cabai.

“Di masa pandemi yang membatasi banyak mobilitas masyarakat, salah satu produksi pertanian yang dapat dilakukan adalah budidaya cabai.Diperlukan cara penanganan panen cabai yang baik, hingga proses pengolahan hasil cabai, sehingga cabai tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi berupa produk olahan yang memiliki masa simpan panjang, nilai tambah, dan daya saing,” papar Mukhlis MS atau yang sering disapa Ustad.

Ia melanjutkan. Disinilah selayaknya instansi terkait bekerja sama dengan pemerintah daerah dapat melakukan strategi intervensi untuk menjamin ketersediaan pangan dan menjaga stabilitas harga melalui pengembangan olahan cabai, berupa simplisia atau bubuk cabai.

“Kegiatan ekonomis yang diawali dengan melatih petani atau masyarakat untuk melakukan proses pengeringan cabai segar menggunakan sinar matahari atau oven menjadi simplisia cabai. Mungkin itu salahsatu solusi dari problem yang sedang dihadapi petani,” ungkapnya.

Sambungnya lagi, Cabai adalah produk yang tidak bisa disimpan dalam jangka waktu lama, maka akan sangat rentan terjadi fluktuasi harga yang sangat cepat dan bisa memicu terjadinya inflasi di suatu daerah.

“Langkah selanjutnya pihak pemerintah untuk dapat mendorong petani atau UMKM untuk pengolahan cabai kering menjadi bubuk cabai bisa menjadi kebijakan alternatif, tentunya diharapkan dapat mengantisipasi murahnya harga cabai selama masa surplus dan menjamin kebutuhan industri,” katanya.

Karena cabai kering untuk kebutuhan industri tetap saja berasal dari cabai segar yang dikeringkan, sehingga yang paling penting dilakukan adalah membuka akses pengetahuan hingga pasar petani yang terbatas, dengan membuka kerja sama petani dengan industri pengguna.

“Dengan kualitas mutu dan pengemasan yang menarik dalam produksi bubuk cabai, abon, dan aneka bumbu, proses diversifikasi dan ketersediaan pangan bisa tercapai dan menambah penghasilan petani dari kegiatan off farm,” pungkasnya.

Reporter: Rusman

Previous Post

Gubernur Riau Apresiasi Nova Terkait Penerapan Perbankan Syariah di Aceh

Next Post

Pabrik Es Tidak Berfungsi, Pengepul Ikan Menderita di Kepulauan Banyak

Next Post

Pabrik Es Tidak Berfungsi, Pengepul Ikan Menderita di Kepulauan Banyak

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

TP PKK Aceh Dorong Pelajar Pulau Banyak Manfaatkan Potensi Wisata

4 Pulau di Singkil Masih ‘Terlantar’ Usai Sengketa dengan Sumut

19/01/2026
Stok Beras di Aceh Capai 30 Ribu Ton Cukup hingga Idul Fitri

Dirut Bulog Pastikan Stok Beras di Aceh Cukup hingga Lebaran 2026

19/01/2026
Pusat Bantu ‘Uang Sewa’ 4 Kantor Pertanahan Terdampak Banjir di Aceh

Pusat Bantu ‘Uang Sewa’ 4 Kantor Pertanahan Terdampak Banjir di Aceh

19/01/2026
TKD untuk Aceh dan Sumatera Tidak Dipotong, Komisi II: Percepat Penanganan Pascabencana

TKD untuk Aceh dan Sumatera Tidak Dipotong, Komisi II: Percepat Penanganan Pascabencana

19/01/2026
Gampong Lamreung Darul Imarah Gelar Tradisi Toet Apam

Gampong Lamreung Darul Imarah Gelar Tradisi Toet Apam

19/01/2026

Terpopuler

Indikasi Korupsi SDA di Aceh Selatan Menguat, Alamp Aksi Desak KPK dan Kejagung Turun Tangan

Indikasi Korupsi SDA di Aceh Selatan Menguat, Alamp Aksi Desak KPK dan Kejagung Turun Tangan

18/01/2026

PSMS Siap ‘Curi’ Poin dari Persiraja di Banda Aceh

Persiraja ‘Keok’ di Murthala 2-1 Versus PSMS Medan

Harga Cabai Anjlok, Petani di Aceh Berharap Ada Solusi dari Pemerintah

4 Pulau di Singkil Masih ‘Terlantar’ Usai Sengketa dengan Sumut

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com