Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

[Opini] Regenerasi Petani di Negeri Agraris

Admin1 by Admin1
31/08/2023
in Opini
0
[Opini] Regenerasi Petani di Negeri Agraris

Oleh Tarmidhi, S.ST, M.Si. Penulis adalah Kepala SMK Negeri 2 Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat.

PRESIDEN RI Pertama, Ir. Soekarno pada tahun 1952 pernah memberi akronim pada kata “Petani” sebagai Penyangga Tatanan Negara Indonesia.

Kepanjangan tersebut tentu untuk menggambarkan betapa pentingnya peran petani bagi bangsa yang menepuk dada sebagai negara agraris terbesar di dunia ini. Istilah penyangga berarti sandaran sedangkan istilah tatanan berarti sistem.

Jadi, bagi Indonesia dalam makna yang ingin tabalkan sang founding father terhadap petani adalah tanpa mereka negara ini tidak akan mungkin dapat berdiri kokoh.

Memang tak dapat dinafikan, dalam konteks bernegara tidak akan ada yang namanya ketahanan nasional  tanpa ketahanan pangan, dan tidak mungkin ada ketahanan pangan tanpa petani.

Uniknya petani memiliki peran ganda selain sebagai produsen ia turut pula menjadi bahagian dari konsumen.

Sehingga wajar menjadi kelompok yang paling berpengaruh dalam konteks kebangsaan yang lebih luas.

Sayangnya hingga saat tulisan ini dirilis kita belum tahu hingga kapan peran penting petani ini mampu mengantarkan mereka berada pada strata profesi paling dipentingkan sehingga menempatkan mereka pada kasta kehidupan yang paling dihormati di negeri ini.

Jika pada perayaan hari tani (24 September) kali ini kita masih berkutat pada debat kusir peningkatan kesejahteraan petani dengan segudang problematikanya maka tepuklah jidat, tanya kenapa?

Apabila yang dijadikan sebagai titik nol perhitungan kinerja bangsa ini dalam membangun sektor pertanian adalah Hari Proklamasi Kemerdekaan (17 Agustus 1945), maka kita sedang di usia ke 78 tahun yang cukup dewasa (kalau tidak ingin disebut tua) menurut ukuran umur manusia.

Kira-kira dari sederet masalah yang pernah berjejer diantara problem kebangsaan di bidang pertanian, mana yang sekarang bisa kita keluarkan dari list inventarisasi karena telah berhasil kita tuntaskan.

Ada persoalan pemilikan lahan, kepatutan atau keberpihakan harga (jual dan produksi), kelangkaan saprodi, jaminan kesejahteraan, pemberdayaan SDM, dan seterusnya yang pada akhirnya menghadapkan kita pada satu ancaman serius yakni lemahnya regenerasi petani.

Secara purata usia petani Indonesia saat ini 55 tahun ke atas, sementara minat generasi muda terhadap sektor ini semakin tergerus.

Sebetulnya nyaris tidak perlu sama sekali program stimulus untuk mencetak generasi petani seperti petani milenial, wirausaha tani, dan sejenisnya jika kita berhasil memoles citra bahwa profesi tani memiliki gengsi dan pendapatan yang tinggi seperti halnya profesi dokter, enjiner, birokrat, teknokrat, dan sebagainya yang sudah terlebih dahulu mentereng.

Sayangnya hingga kini potret petani masih identik dengan bau lumpur, wangi tengik matahari, sarang kemiskinan, kaum tertindas,  tanpa masa depan yang prospektif, hingga menjadi objek politik yang terus dijual dari kampanye ke kampanye. Akhirnya ketika profesi ini sepi peminat dianggap wajar.

Dalam banyak kesempatan penulis mencoba menggali minat generasi muda terhadap penerus petani mulai dari level sekolah umum hingga kejuruan, perguruan tinggi negeri hingga swasta, bahkan institusi pendidikan yang secara spesifik di bidang pertanian sekalipun jika punya pilihan lain diluar pertanian maka sektor pertanian bukanlah menjadi ekspektasinya.

Orang tua dengan profesi seorang petani sekalipun tidak ingin anaknya menjadi petani. Bahkan tidak jarang kita temukan statement dari keluarga petani “sekolahlah nak, supaya tidak jadi petani seperti bapak.”

Harusnya penekanan terhadap statement seperti ini bukan di “supaya tidak jadi petani” nya melainkan pada “petani seperti bapak.” Sehingga generasi petani menjadi terarah kepada perbaikan sistem bertani bukan malah stop bertani.

Andai saja bangsa ini sadar akan potensi besar yang dikandungnya, maka ia pasti akan kembali bertransformasi menjadi bangsa petani yang meletakkan pertanian sebagai sektor utama pembangunannya.

Jika itu terjadi tentu bukan persoalan dengan regenerasi petani. Karena mindset dan lifestyle sebagai petani telah menjadi identitas resmi bangsa ini.

Bayangkan jika bangsa ini maju bersama pertaniannya, dimana bangsa-bangsa di dunia menggantungkan harapan pemenuhan kebutuhan domestik mereka dari suplai sumber makanan dan bahan baku industri dari negara kita.

Tukisan ini setidaknya bisa mencerahkan bagi SMK yang ada di Provinsi Aceh. Tentunya kemerdekaan ini terasa lebih hakiki, berdaulat dan berwibawa. Semoga!

Previous Post

UIN Raden Fatah Bersama Kejaksaan Tinggi Sumsel Gelar Kuliah Iftitah dan Tandatangani MoU

Next Post

Syech Fadhil Silaturahmi dengan Seniman Seumapa Aceh, Ada Apa?

Next Post
Syech Fadhil Silaturahmi dengan Seniman Seumapa Aceh, Ada Apa?

Syech Fadhil Silaturahmi dengan Seniman Seumapa Aceh, Ada Apa?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Warga Pidie Gugat Pergub JKA ke MA: 692 Ribu Orang Terancam Kehilangan Layanan Gratis

Warga Pidie Gugat Pergub JKA ke MA: 692 Ribu Orang Terancam Kehilangan Layanan Gratis

28/04/2026
Bupati Dorong Gampong di Pulo Aceh Lebih Aktif Usulkan Program untuk Warga

Bupati Dorong Gampong di Pulo Aceh Lebih Aktif Usulkan Program untuk Warga

28/04/2026
Pemkab Aceh Timur Ajak Masyarakat Bijak Sikapi Informasi dan Dukung Program Pemda

Pemkab Aceh Timur Ajak Masyarakat Bijak Sikapi Informasi dan Dukung Program Pemda

28/04/2026
HUT ke-27 Aceh Singkil, Wagub Aceh Tekankan Sinergi untuk Percepatan Pembangunan

HUT ke-27 Aceh Singkil, Wagub Aceh Tekankan Sinergi untuk Percepatan Pembangunan

28/04/2026
167 Peserta Ikuti Seleksi Kesehatan Paskibra Aceh Besar

167 Peserta Ikuti Seleksi Kesehatan Paskibra Aceh Besar

28/04/2026

Terpopuler

Krak, ASDP Siapkan Wacana Rute Langsung Jakarta–Aceh

Krak, ASDP Siapkan Wacana Rute Langsung Jakarta–Aceh

25/04/2026

Dana Desa Rp.450 Juta Digerus, Keuchik Lancang Pidie Jaya Berakhir di Rutan

Pesantren Al Zahrah Bireuen Siap Jadi Tuan Rumah LP3 se-Aceh dan Sumut

Meriahkan HUT ke-24, Abdya Gelar Kejurprov Grasstrack & Motocross IMI Aceh Seri 2025

Aktivis HAM Aceh: Pemerintah Tinjau Ulang Kebijakan Yang Tidak Pro Rakyat

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com